Efek Tak Terduga Botox, Bisa Ganggu Hubungan Asmara
Botox kini menjadi prosedur kecantikan yang umum dilakukan untuk menghaluskan kerutan dan membuat wajah lebih muda. Namun di balik manfaat estetika tersebut, ada efek tak terduga terhadap hubungan asmara. Bukan soal penampilan, tapi tentang bagaimana kita memahami perasaan pasangan.
Dalam hubungan asmara, empati memegang peran penting. Banyak momen emosional tidak selalu diungkapkan lewat kata-kata, melainkan melalui ekspresi wajah, tatapan, atau perubahan kecil yang sering kali hanya bisa dirasakan.
Secara alami, manusia cenderung meniru ekspresi orang di depannya. Ketika pasangan terlihat sedih, wajah kita pun ikut merespons. Dari proses inilah otak membantu kita memahami emosi yang dirasakan orang lain. Namun, di titik ini Botox bisa mengubah dinamika tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelitian tahun 2011 yang dikutip oleh The New York Times menemukan bahwa orang yang mendapatkan suntikan Botox cenderung lebih sulit meniru ekspresi orang lain. Hal ini terjadi karena otot wajah yang "dibekukan" tidak dapat bergerak sebebas biasanya.
Akibatnya, sinyal yang seharusnya dikirim dari wajah ke otak menjadi terganggu. Seperti dikutip dari Your Tango, kemampuan untuk memahami emosi orang lain pun tidak berjalan seoptimal sebelumnya. Artinya, seseorang mungkin tetap peduli pada pasangannya, tetapi lebih sulit benar-benar merasakan apa yang mereka alami.
Dalam hubungan, perubahan kecil seperti ini bisa berdampak lebih besar dari yang terlihat. Saat pasangan membutuhkan empati, respon yang terasa datar bisa membuat momen emosional tidak tertangkap dengan baik. Hal ini berpotensi memicu kesalahpahaman, dan jika berlangsung terus-menerus, bisa menciptakan jarak emosional tanpa disadari.
Peneliti David T. Neal dan Tanya L. Chartrand juga pernah menguji kelompok wanita pengguna Botox dan membandingkannya dengan mereka yang menggunakan filler atau prosedur yang tidak memengaruhi pergerakan otot wajah.
Para partisipan diminta membaca emosi hanya dari foto mata. Hasilnya, pengguna Botox lebih sering keliru dalam mengenali ekspresi, dengan rata-rata dua kesalahan lebih banyak dari 36 percobaan. Meski terlihat kecil, perbedaan ini menunjukkan adanya penurunan sensitivitas terhadap emosi orang lain.
Temuan ini diperkuat oleh studi tahun 2023 yang menggunakan pemindaian otak (fMRI). Hasilnya menunjukkan adanya gangguan sinyal antara otot wajah dan otak setelah penggunaan Botox, yang membuat seseorang lebih sulit menginterpretasikan emosi orang lain.
Meski begitu, bukan berarti Botox harus dihindari sepenuhnya. Banyak orang tetap menjalani hubungan yang sehat meski menggunakannya. Terlebih, kini muncul tren tweakment, prosedur estetika yang bersifat halus, nyaris tak terlihat, dan bertujuan meningkatkan kepercayaan diri tanpa mengubah karakter wajah.
"Tujuan utama dari tweakments adalah agar tidak ada yang tahu kamu telah melakukan sesuatu. Kamu masih terlihat seperti dirimu sendiri," jelas Dr. Josh Wall, Direktur Medis dari Contour Clinics kepada news.com.au.
Dalam praktiknya, Botox dalam jumlah kecil umumnya masih aman digunakan dan tidak serta-merta menghilangkan kemampuan wajah untuk berekspresi. Dengan teknik dan dosis yang tepat, hasilnya justru tetap terlihat natural tanpa membuat wajah terasa kaku atau tampak "beku".
(kik/kik)











































