Kata Komnas Perempuan Tentang Fenomena Wanita Bucin: Karena Budaya Patriarki

Gresnia Arela Febriani - wolipop Senin, 26 Agu 2019 09:50 WIB
Foto: Dok. iStock Foto: Dok. iStock

Jakarta - Budak cinta atau bucin kini jadi istilah yang tren di kalangan netizen. Bagi Komnas Perempuan fenomena bucin ini terjadi karena langgengnya budaya patriarki.

Saat wanita menjadi budak cinta dan rela melakukan apa saja demi pasangannya termasuk disakiti secara psikis maupun fisik, hal ini dalam pandangan Komnas Perempuan atau Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan sudah masuk dalam kasus ranah Kekerasan Dalam Pacaran (KDP). Dan sayangnya wanita pelaku bucin tak menyadari kalau mereka termasuk dalam korban KDP.

Kata Komnas Perempuan Tentang Fenomena Wanita Bucin: Karena Budaya PatriarkiFoto: iStock




Menurut data yang dirilis oleh Komnas Perempuan, kasus kekerasan dalam pacaran (KDP), di tahun ini KDP meningkat menjadi dari 2.073 kasus dibandingkan tahun 2017 sebesar 1.873 kasus. Angka kekerasan dalam pacaran yang terus konsisten tinggi patut menjadi perhatian.

"Kasus-kasus Kekerasan Dalam Pacaran (KDP), yang saya kira juga termasuk bagaimana pandangan wanita, ketika sudah punya pasangan atau pacar, lalu dia memberikan seutuhnya dirinya kepada pasangannya dan juga terkait dengan budaya patriarki yang ada di masyarakat," kata Masruchah saat dihubungi oleh Wolipop, Jumat (23/8/2019).



Kata Komnas Perempuan Tentang Fenomena Wanita Bucin: Karena Budaya PatriarkiMasruchah dari Komnas Perempuan Foto: Dok. Pribadi
menjelaskan budaya patriaki adalah sebuah sistem soaial yang menempatkan laki-laki sebagai pegemang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran. "Konteks budaya patriaki, jadi kalau saya memaknai perempuan itu kalau sudah menjadi pacar, akan menjadi milik pasangannya. Nah, ketika menjadi milik maka dia harus menghendaki apapun yang diminta si pemilik atau pasangannya," jelasnya.

Komisioner Komnas Perempuan ini mengatakan lagi wanita merupakan korban budaya patriarki yang berkembang di masyarakat. Tertanamnya budaya patriarki ini membuat wanita merasa bahwa diri mereka harus mengikuti apapun kemauan kekasih

"Perempuan atas nama cinta diminta pacarnya dan dia tidak menuruti, dia bisa diancam diputus, dianggap tidak setia, atau tidak patuh" kata Masruchah.



Masruchah pun menghimbau agar generasi milenial baik pria atau wanita memahami makna cinta yang sebenarnya. Cinta bukanlah satu pihak memperbudak atau rela dirinya dijadikan pihak lain.

"Sebenarnya kalau saling mencintai mestinya saling menjaga dan jangan disentuh sebelum saatnya. Cinta itu kan tidak memperalat yang dicintai, memperalat itu termasuk menyuruh, memaksa, mengatur dan menyentuh tubuhnya untuk memberikan apapun kepada yang dicintainya," tegasnya.

Simak Video "Sekarang Menicure dan Pedicure Bisa Pakai Kacamata VR Lho!"
[Gambas:Video 20detik]
(eny/eny)