Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Karmic Relationship Dalam Hubungan, Terasa Seperti Jodoh Namun Penuh Konflik

Vina Oktiani - wolipop
Sabtu, 29 Agu 2026 18:00 WIB
...
young asian couple in living room lifestyle image
Foto: Getty Images/iStockphoto/itakayuki
Jakarta -

Pernah bertemu seseorang lalu merasa seperti sudah mengenalnya sejak lama? Hubungan terasa sangat kuat sejak awal, penuh chemistry, dan seolah-olah kalian memang ditakdirkan untuk bersama. Namun, setelah beberapa waktu, hubungan tersebut justru dipenuhi konflik, putus-nyambung, dan emosi yang melelahkan.

Melansir Vogue, dalam dunia spiritual dan komunitas New Age, hubungan seperti ini sering disebut karmic relationship atau hubungan karmis. Lantas, apa itu karmic relationship?

Apa Itu Karmic Relationship?

Karmic relationship adalah istilah spiritual yang menggambarkan hubungan yang dipercaya membawa pelajaran tertentu dalam hidup. Konsep ini berkaitan dengan karma, yaitu keyakinan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagian orang percaya hubungan karmis terjadi karena adanya 'urusan' yang belum selesai dari kehidupan sebelumnya. Sementara dari sudut pandang psikologi, hubungan semacam ini dapat dikaitkan dengan pola keterikatan dan luka emosional masa lalu yang kembali muncul dalam hubungan saat ini. Meski demikian, karmic relationship bukan istilah resmi dalam psikologi dan tidak memiliki definisi ilmiah yang baku.

Ciri-Ciri Karmic Relationship

Beberapa tanda yang sering dikaitkan dengan hubungan karmis antara lain:
* Ketertarikan sangat kuat sejak awal.
* Hubungan terasa intens dan sulit dijelaskan.
* Emosi naik turun secara ekstrem.
* Sering terjadi konflik dan putus-nyambung.
* Masalah yang sama terus berulang.
* Sulit meninggalkan hubungan meskipun terasa melelahkan.
* Hubungan memunculkan luka atau masalah emosional yang belum terselesaikan.
Karena intensitasnya tinggi, hubungan karmis terkadang terasa seperti roller coaster emosional.

ADVERTISEMENT

Karmic Relationship dan Hubungan Toxic

Karmic relationship sering dianggap mirip dengan hubungan toxic karena keduanya bisa memiliki pola yang penuh konflik dan emosi ekstrem. Namun, keduanya bukan istilah yang sama.

Hubungan toxic mengacu pada pola hubungan yang tidak sehat, misalnya adanya manipulasi, kontrol berlebihan, penghinaan, atau kekerasan. Sementara itu, karmic relationship merupakan istilah spiritual untuk menjelaskan hubungan yang dianggap membawa pelajaran tertentu.

Yang perlu diperhatikan adalah label 'hubungan karmis' tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan perilaku yang menyakiti. Jika sebuah hubungan membuat seseorang merasa tidak aman, terus-menerus dikendalikan, dimanipulasi, atau mengalami kekerasan, masalah utamanya bukan apakah hubungan tersebut karmis atau bukan. Keselamatan dan kesehatan emosional harus menjadi prioritas.

Bedanya dengan Soulmate dan Twin Flame

Istilah karmic relationship sering disandingkan dengan soulmate dan twin flame, padahal ketiganya memiliki gambaran yang berbeda dalam kepercayaan spiritual.
Karmic relationship biasanya digambarkan sebagai hubungan yang membawa tantangan dan mendorong seseorang memutus pola lama.

Twin flame dipercaya sebagai hubungan dengan seseorang yang dianggap memiliki koneksi spiritual sangat kuat dan berperan sebagai 'cermin' bagi diri kita. Hubungan ini juga dapat terasa intens dan penuh perubahan.

Sementara itu, soulmate umumnya dikaitkan dengan hubungan yang terasa lebih nyaman, harmonis, dan mendukung pertumbuhan bersama. Soulmate pun tidak selalu berarti pasangan romantis karena bisa berupa sahabat atau anggota keluarga. Namun, semua konsep tersebut merupakan kerangka spiritual, bukan kategori yang digunakan dalam diagnosis psikologis.

Haruskah Karmic Relationship Diakhiri?

Tidak semua hubungan yang disebut karmis harus berakhir. Yang lebih penting adalah melihat dampaknya terhadap diri sendiri.

Tanyakan: Apakah hubungan ini membuat saya berkembang atau justru terus membuat saya terluka?

Hubungan yang sehat tetap bisa memiliki konflik, tetapi ada rasa aman, saling menghargai, komunikasi, dan usaha dari kedua pihak untuk memperbaiki keadaan. Jika hanya satu pihak yang terus berusaha atau hubungan terus mengulang pola yang menyakitkan, meninggalkannya bisa menjadi keputusan yang sehat.

(vio/vio)
...
Hide Ads