Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Waspada Kosmetik Palsu

Ini Cara Mengenali 'Penampakan' Kosmetik Palsu di Pasaran

wolipop
Rabu, 21 Mei 2014 13:01 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Thinkstock
Jakarta - Kosmetik palsu banyak beredar di pasaran. Penyebarannya tidak terbatas pada warung atau toko kecil saja, tapi juga situs belanja online. Menggunakan kosmetik palsu bisa membahayakan kesehatan kulit karena mengandung bahan-bahan yang tidak bisa dijamin keamanan dan khasiatnya.

"Produk palsu, berarti meniru dari pemilik aslinya. Memalsukan dari yang seharusnya berwenang memproduksi," ucap Kepala Pusat Informasi BPOM Reri Indriani saat diwawancara Wolipop di Pacific Place Mall, kawasan Jl. Jend. Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa (20/05/2014).

Dari temuan BPOM di 2013 lewat Operasi Pangea, peredaran obat dan kosmetik palsu banyak terdapat di Pulau Jawa, DKI Jakarta, Semarang, Surabaya, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatra, dan beberapa daerah di Indonesia Tengah. Tahun ini operasi akan difokuskan pada titik tertentu di Jakarta, Bandung, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

"Karena peredarannya terkonsentrasi di situ. Tingkat konsumsi dan peredaran paling tinggi di Pulau Jawa karena kepadatan penduduknya. Jadi hasil di Pulau Jawa sudah bisa menggambarkan (peredaran produk ilegal secara keseluruhan)," tuturnya.

Penyebaran yang sudah cukup meluas pun menimbulkan kekhawatiran terhadap masyarakat, bagaimana jika produk yang mereka beli palsu? Untuk itu, Reri berbagi tips untuk mengenali kosmetik palsu agar Anda bisa lebih waspada.

1. Klaim Produk
Produk palsu biasanya akan menawarkan atau mengklaim keunggulan produknya secara berlebihan. Misalnya bisa memutihkan kulit atau wajah terlihat lebih cerah secara signifikan. "Warna kulit tidak akan berubah, kita ras Asia, kulitnya cenderung sawo matang jadi jangan pernah percaya kalau ada produkyang mengklaim bisa kinclong dengan cepat. Itu sudah jelas kalau tidak palsu, produk ilegal karena mengandung bahan berbahaya," jelas Reri.

2. Hasil Instan
Reri menegaskan, kosmetik yang mengandung bahan-bahan aktif yang memenuhi ketentuan standar tidak bisa memberikan efek yang instan. Maka jika ada produk yang bisa memutihkan kulit atau menghilangkan flek hanya dalam waktu satu atau dua minggu, patut diwaspadai.

3. Tekstur dan Aroma
Warna yang mencolok pada kosmetik, khususnya krim perawatan umumnya menggunakan bahan pewarna yang tidak boleh dipakai manusia. Bahkan ada beberapa produsen 'nakal' yang membuat produk palsu dengan cat tembok atau tekstil. "Lipstik ada yang pakai rhodamine. Pokoknya kalau warnanya sudah tidak wajar perlu hati-hati," imbay Reri.

Rhodamine merupakan zat pewarna yang mengandung bahan kimia. Biasa digunakan pada industri tekstil dan kertas. Zat ini bersifat toxic dan mudah larut dalam air. Pada penggunaan jangka panjang, rhodamine bisa memicu terbentuknya sel-sel kanker.

4. Tidak Berkhasiat
Kosmetik palsu tidak mengandung zat yang berkhasiat. Pada produk yang berupa krim atau salep, biasanya produsen pemalsu menggunakan bahan dasar untuk salep yang biasa dijual di toko kimia.

"Tapi tidak ada isinya (bahan aktif). Kalau mau instan hasilnya, mereka biasanya menambahkan merkuri. Pokoknya kalau kosmetik yang betulan efeknya tidak instan," tegas Reri.

5. Kemasan
Mengenali kosmetik palsu secara kasat mata memang tidak mudah. Namun menurut Reri, Anda bisa mempercayakan insting sendiri. Kemasan produk palsu umumnya memiliki bentuk atau terasa berbeda saat dipegang. Font dan ukuran huruf juga bisa berbeda, begitu juga warna biasanya lebih pekat atau lebih pudar dari produk aslinya.

(hst/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads