Tren Pria Berjenggot
Tren Jenggot Tebal: dari Hipster, Selebriti Hingga Kondisi Ekonomi
"Clean shaved is so yesterday, now it's time for the rise of bearded men". Ungkapan itu rasanya tepat untuk menggambarkan tren gaya di kalangan pria saat ini. Sejak Desember 2014 tepatnya, kemunculan pria-pria berjenggot dan berkumis banyak terlihat baik di media massa, tempat umum maupun cafe serta restoran di mana banyak anak muda suka hangout.
Pria dengan rambut wajah yang lebat, pun dinilai banyak wanita sebagai sosok yang lebih atraktif ketimbang pria bewajah licin. Survei yang dilakukan situs perjodohan My Single Friend mengungkapkan, 80 persen wanita di Inggris menganggap pria berkumis dan berjanggut terkesan menyenangkan, loyal dan berjiwa petualang. Sementara jajak pendapat yang diadakan surveyer marketing OnePoll menunjukkan, bagi 56 persen wanita, rambut pada wajah pria merupakan pendorong kuat rangsangan seksual bagi lawan jenisnya.
Booming pria yang memelihara jenggot dan kumis tebal sedikit banyak dipengaruhi oleh budaya hipster yang pertamakali muncul pada era '40-an. Secara harfiah, hipster berarti seseorang yang menolak segala bentuk budaya populer dan umum di masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara singkat, hipster merupakan sebuah --bisa dibilang-- subkultur 'anti mainstream' karena ingin terlihat berbeda dan tidak mau terbawa arus 'keseragaman'. Seiring berjalannya waktu, tepatnya di era 2000-an, 'pelaku' hipster sebagian besar adalah kalangan anak mda di kota urban yang seolah 'anti' kemapanan.
Budaya hipster ini kemudian juga memengaruhi fashion dan gaya secara keseluruhan. T-shirt bernada provokatif, gaya retro, topi fedora, baseball cap, kemeja yang dikancingkan hingga atas, kacamata berbingkai lebar, jenggot serta kumis pun seolah menjadi identitas atau ciri khas kalangan (atau yang mengaku) hipster.
Dua tahun belakangan, pemahaman tentang hipster seolah bergeser. Bukan lagi budaya 'anti kemapanan', tapi menjadi sebuah tren yang memiliki banyak 'pengikut', yang, akhirnya justru menjadi mainstream. Fenomena yang paling terlihat adalah tren memelihara jenggot dan kumis di kalangan pria. Kini banyak terlihat para pria berjalan dengan kemeja yang dikancingkan penuh, berkacamata, memakai topi dan rambut-rambut tebal di wajahnya.
"Merz Apothecary di Chicago, perusahaan farmasi yang telah 139 tahun berdiri telah menjual habis produk perawatan jenggot di akhir pekan menjelang Black Friday (hari Thanksgiving)," tulis Lauren Silva Laughlin untuk Majalah Fortune.
Tren ini semakin marak dengan 'dukungan' selebriti pria yang juga memelihara jenggot serta kumis. Sebut saja David Beckham, Jake Gyllenhaal, Leonardo DiCaprio, Ben Affleck, James Franco, Ryan Gosling, Tobey Maguire hingga Robert Pattinson yang kini tampil dengan kumis maupun jenggot.
"Di tahun 1970 muncul tren kumis melengkung. Di era '80-an modelnya kumis Magnum (tebal dan lurus di sepanjang atas bibir). Di era 90-an kita lihat banyak pria berwajah licin dan bersih, dan kini jenggot serta kumis tebal kembali tren," ujar Profesor Rob Brooks, yang mengadakan penelitian tentang jenggot pria, seperti dikutip dari BBC.
Selain karena faktor budaya dan pengaruh selebriti, tren memelihara jenggot dan kumis juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi. Rob mengatakan, salah satu alasan kenapa tren ini populer, karena kondisi ekonomi dunia yang masih belum stabil.
"Para pria muda saling bersaing untuk menarik perhatian seseorang tapi hidup mereka juga belum mapan (karena terbatasnya lapangan pekerjaan). Jadi mereka menggunakan maskulinitas mereka (jenggot dan kumis adalah salah satu indikator kejantanan pria) untuk membalik keadaan," tambah Rob.
Akankah selamanya kita melihat para pria berseliweran di jalan dengan jenggot dan kumis tebal? Jawabannya, belum tentu. Seperti hal nya tren yang datang dan pergi, popularitas pria berjenggot bukan tidak mungkin akan mereda dalam waktu yang tidak terlalu lama. Ketika semakin banyak pria yang 'meniru' penampilan George Clooney atau Joaqin Phoenix dengan rambut wajah tebalnya, tren ini jadi sesuatu yang terlalu umum dan bisa menimbulkan kebosanan terutama di kalangan wanita.
"Saat semakin banyak orang memelihara jenggot dan kumis, ketertarikan itu perlahan-lahan bisa hilang juga. Ketika masa itu tiba maka kita berada pada fase 'peak beard' (puncak popularitas pria berjenggot yang sewaktu-waktu bisa turun)," ungkap Rob.
(hst/hst)










































