Liputan Khusus <i>Break</i> Vs Putus
Jangan Asal Sebut Kata 'Break', Ketahui Dulu Akibat Buruknya
wolipop
Jumat, 03 Okt 2014 16:37 WIB
Jakarta
-
Break dari hubungan asmara menjadi salah satu cara yang dipilih pasangan untuk menyelesaikan masalah percintaan yang pelik. Cara ini diharapkan bisa memperbaiki permasalahan atau sarana introspeksi untuk benar-benar meyakinkan diri apakah ingin meneruskan atau mengakhiri jalinan asmara. Namun jika waktu break tidak dimanfaatkan dengan benar, justru bisa jadi bumerang bagi status pacaran Anda maupun pasangan. Oleh karena itu sebelum memutuskan break, sebaiknya pertimbangkan dampak negatifnya terlebih dahulu.
1. Bisa Jadi 'Alat' untuk Lari dari Masalah
Bukannya menyelesaikan, break bisa menjadi 'alat' salah satu pihak untuk lari dari masalah. Hal ini bisa terbawa terus sampai ke hubungan yang selanjutnya, apabila break berujung pada putusnya jalinan asmara. Kebiasaan break juga membuat orang cenderung tidak menghargai hubungan dengan kekasihnya.
"Yang model seperti ini, polanya akan terus terbawa ke hubungan berikutnya. Dia jadi nggak mau atasi masalah," tutur Kei.
2. Hubungan Tidak Sehat
Idealnya ketika menghadapi permasalahan harus diselesaikan dengan pikiran terbuka dan tanggung jawab. Apabila ada pikiran yang mengganjal sebaiknya diutarakan dan break bukan merupakan pilihan yang tepat. "Kalau ada masalah dikit-dikit break, 'Ah gampang nanti break aja kan bisa', ini nggak bagus dan malah membuat hubungan jadi tidak sehat," jelas Kei ketika ditemui di bilangan Slipi, Jakarta Barat, Selasa (30/09/2014).
3. Mengulur Waktu
Memutuskan untuk break juga dirasa terlalu mengulur waktu sehingga permasalahan semakin berlarut-larut dan tidak ada kejelasan dari kedua belah pihak. Untuk hal ini, pria lulusan desain komunikasi visual di Universitas Trisakti ini menyarankan agar tidak perlu menunda permasalahan dengan melakukan break, cukup dengan dua hingga tiga hari untuk berpikir tentang langkah selanjutnya yang harus diambil.
"Karena begitu dilabeli break, pihak yang minta break itu adalah pihak yang ingin putus, sedangkan yang satunya, masih belum mau putus dan malah jadi sakit hati," tambahnya lagi.
4. Emosi Labil
Pria kelahiran 26 Desember 1980 ini juga mengatakan bahwa orang yang tidak bisa mengendalikan emosi, justru akan lebih cepat memutuskan untuk break, namun beberapa hari kemudian memohon-mohon untuk kembali berhubungan lagi. "Dia emosinya berubah-ubah dan sering seperti ini, jadi seperti psycho ya. Menurut saya yang break ini lebih lemah, bilang putus aja nggak berani," ucapnya mengakhiri perbincangan.
(hst/hst)
1. Bisa Jadi 'Alat' untuk Lari dari Masalah
Bukannya menyelesaikan, break bisa menjadi 'alat' salah satu pihak untuk lari dari masalah. Hal ini bisa terbawa terus sampai ke hubungan yang selanjutnya, apabila break berujung pada putusnya jalinan asmara. Kebiasaan break juga membuat orang cenderung tidak menghargai hubungan dengan kekasihnya.
"Yang model seperti ini, polanya akan terus terbawa ke hubungan berikutnya. Dia jadi nggak mau atasi masalah," tutur Kei.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Idealnya ketika menghadapi permasalahan harus diselesaikan dengan pikiran terbuka dan tanggung jawab. Apabila ada pikiran yang mengganjal sebaiknya diutarakan dan break bukan merupakan pilihan yang tepat. "Kalau ada masalah dikit-dikit break, 'Ah gampang nanti break aja kan bisa', ini nggak bagus dan malah membuat hubungan jadi tidak sehat," jelas Kei ketika ditemui di bilangan Slipi, Jakarta Barat, Selasa (30/09/2014).
3. Mengulur Waktu
Memutuskan untuk break juga dirasa terlalu mengulur waktu sehingga permasalahan semakin berlarut-larut dan tidak ada kejelasan dari kedua belah pihak. Untuk hal ini, pria lulusan desain komunikasi visual di Universitas Trisakti ini menyarankan agar tidak perlu menunda permasalahan dengan melakukan break, cukup dengan dua hingga tiga hari untuk berpikir tentang langkah selanjutnya yang harus diambil.
"Karena begitu dilabeli break, pihak yang minta break itu adalah pihak yang ingin putus, sedangkan yang satunya, masih belum mau putus dan malah jadi sakit hati," tambahnya lagi.
4. Emosi Labil
Pria kelahiran 26 Desember 1980 ini juga mengatakan bahwa orang yang tidak bisa mengendalikan emosi, justru akan lebih cepat memutuskan untuk break, namun beberapa hari kemudian memohon-mohon untuk kembali berhubungan lagi. "Dia emosinya berubah-ubah dan sering seperti ini, jadi seperti psycho ya. Menurut saya yang break ini lebih lemah, bilang putus aja nggak berani," ucapnya mengakhiri perbincangan.
(hst/hst)











































