Tren Pemakaian Ganja di Dunia Kecantikan yang Masih Jadi Kontroversi

Hestianingsih - wolipop Selasa, 30 Apr 2019 12:10 WIB
Ilustrasi daun ganja. Foto: Thinkstock Ilustrasi daun ganja. Foto: Thinkstock

Jakarta - Daun ganja sudah mulai dilegalkan (dengan sejumlah syarat dan ketentuan) untuk keperluan medis di Kanada dan beberapa negara bagian Amerika Serikat. Hadir dalam bentuk CBD oil atau minyak terbuat dari ekstrak ganja, tanaman ini digadang-gadang mampu mengatasi berbagai masalah kesehatan.

Mulai dari meredakan kecemasan, mengatasi insomnia, hingga mengobati nyeri dan pegal-pegal. CBD merupakan kepanjangan dari cannabidiol, sebuah senyawa kimia non-psikoaktif. Cannabidiol dapat diekstraksi dari cannabis sativa plant, atau lebih dikenal dengan sebutan tanaman ganja.

Dalam tanaman ganja sebenarnya terdapat dua senyawa, yakni CBD dan Tetrahydrocannabino (THC). Peneliti ganja Joshua Kaplan menjelaskan bahwa CBD dan THC memberikan dampak berbeda bagi tubuh meskipun berasal dari tanaman yang sama.


Disebutkan bahwa senyawa THC-lah yang memberikan efek 'high' ketika dikonsumsi. Sementara CBD mengaktifkan serotonin yang dapat mengatasi kecemasan dan diklaim tidak membuat mabuk.
Tren Pemakaian Ganja di Dunia Kecantikan yang Masih Jadi KontroversiFoto: istimewa

Setelah jadi terobosan baru dalam dunia kesehatan, kini penggunaan CBD oil merambah ke industri kecantikan. CBD oil sempat diramalkan akan jadi tren kecantikan di 2019. Benar saja, kini mulai banyak bermunculan produk kosmetik maupun perawatan kulit yang menggunakan minyak ekstrak ganja.

Claudia Mata, pendiri brand kecantikan Vertly mengungkapkan beberapa manfaat CBD oil untuk kulit.


"Mengandung properti anti peradangan, vitamin A, D dan E, serta asam lemak," kata Claudia, seperti dikutip dari Allure.

Sejumlah ilmuan juga menemukan bahwa CBD oil berkhasiat merawat kulit kering, psoriasis dan eczema. Umumnya produk kecantikan berbahan CBD oil hadir dalam bentuk krim wajah, serum dan losion.
Tren Pemakaian Ganja di Dunia Kecantikan yang Masih Jadi KontroversiFoto: istimewa

Penggunaan CBD oil sempat diterapkan Sephora dalam koleksi skincare pada September 2018. Produk mereka yang bernama High Expectations menjadi skincare pertama yang terang-terangan mengungkapkan ada kandungan ganja di dalamnya.

Lalu ada Saint Jane Beauty yang meluncurkan lip gloss mengandung CBD, dan Necessary Luxury memperkenalkan spray aromaterapi yang juga berbahan minyak ganja. Masuk ke pasar yang lebih massal, retailer barang mewah Neiman Marcus pun menjual berbagai brand dengan produk mengandung CBD oil.
Tren Pemakaian Ganja di Dunia Kecantikan yang Masih Jadi KontroversiFoto: istimewa


"Brand kecantikan berbasis ganja mulai meningkat popularitasnya dan produk-prodduk CBD akan menjadi tren besar di dunia kecantikan. Neiman Marcus pun berencana terus menambah varian produk CBD dan menawarkan pada pelanggan tren kecantikan terbaru dan terbaik," ujar Kim D'Angelo dari divisi kecantikan Neiman Marcus dalam pernyataannya, dilansir Fashion United.

Terlepas dari tren kecantikan mengandung CBD oil yang mulai meluas, penggunaan ganja secara bebas masih jadi perdebatan. Sementara sudah 33 negara bagian Amerika Serikat yang melegalkan ganja untuk keperluan medis, masih banyak negara lain, terutama di Asia, yang masih mempertanyakan legalitasnya. Di Indonesia sendiri, ganja termasuk dalam kategori narkotika dan penyebarannya ilegal. (hst/hst)