Ramai Tren 'Boy Sober', Wanita Kini Pilih Stop Pacaran & Seks
Di tengah semakin melelahkannya dunia kencan modern, muncul tren baru bernama 'boy sober' yang ramai di media sosial. Lewat tren ini, banyak wanita memilih berhenti berkencan, tidak berhubungan seks, dan menjauh dari validasi dari laki-laki demi fokus pada diri sendiri dan menjaga kesehatan mental.
Sebagian wanita bahkan merayakan satu tahun menjalani hidup melajang dan selibat dengan mengadakan pesta kecil atau memesan kue khusus. Fenomena ini juga disebut memiliki kemiripan dengan gerakan 4B di Korea Selatan yang menolak pacaran, seks, pernikahan, dan memiliki anak sebagai bentuk protes terhadap budaya misogini. Pakar hubungan Sera Bozza mengatakan tren tersebut muncul karena banyak orang mulai lelah dengan dunia kencan saat ini.
"Banyak orang kelelahan dengan dunia kencan. Mereka lelah menghadapi ghosting, hubungan tanpa kejelasan, pasangan yang tidak siap berkomitmen, hingga energi yang habis hanya untuk mencari pasangan," ujarnya, seperti dikutip dari NT News.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penulis dan podcaster Dee Salmin menjadi salah satu yang menjalani boy sober selama hampir tiga tahun. Awalnya hal itu terjadi saat pandemi, tetapi justru membuatnya menyadari hidupnya terasa lebih damai.
"Untuk pertama kalinya saya tidak berkencan, tidak menggunakan aplikasi kencan, dan saya sangat menyukainya," katanya.
Salmin mengaku jeda tersebut membantunya berhenti mencari validasi dari laki-laki dan meningkatkan rasa percaya diri sehingga tidak lagi mau bertahan dalam hubungan yang hanya memberikan usaha seadanya.
Fenomena ini juga didukung data. Laporan Sex Trends dari Lovehoney menunjukkan Gen Z rata-rata hanya berhubungan seks 36 kali per tahun, jauh lebih sedikit dibanding kelompok usia 46-61 tahun yang rata-rata 62 kali per tahun. Selain itu, 78 persen pengguna aplikasi kencan mengaku mengalami swipe burnout, yakni kelelahan akibat terus menggunakan aplikasi tanpa mendapatkan hubungan yang memuaskan.
Peneliti menilai ada beberapa faktor yang mendorong perubahan tersebut, mulai dari generasi muda yang lebih lama tinggal bersama orang tua, lebih jarang berpesta, hingga semakin menginginkan hubungan yang serius dan bermakna dibanding sekadar hubungan kasual.Meski begitu, Bozza mengingatkan bahwa berhenti berkencan sebaiknya dijadikan waktu untuk memulihkan diri, bukan keputusan permanen hingga tidak ingin memiliki pasangan atau menikah.
"Ada perbedaan antara berkata, 'Saya butuh istirahat karena sudah kelelahan,' dengan berkata, 'Saya selesai dengan laki-laki untuk selamanya.' Yang pertama adalah bentuk menghargai diri sendiri, sedangkan yang kedua bisa berubah menjadi bentuk menghindar," tutupnya.
(kik/kik)










































