Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Apa Itu Looksmaxxing? Tren Viral yang Bisa Bahayakan Mental

Vina Oktiani - wolipop
Selasa, 10 Mar 2026 13:16 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Ilustrasi Media Sosial
Foto: Getty Images/iStockphoto/Kar-Tr
Jakarta -

Belakangan ini media sosial diramaikan dengan tren baru bernama looksmaxxing. Tren ini banyak dibicarakan terutama di kalangan pria muda yang ingin memaksimalkan penampilan mereka agar terlihat lebih menarik.

Sekilas, looksmaxxing terdengar seperti upaya memperbaiki diri. Namun para ahli kesehatan mental memperingatkan bahwa tren ini bisa memicu standar kecantikan yang tidak realistis serta berdampak buruk bagi kesehatan mental.

Apa Itu Looksmaxxing?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir Healthline, looksmaxxing adalah tren yang mendorong seseorang untuk mengoptimalkan penampilan fisik agar mendekati standar wajah dan tubuh yang dianggap ideal. Biasanya tren ini beredar di media sosial, terutama di forum atau komunitas yang fokus membahas cara menjadi lebih menarik secara fisik. Mulai dari perawatan diri sederhana hingga prosedur kosmetik ekstrem kerap disarankan dalam tren ini.

Sebagian orang menganggap looksmaxxing sebagai bentuk self-improvement atau pengembangan diri. Namun menurut para pakar, tren ini sering kali didorong oleh rasa tidak percaya diri dan perasaan tidak cukup baik.

ADVERTISEMENT

Jason Fierstein, konselor sekaligus pendiri Phoenix Men's Counseling, bahkan menyebut looksmaxxing sebagai tren body dysmorphia yang dipicu media sosial. Menurutnya, banyak pria muda yang akhirnya merasa harus terus memperbaiki penampilan karena merasa tidak cukup menarik atau tidak sesuai dengan standar yang mereka lihat di internet.

Perbedaan Looksmaxxing, Softmaxxing, dan Hardmaxxing

Dalam tren ini, terdapat beberapa istilah lain yang sering muncul, yaitu softmaxxing dan hardmaxxing.

1. Softmaxxing

Softmaxxing adalah cara meningkatkan penampilan melalui perubahan yang relatif ringan. Contohnya:
• Rutinitas skincare
• Merawat rambut dan jenggot
• Olahraga dan diet
• Memperbaiki gaya berpakaian

Perubahan ini biasanya berkaitan dengan gaya hidup dan perawatan diri sehari-hari.

2. Hardmaxxing

Sementara itu, hardmaxxing mengacu pada metode yang jauh lebih ekstrem untuk mengubah penampilan, seperti, operasi hidung, botox, transplantasi rambut, dan operasi rahang atau dagu. Beberapa tren ekstrem bahkan dianggap berbahaya, misalnya praktik memukul wajah untuk mengubah bentuk tulang.

3. Looksmaxxing

Looksmaxxing sendiri merupakan konsep besar yang mencakup berbagai metode tersebut. Tujuannya adalah mengoptimalkan penampilan hingga mencapai standar wajah atau tubuh tertentu yang dianggap ideal.

Mengapa Tren Ini Populer di Kalangan Pria Muda?

Menurut para ahli, tren ini banyak menarik perhatian remaja dan pria muda karena mereka masih berada dalam fase mencari jati diri.

Pada masa ini, banyak pria mencoba memahami seperti apa gambaran maskulinitas yang dianggap "benar". Media sosial kemudian menghadirkan standar tertentu tentang bagaimana pria seharusnya terlihat.

Selain itu, tren ini juga disebut berkaitan dengan budaya internet tertentu yang membahas maskulinitas dan hubungan dengan perempuan.

Faktor lain yang membuat tren ini berkembang adalah meningkatnya rasa kesepian dan masalah kesehatan mental di kalangan pria muda. Dalam kondisi tersebut, mereka bisa lebih mudah terpengaruh oleh tren yang menjanjikan perubahan besar pada penampilan.

Risiko bagi Kesehatan Mental

Para pakar menekankan bahwa tidak ada yang salah dengan merawat diri atau ingin tampil menarik. Merawat penampilan bahkan bisa membantu meningkatkan rasa percaya diri.

Namun masalah muncul ketika keinginan tersebut berubah menjadi obsesi.

Jika seseorang terus merasa penampilannya tidak pernah cukup baik, mereka bisa terjebak dalam siklus membandingkan diri dengan orang lain dan merasa tidak percaya diri.

Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko memicu body dysmorphia, kecemasan berlebih, rasa tidak puas terhadap tubuh, perilaku ekstrem untuk mengubah penampilan. Karena itu, para ahli menyarankan agar fokus pada kesehatan mental dan penerimaan diri tetap menjadi prioritas, bukan sekadar mengejar standar penampilan yang belum tentu realistis di media sosial.

(vio/vio)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads