Tak Masuk Akal, Tapi Inilah Alasan Wanita Masih Bertahan di Pernikahan KDRT

Gresnia Arela Febriani - wolipop Sabtu, 21 Sep 2019 19:05 WIB
Foto: iStock Foto: iStock

Jakarta - Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) seperti yang baru-baru ini dialami artis Tiga Setia Gara, kerap membuat publik bingung. Kenapa para wanita yang menjadi korban KDRT pada akhirnya memilih bertahan di pernikahan tidak sehat tersebut?

Menurut Psikolog Angesty Putri, M. Psi atau akrab dikenal dengan Anez, pada umumnya korban KDRT memang lebih memilih tetap bertahan meskipun ia mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan. Penyebabnya karena sang korban terjebak dalam siklus atau pola yang dibuat oleh pelaku KDRT.



"Kalau dalam psikologis kekerasan itu biasanya ada dalam suatu hubungan yang intim. Maksudnya hubungan personal suami istri. Relasi personal diawali dengan fase bulan madu, biasanya manis-manisnya, lalu mulai ada konflik. Pasangan yang bisa beresolusi dengan baik, ketika ada, mereka bisa mengatasi dengan baik. Tapi jika tidak pasangan tersebut akan berpotensi melakukan kekerasan. Sesudah meledaknya kekerasan maka ada fase lagi namanya minta maaf," kata Anez saat dihubungi oleh Wolipop, Rabu (18/9/2019).

Anez mengambil contoh dari kasus Tiga Setia Gara. Bintang film yang kini tinggal di Amerika Serikat itu memilih tetap bertahan dengan berbagai alasan meskipun sebelumnya sempat viral saat dia mengunggah video meminta bantuan netizen untuk menolongnya sambil berurai air mata dan ketakutan karena mengaku mendapat KDRT dari suaminya.

"Jadi kalau secara teori pelaku itu pasti ada minta maaf, seperti kemarin si Tiga Setia, suaminya akan meminta maaf," kata psikolog klinis itu.

Korban KDRT seperti Tiga akan melalui lagi siklus yang pada umumnya dialami korban KDRT lainnya. Siklus itu adalah setelah melakukan kekerasan, pelaku meminta maaf, lalu hubungan pernikahan akan kembali lagi mesra seperti bulan madu.

"Lalu konflik, ketegangan lagi, kekerasan, minta maaf lalu bulan madu lagi. Siklusnya itu memutar seperti itu. Nah, siklus ini makin waktu akan semakin cepat. Siklus ini awalnya setahun sekali mukulnya, lama-lama setiap hari mukulnya intensitasnya jadi lebih meningkat," jelas psikolog dari Universitas Indonesia itu.

Jika dijabarkan lagi, Anez yang kerap mendampingi korban KDRT itu mengatakan, ada tiga alasan yang membuat wanita atau para istri tidak bisa keluar dari belenggu kekerasan dalam rumah tangga. Tiga alasan itu yaitu:

1. Karena Cinta

Apalagi wanita ya klasik, jadi sangat mungkin alasan untuk bertahan karena cinta. Jadi pokoknya saya cinta, begitu," ujar Anez.

2. Berharap Bisa Berubah

Korban KDRT yang memilih bertahan biasanya memiliki keyakinan pasangannya bisa berubah. "Karena yakin dia akan berubah. Jadi berharap dia berubah. Berharap terus dan memberikan kesempatan," jelas Anez.


3. Mengalami Teror

Alasan yang paling menyedihkan adalah karena korban KDRT tersebut mengalami teror. Di satu sisi korban tidak ada lagi rasa cinta dan memiliki harapan pasangannya bisa berubah, namun dia tidak bisa pergi meninggalkan sang pasangan karena diancam atau diteror.

"Teror itu bentuknya bukan kasar, tapi bisa jadi, "Kalau kamu pisah dengan saya siapa yang mau sama kamu?" Itu teror lho! Kayak direndahin harga dirinya begitu. Kalau pun pisah emangnya kamu punya duit? Kan selama ini yang ngasih duit siapa? Kan saya yang biayain? Itu termasuk ke dalam teror," papar Anez.

Simak Video "Kenali Ciri-ciri Pasangan yang Berpotensi Melakukan KDRT "
[Gambas:Video 20detik]
(gaf/eny)