Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Sering Menggigit Kuku? Ini 13 Kebiasaan Orang Cemas yang Jarang Disadari

Adinda Salma - wolipop
Senin, 14 Sep 2026 11:30 WIB
...
Ilustrasi wanita cemas
Foto: Getty Images/Siarhei Khaletski
Jakarta -

Pernahkah kamu memperhatikan teman yang mendadak sering ke toilet atau terus menggerakkan tangannya tanpa henti saat suasana mendebarkan? Ternyata, gestur sederhana tersebut bukanlah sekadar tingkah laku biasa tanpa alasan yang jelas.

Sebagian orang tidak menyadari bahwa tubuh mereka sebenarnya sedang merespons tekanan mental melalui gerakan refleks. Secara tidak langsung, mengenali kebiasaan seseorang yang cemas dapat membantu kita memahami kondisi emosional mereka yang sebenarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mekanisme pertahanan diri umumnya terbentuk sejak masa anak-anak atau remaja sebagai jalan pintas untuk mencapai rasa aman. Meskipun mampu memberikan ketenangan sekejap, mekanisme ini lama-kelamaan berubah menjadi respons otomatis saat menghadapi stres.

Kecemasan tidak selalu berwujud serangan panik yang hebat, melainkan dapat juga melibatkan perilaku yang sangat halus, seperti kegelisahan, kesulitan berkonsentrasi, mudah tersinggung, hingga masalah tidur.

ADVERTISEMENT

Kebiasaan-kebiasaan orang cemas yang dibagikan oleh Dr. Julie Smith dapat menjadi petunjuk bahwa seseorang sedang mengalami kecemasan tersembunyi. Meski begitu, kebiasaan tersebut tidak bisa dijadikan dasar tunggal untuk mendiagnosis gangguan kecemasan (anxiety disorder).

Kecemasan pada seseorang sering kali tercermin dari 13 kebiasaan yang kerap mereka lakukan secara tidak sadar berikut ini:

1. Memainkan Rambut Tanpa Henti
Mengibaskan rambut setelah keramas memang bisa menenangkan. Namun, gerakan memutar, menggulung, atau menggesekkan rambut perlahan di area pipi sering dimanfaatkan pikiran sebagai stimulus relaksasi instan. Kebiasaan ini biasanya muncul saat seseorang merasa kewalahan atau pikirannya bekerja terlalu keras.

Namun, jika dorongan mencabut rambut terjadi secara impulsif dan sulit dihentikan, hal ini bisa mengarah pada kondisi klinis trikotilomania atau gangguan mencabut rambut (hair-pulling disorder). Jika kamu sering mencabut rambut atau kesulitan untuk berhenti memainkannya, sebaiknya berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental.

2. Sering Pergi ke Kamar Mandi
Menurut penelitian pada 2021, stres psikologis kronis dapat berkontribusi pada frekuensi dan urgensi buang air kecil. Hal ini menunjukkan bahwa stres dapat memengaruhi kandung kemih sekaligus pikiran.

Sensasi ini paling sering memuncak ketika seseorang akan menghadapi momen krusial, seperti presentasi, wawancara, atau acara menegangkan lainnya. Rasa tidak nyaman ini juga dapat mendorong mereka pergi ke kamar mandi sebagai hal terakhir yang dilakukan sebelum tidur di malam hari.

3. Membaca Ulang Pesan Belasan Kali
Seseorang yang mengalami kecemasan mungkin khawatir tentang bagaimana surel (email) atau pesan teks mereka akan diterima oleh orang lain.

Ketakutan akan kesalahpahaman membuat mereka membaca, mengetik, dan menghapus draf pesan singkat secara berulang-ulang hanya untuk memastikan tata bahasanya. Kecenderungan perfeksionisme berlebih inilah yang kerap mendasari kebiasaan seseorang yang cemas dalam berkomunikasi secara daring (online).

4. Mengulang Kalimat Perpisahan yang Sama
Seseorang yang takut hal buruk terjadi cenderung merasa terdorong untuk mengulang kalimat yang sama setiap kali berpamitan atau menutup telepon. Ini dilakukan sebagai mekanisme pertahanan atas kecemasannya.

Mereka akan mengulang frasa seperti "Hati-hati di jalan" atau "Kabari kalau sudah sampai" untuk menenangkan diri dan meyakinkan bahwa tidak ada hal yang ganjil serta semuanya baik-baik saja.

5. Melakukan Pengecekan Berulang
Seseorang yang khawatir lupa mengunci pintu atau mematikan kompor cenderung memeriksanya berkali-kali demi mendapatkan rasa aman dan kepastian. Menurut penelitian, tindakan memeriksa kompor virtual secara berulang-ulang justru menurunkan rasa percaya diri seseorang terhadap ingatannya, meskipun akurasi ingatan mereka sebenarnya tidak berkurang.

Kebiasaan Orang Cemas yang Jarang Disadari

ilustrasi gigit kuku

Foto: thinkstock

6. Memutar Ulang Percakapan di Kepala
Mengenang kembali dialog yang telah berlalu menjadi pertanda munculnya kecemasan. Kondisi memutar skenario masa lalu ini sangat menguras energi batin. Meski tidak dapat mengubah fakta yang sudah terjadi, mereka justru sibuk mencari celah kesalahan diri atau tanda-tanda bahwa mereka telah membuat seseorang kecewa.

7. Datang Terlalu Awal dari Jadwal
Seseorang yang khawatir terlambat akan mengalokasikan waktu perjalanan jauh lebih banyak dari yang sebenarnya dibutuhkan.

Hadir jauh sebelum acara dimulai dipakai sebagai taktik membendung ketakutan akan hambatan tak terduga di jalan. Penelitian pada 2020 terhadap 533 mahasiswa membuktikan bahwa ketidakmampuan menoleransi ketidakpastian berbanding lurus dengan tingkat kecemasan sosial.

8. Menggigit Kuku (Onychophagia)
Kebiasaan menggigit kuku bisa menjadi perilaku yang berfokus pada tubuh (body-focused repetitive behavior) dan memberikan kelegaan sementara dari ketegangan, stres, rasa bosan, atau perasaan tidak nyaman lainnya. Meskipun terlihat sepele, luka yang ditimbulkan dapat memicu infeksi jaringan jika tidak segera ditangani dengan baik.

9. Mengunyah atau Menggigit Bibir
Mirip dengan mengelupas kuku, gesekan pada bibir menjadi saluran pelepasan emosi negatif yang tidak terungkapkan. Kebiasaan berulang ini sering kali meninggalkan bekas luka fisik yang membuat area sekitar mulut terasa perih.

Kebiasaan Orang Cemas yang Jarang Disadari

Close up of a depressed Caucasian young woman sitting at home, reading some bad news on her smart phone, feeling sad and worried

Foto: Getty Images/Ivan Pantic

10. Tidak Lepas dari Selimut
Sebagian orang yang cemas mungkin bangun tidur hanya untuk mematikan alarm, lalu memilih untuk tetap berada di bawah selimut. Memilih bertahan di bawah selimut saat terbangun kerap menjadi pertahanan terakhir dari rasa enggan menghadapi realitas. Namun, fenomena sulit bangkit dari tempat tidur ini juga perlu dibedakan dari gejala depresi atau kelelahan fisik.

11. Scrolling Media Sosial Tanpa Henti
Menatap layar ponsel (smartphone) selama berjam-jam sering dijadikan bentuk pelarian dari pikiran yang tidak nyaman atau menggelisahkan. Baik menonton konten hiburan maupun berita menyedihkan (doomscrolling), keduanya sama-sama berfungsi mengalihkan perhatian dari kenyataan.

12. Selalu Menolak Undangan atau Ajakan Berkumpul
Menolak ajakan berkumpul secara konsisten diyakini mampu melindungi diri dari keharusan berinteraksi sosial atau bertemu orang-orang yang memicu stres.

Penelitian terhadap 125 orang dewasa muda menemukan bahwa dorongan penolakan sosial yang kuat berisiko memperparah rasa terisolasi dan kesepian. Pasalnya, semakin sering seseorang menolak undangan, semakin jarang pula mereka akan diundang kembali.

13. Memilih Posisi Duduk Dekat Akses Keluar
Duduk di tepi lorong bioskop atau dekat pintu keluar ruangan memberikan rasa aman bahwa mereka bisa meninggalkan ruangan kapan saja. Akses keluar yang cepat ini mampu meredakan ketakutan akan klaustrofobia (claustrophobia) maupun perasaan terkurung.


Memahami berbagai kebiasaan orang cemas di atas menjadi fondasi awal untuk membangun respons emosional yang jauh lebih sehat. Apabila kebiasaan tersebut mulai mengganggu efektivitas kerja atau hubungan pertemanan, berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental adalah langkah yang sangat tepat.

(eny/eny)
...
Hide Ads