Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Sisa Hidup 6 Bulan Lagi, Brittany Minta Hak untuk Meninggal dengan Terhormat

wolipop
Selasa, 04 Nov 2014 13:50 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. HLN TV
Jakarta -

Pada bulan April lalu, seorang wanita asal Amerika Brittany Maynard divonis memiliki sisa hidup hanya enam bulan setelah dirinya diketahui mengidap penyakit kanker otak yang sudah parah dan mematikan. Atas vonis ini, ia memilih untuk tidak melakukan tindakan radiasi otak seperti yang dianjurkan oleh dokter karena tidak ingin kehilangan helaian rambutnya.

Keputusan wanita 29 tahun ini mengantarnya untuk memilih mengakhiri hidupnya dengan meminta hak untuk meninggal secara terhormat. Karena tidak ingin menyulitkan keluarga, akhirnya pada Sabtu (1/11/2014) lalu, ia meminum obat-obatan yang bersifat mematikan dan akhirnya meninggal di dalam pelukan suami serta dikelilingi keluarga terdekatnya.

Aksi mengharukan ini mendapat perhatian dari berbagai kalangan, termasuk penulis, aktivis, hingga selebriti. Salah satunya adalah aktor Colton Haynes yang meluangkan waktunya untuk mengunggah tulisan di Twitter, "Sending a big hug to those who had the pleasure of knowing Brittany Maynard. What a beautiful story, what a strong soul. #RipBrittanyMaynard."

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ucapan belasungkawa juga datang dari penulis buku Amy Tan. Ia menulis di akun Twitternya, "RIP Brittany Maynard and gratitude for speaking out and bringing this to the forefront. To die without agony is a human right," kicaunya.

Perjuanganya dalam meminta hak untuk meninggal secara terhormat juga dikenang oleh Compassion & Choices, sebuah lembaga organisasi non-profit di Amerika yang bertugas untuk memperjuangkan hak-hak pasien dalam memilih akhir hidupnya.

"Dia (Brittany) adalah seorang pembicara paling memukau yang pernah saya dengar dalam hidup saya. Penjelasan yang disampaikan lewat pesan-pesannya sangat luar biasa. Dia membuat orang-orang mempertimbangkan masalah yang belum pernah terpikirkan sebelumnya," jelas Sean Crowley yang merupakan juru bicara Compassion & Choices seperti dikutip dari HLN TV.

Memperjuangakan Hak untuk Meninggal Secara Terhormat

Setelah divonis mengidap kanker otak stadium empat, wanita yang menikah di tahun 2012 ini melakukan pencarian selama berbulan-bulan tentang kesembuhan penyakitnya, hingga ia dan keluarganya mencapai suatu kesimpulan bahwa tidak akan ada pengobatan yang akan menyelamatkan hidupnya. Tindakan medis yang direkomendasikan oleh dokter justru akan mengurangi kualitas hidup dari sisa-sisa waktu yang dimilikinya.

Brittany memutuskan untuk pindah dari San Francisco ke Oregon, suatu daerah di Amerika yang melegalkan keputusan seseorang untuk meninggal dengan caranya sendiri. Demi permohonannya dikabulkan secara hukum, ia harus mencari tempat tinggal baru, membuat surat izin mengemudi baru dan bahkan sang suami pun harus izin cuti dari tempat kerjanya. Setelah perjuangan panjang dilaluinya demi meminta hak untuk meninggal secara terhormat, pemerintah setempat pun mengabulkannya.

Sebelum memutuskan untuk meninggal, wanita lulusan University of California Berkeley ini lantas membuat daftar kegiatan yang ingin dilakukannya. Salah satu yang berhasil dilakukanya adalah mengajar di sebuah panti asuhan di Kathmandu, Nepal bahkan mendaki gunung di Alaska dan Grand Canyon.

"Ini merupakan pilihan terpenting yang saya buat di akhir hidup saya. Hal ini memberikan rasa damai karena selama ini diri saya diliputi oleh rasa takut, ketidakpastian, dan rasa sakit yang terus menerus datang," ungkapnya seperti yang dikutip dari CNN.

Dalam pesan terakhir yang ditulisnya, Britanny mengucapkan terima kasih bagi orang-orang yang mendukung keputusannya. Ia juga berharap bahwa pasien lain yang menderita penyakit akut juga akan diizinkan untuk memiliki keputusan sendiri akan hidupnya.

(int/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads