Seniman Ini Bikin Sabun Terbuat dari Lemak Manusia

Hestianingsih - wolipop Kamis, 08 Nov 2018 07:16 WIB
Ilustrasi sabun mandi. Foto: Getty Images
Adelaide - Bagaimana jadinya jika seorang seniman membuat sabun mandi? Tentunya yang dihasilkan bukan sabun mandi biasa, tapi sabun sarat makna dan kritik sosial.

Seniman Julian Hetzel menciptakan instalasi seni lain dari biasanya. Pria asal Belanda ini membuat sabun yang terbuat dari lemak manusia. Lemak diambil dari pasien yang telah melakukan liposuction atau sedot lemak.

Proyek yang ia beri nama Schuldfabrik ini adalah bentuk kritik sosial Julian terhadap perilaku masyarakat modern yang kerap dinaungi rasa bersalah dan utang. Lemak dari hasil liposuction tersebut merupakan simbol dari rasa bersalah itu, yang kemudian diubahnya menjadi sesuatu yang lebih berguna, yakni sabun.

Seni instalasi karya Julian akan dipamerkan di toko dan pabrik pop-up selama perhelatan Adelaide Festival, Australia, 1-17 Maret 2019. Pengunjung pameran bisa memakai sabun terbuat dari lemak manusia ini untuk cuci tangan. Sabun juga tersedia jika ada yang berminal membelinya.

Instalasi juga akan menampilkan penyedotan lemak dari tubuh pasien, sekaligus proses pembuatan hingga menjadi sabun. Untuk membuat karya tak biasa ini, Julian bekerja sama dengan para dokter bedah plastik di Belanda.

Julian juga berhasil meyakinkan sejumlah pasien agar mau mendonasikan lemak yang telah disedot untuk proyek ini. Dari donasi tersebut, ia telah menghasilkan 300 kg sabun.
Seniman Ini Bikin Sabun Terbuat dari Lemak ManusiaSabun terbuat dari lemak manusia karya seniman Julian Hetzel. Foto: dok. Ben and Martin Photography, Jenny Cremer

"Bukan 100 persen terbuat dari lemak manusia. Kami berkolaborasi dengan produsen sabun dan dia menyarankan untuk membuat campuran dari berbagai jenis lemak dan minyak untuk menghasilkan produk berkualitas tinggi yang bisa melembapkan dan punya semua komponen produk sabun yang benar-benar bagus," cerita Julian, seperti dikutip dari Metro.co.uk.

Dalam prosesnya, Julian memang mengalami sejumlah kendala. Ada dilema tentang masalah keamanan dari menggunakan sabun yang mengandung lemak manusia, secara legal maupun etika. Faktor kesehatan juga jadi pertimbangan penting saat Julian dan produsen sabun yang bekerjasama dengannya membuat karya ini.

"Kami berkolaborasi dengan institut kebersihan dan mereka menyarankan kami bagaimana memurnikan bahan tersebut, karena kami harus memastikan tidak ada bakteri atau virus di dalam lemak, jadi kamu harus mengolahnya pada temperatur yang sangat tinggi dalam durasi tertentu untuk membunuh semua virus," jelasnya.

Julian pun menerangkan bahwa karyanya bukan sekadar sabun untuk membersihkan badan. Tapi sebuah karya seni.

"Kami memutuskan memilih lemak sebagai material seni yang merepresentasikan rasa bersalah atau menandung rasa bersalah itu dan untuk memahami, apakah ini bisa digunakan sebagai sumber daya? Bisakah kita menggunakan rasa bersalah ini sebagai sesuatu yang produktif? Bisakah kita mendapat keuntungan dari rasa bersalah kita sendiri? Bagaimana menghasilkan uang dari rasa bersalah," urainya.

Sabun buatan Julian dijual dengan harga USD 32, dan hasilnya akan didonasikan untuk pembangunan saluran air di Republik Congo. (hst/eny)