Viral Gagal Nikah karena Mitos Jawa, Ini Cara Yakini Orangtua Agar Direstui

Anggi Mayasari - wolipop Kamis, 15 Agu 2019 12:45 WIB
Foto: shutterstock Foto: shutterstock

Jakarta - Restu orangtua adalah salah satu hal terpenting bagi seseorang yang ingin melangsungkan pernikahan. Tapi, bagaimana jika pernikahan itu gagal dilaksanakan lantaran orangtua tak merestui, karena kepercayaan mitos budaya yang dianutnya?

Belum lama ini seorang wanita jadi viral setelah menceritakan kisahnya yang putus dari kekasih setelah menjalin hubungan pacaran lima tahun karena weton. Menurutnya, orangtua sang pacar yang percaya pada ramalan perhitungan hari lahir dalam kalender Jawa ini menuturkan apabila mereka menikah maka salah satu akan ada yang cepat meninggal, dan rezeki-nya susah.

Pada kasus yang serupa ada juga wanita asal Yogyakarta yang gagal menikah karena rumah sang pacar menghadap ke utara. Pernikahannya pun ditentang oleh keluarga karena dalam budaya Jawa letak rumah ke utara dipercaya tidak baik dan dapat menimbulkan kemalangan.



Banyak masyarakat Indonesia yang mempercayai mitos budaya, terlebih generasi orangtua kita yang masih banyak memiliki nilai tersebut. Sehingga, perlu cara tertentu bagi pasangan untuk meyakini orangtua jika cintanya terhalang dengan mitos budaya.

Psikolog klinis Bona Sardo Hasoloan mengungkapkan bahwa secara individu tidak banyak yang bisa dilakukan kalau seseorang akhirnya batal menikah karena ada keyakinan-keyakinan yang belum tentu terjadi. Namun, meyakinkan orangtua dengan memberikan fakta-fakta bisa dicoba.

"Paling hanya bisa meyakinkan calon mertua dengan memberi data-data atau fakta ilmiah bahwa kejadian seperti itu tidak banyak terjadi, atau bahwa itu bisa jadi hanya kebetulan saja," jelas Bona saat dihubungi Wolipop, Selasa (13/8/2019)

"Tapi berapa banyak orang sih yang bisa langsung percaya kalau dikasih data ilmiah? Masyarakat Indonesia aja masih banyak yang yakin bahwa gangguan schizophrenia (atau biasa disebut orang gila oleh masyarakat awam) itu merupakan penyakit kutukan, menular, dan lain-lain. Padahal tidak demikian," imbuhnya.



Menurut Bona, secara psikologi kemungkinan orangtua tentu akan memilih merestui demi kebahagiaan sang anak meskipun harus melunturkan kepercayaan budaya yang dianutnya. Namun, potensi risikonya adalah kalau terjadi sesuatu dengan pasangan tersebut maka orangtua akan menyalahkan sang anak karena tidak mengikuti keinginannya.

Hal itu juga diungkapkan oleh psikolog klinis dewasa Sri Juwita yang menjelaskan bahwa pasangan yang ingin menikah harus siap menanggung konsekuensinya. "Jika berhasil menikah meski hasil weton kurang baik dan lain-lain, nanti ada masalah di kemudian hari, harus mampu menyelesaikan secara mandiri," terang Wita.

"Sebelum memperjuangkan, evaluasi hubungan dengan bijak yah, jangan sampai tidak pakai logika dan terburu-buru mengambil keputusan. Karena berani menentang orangtua demi memperjuangkan cinta merupakan hal yang besar, jangan sampai menyesal nantinya," imbuhnya.



Simak Video "Bim Salabim! Spanduk Bekas Berubah Jadi Tas Kece"
[Gambas:Video 20detik]
(agm/eny)