Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Tips Membuat Resolusi untuk Diri Sendiri agar Lebih Realistis di Tahun Baru

Shandrina Shira - wolipop
Rabu, 31 Des 2025 05:30 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Resolusi 2026
Foto: Getty Images/LanaSweet
Jakarta -

Kalimat 'new year, new me' tentu sudah tidak asing di telinga. Tahun baru kerap dikaitkan dengan perubahan diri, pembuatan resolusi, dan penyusunan rencana untuk satu tahun ke depan. Hal ini bukan tanpa alasan.

Secara psikologis, kondisi ini dikenal sebagai fresh start effect, yaitu dorongan motivasi untuk memulai sesuatu pada penanda waktu tertentu, seperti tahun baru, setelah ulang tahun, atau hari Senin. Efek ini membuat seseorang merasa memiliki kesempatan baru untuk berubah dan memperbaiki diri.

Namun, meski pembuatan resolusi dan semangat start fresh dilakukan secara masif, masih banyak orang yang tidak konsisten hingga akhir. Menurut US News & World Report, hanya sekitar 20% orang yang berhasil mempertahankan resolusi mereka sampai akhir tahun. Sebagian besar justru berhenti di tengah jalan atau hanya bersemangat di awal, dengan rata-rata resolusi bertahan sekitar 3,7 bulan. Karena itu, penting untuk memiliki strategi agar resolusi tidak hanya menjadi wacana.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Berikut strategi untuk membuat resolusi diri sendiri agar bertahan hingga akhir tahun:


Proses Perencanaan

ADVERTISEMENT

- Pilih Tujuan yang Spesifik

Saat merencanakan resolusi, pilih tujuan yang spesifik dan terukur. Alih-alih menetapkan target umum seperti "ingin menurunkan berat badan", akan lebih efektif jika diubah menjadi "ingin menurunkan berat badan 10 kg". Begitu pula dengan tujuan lain, misalnya "ingin lebih giat membaca buku" menjadi "membaca satu buku setiap bulan". Tujuan yang konkret membuat motivasi lebih mudah dijaga.

- Membuat Batasan

Resolusi yang baik bukan yang paling banyak atau paling tinggi, melainkan yang realistis dan sesuai dengan kemampuan diri. Terlalu banyak tujuan dalam waktu bersamaan justru memecah fokus dan meningkatkan risiko kegagalan. Dengan membatasi resolusi, energi dan perhatian dapat diarahkan secara maksimal.

- Meluangkan Waktu untuk Perencanaan

Dalam merencanakan tujuan, penting untuk memahami alasan memilih resolusi tersebut, langkah yang akan diambil, serta solusi jika mengalami kegagalan. Perencanaan yang matang akan mengurangi kemungkinan menyerah di tengah jalan dan membuat resolusi terasa lebih siap dijalani.

- Memulai dengan Langkah Sederhana

Meski semangat sedang tinggi, tidak masalah jika resolusi dimulai secara perlahan. Perubahan besar sering terasa berat jika dilakukan sekaligus. Memecah resolusi menjadi langkah-langkah kecil dapat membuat prosesnya terasa lebih ringan. Misalnya, jika ingin mengikuti lomba lari 10 km, mulailah dengan membiasakan jogging tiga kali seminggu.

- Ganti Resolusi yang Tidak Efektif

Jika resolusi serupa pernah dibuat di tahun sebelumnya namun belum tercapai, lakukan evaluasi terhadap strategi yang digunakan. Mengubah cara atau menyesuaikan hal-hal kecil sering kali lebih efektif daripada mengulang metode yang sama.

Saat Menjalani Resolusi

Resolusi 2026

Foto: Getty Images/LanaSweet

Menyadari Bahwa Ini Adalah Proses

Saat menjalani resolusi, ingat bahwa perubahan merupakan sebuah proses. Fokus tidak hanya pada hasil akhir, tetapi juga pada usaha yang dilakukan setiap hari. Kesalahan yang muncul di tengah jalan bukan tanda kegagalan, melainkan bagian dari proses belajar.

Mencari Dukungan

Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap konsistensi seseorang. Berada di lingkungan yang sejalan atau memiliki tujuan serupa dapat membuat proses mencapai resolusi terasa lebih ringan dan menyenangkan.

Memperbarui Motivasi

Motivasi dapat naik dan turun seiring waktu. Karena itu, penting untuk terus memperbaruinya. Mencatat alasan awal membuat resolusi dan mengingat kembali tujuan tersebut dapat membantu mencegah kelelahan mental dan mengembalikan semangat.

Melakukan Evaluasi

Menurut survei Forbes, semangat menjalani resolusi rata-rata hanya bertahan hingga bulan ketiga. Pada fase ini, penting untuk mengevaluasi apa yang membuat proses terasa stagnan dan menghilangkan hambatan yang ada agar resolusi tetap berjalan.

Belajar dan Beradaptasi

Tidak ada proses perubahan yang sepenuhnya mulus. Rasa malas, kemunduran, atau kebiasaan lama bisa saja muncul kembali. Saat hal ini terjadi, jangan langsung menganggapnya sebagai kegagalan. Catat pemicunya agar dapat diantisipasi di kemudian hari.

Dengan strategi yang tepat, resolusi diri sendiri bukan lagi sekadar wacana. Mengetahui apa yang benar-benar ingin dicapai, membuat tujuan yang spesifik dan realistis, serta rutin melakukan evaluasi akan membuat proses perubahan lebih terarah dan membantu menghadapi berbagai kemungkinan ke depan.

(eny/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads