Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Terobsesi Kekasih Khayalan, Bagaimana Cara Menghilangkannya?

Intan Kemala Sari - wolipop
Sabtu, 16 Mei 2015 12:16 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Thinkstock
Jakarta - Jatuh cinta hingga kepada seseorang merupakan hal wajar dan manusiawi. Yang menjadi tak wajar adalah jika rasa cinta tersebut ditujukan secara berlebihan kepada suatu tokoh fiktif yang dibacanya melalui novel. Ada satu istilah untuk menggambarkan kondisi tersebut, yakni fictophilia.

Orang yang menderita fictophilia akan memfokuskan pikirannya untuk mencari seseorang yang mirip dengan tokoh khayalan tersebut hingga terkadang mereka enggan untuk berinteraksi dengan orang-orang di kehidupan nyata. Apabila hal ini terus dibiarkan, dikhawatirkan si penderita akan semakin terobsesi hingga tak ingin menjalin hubungan dengan orang lain. Lantas, bagaimana cara mengatasinya?

Psikolog Vera Itabiliana menjelaskan, penderita fictophilia ini harus 'bangun' dari mimpi dan khayalannya. "Ia harus menyadari bahwa kenyataan itu tidak harus selalu seperti apa yang diharapkan. Kita juga harus tahu kalau setiap orang punya keunikan masing-masing," ujarnya saat diwawancara Wolipop di Hotel Gran Melia, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Satu hal juga yang ditekankan Vera, cerita di novel adalah murni khayalan sang penulis. Ia mengimbau para pembacanya jangan sampai terhanyut dan terbius dengan kisah di novel, terlebih lagi sampai menimbulkan rasa cinta yang berlebihan kepada karakter imajinernya.

Sedangkan jika obsesi tersebut sudah berlarut-larut atau semakin akut, psikolog seksual Zoya Amirin menyarankan untuk mengikuti terapi konseling. Diperlukan proses yang cukup panjang untuk menjalani konseling ini agar penderita Fictophilia tidak semakin terobsesi kepada karakter fiktif tersebut.

"Harus digali dulu gangguannya apa saja, pertamakali munculnya bagaimana, sumber gangguannya apa. Misalnya apa dia ada gangguan dengan orangtuanya atau dengan hubungan sebelumnya," ungkap Zoya saat dihubungi Wolipop, Senin, (11/5/2015).

Proses konseling tak berhenti sampai di situ saja. Untuk lebih memahami permasalahan penderita fictophilia, sang pasien akan diajak berinteraksi dengan pemikiran makna hidup dan diminta untuk menceritakan tentang masa lalu.

Terlebih lagi, jika sumber utama permasalahan tersebut berasal dari gangguan pada hubungan sebelumnya, ia akan bertanya lebih detail tentang konsep menjalin hubungan. "Konsepnya ketika dia pacaran seperti apa, ketika patah hati seperti apa. Apa yang dia percaya kalau sedang patah hati. Bisa saja hal tersebut ada hubungannya kenapa dia jadi fictophilia," lanjut lulusan S-2 psikologi klinis Universitas Indonesia ini.

Zoya mengimbau kepada para wanita untuk lebih realistis dalam mencari kriteria pria idamanannya. Jangan sampai ia mencari pria impian yang persis seperti di dalam novel karena akan sulit untuk ditemui di dunia nyata.

"Pada saat kita memilih calon pasangan, kita harus realistis. Cari yang ada kesamaan dan belajar untuk tahu apa yang kita mau," ringkasnya.

(int/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads