Cara Mengatasi Sifat Posesif Kekasih yang Berlebihan
Alissa Safiera - wolipop
Senin, 29 Sep 2014 07:50 WIB
Jakarta
-
Diberi perhatian yang besar oleh kekasih tentunya jadi hal yang menyenangkan dan membuat Anda merasa spesial di matanya. Namun jika perhatian dan kasih sayang tak diselingi oleh rasa kepercayaan, yang ada sifat posesif akan mendominasi hubungan percintaan. Rasa ingin memiliki secara berlebihan dari pasangan justru membuat kita bukan malah mencintainya namun menjadi terganggu. Salah-salah justru malah berbalik menjadi tidak nyaman.
Lantas, apa yang sebenarnya menyebabkan seseorang jadi posesif saat menjalani hubungan cinta? Wolipop pun berbincangan dengan Psikolog Zoya Amirin beberapa waktu lalu untuk menjawabnya. Menurut Zoya, penyebab terbesar adalah rasa insecure atau tidak aman. Perasaan khawatir bahwa pasangan akan meninggalkan kita karena kita tidak sempurna di matanya, suka membanding-bandingkan dengan orang lain hingga rasa tidak nyaman akan diri sendiri bisa membawa seseorang ke sifat posesif.
Orang yang terlalu cinta, akan bertindak berlebihan. Adapula yang pernah diselingkuhi jadi punya ketakutan berlebihan. Pernah menjadi orang yang berkhianat juga menjadi faktor utama yang datang dari diri sendiri. "I'm not good enough for my partner, itu paling sering diucapkan orang yang posesif sehingga dia jadi suka membanding-bandingkan dirinya sama orang lain dan enggak akan pernah bahagia," ujarnya.
Sedangkan faktor dari luar juga banyak, mulai dari pasangan yang memang punya 'sejarah' nakal sehingga rasa percaya sulit dibangun. "Orang-orang posesif adalah orang yang dulunya banyak dosanya. Itu paling sering ditemui, dimana dia dulu tukang laba, suka pacaran dan lirik sana sini," tuturnya.
Untuk menghadapi pasangan posesif seperti ini, komunikasi menjadi kunci penting untuk mengatasinya. Zoya menyarankan untuk bertanya baik-baik kepada pasangan, apa yang bisa dilakukan agar ia tak lagi merasa insecure dalam hubungan. Apa yang membuat pasangan nyaman untuk menjalani? Apa yang membuat ia makin percaya dengan diri Anda? Hingga bagaimana cara yang harus dilakukan bersama agar rasa percaya ini semakin tumbuh dan kuat?
Jika hal-hal ini sudah dibahas baik-baik, maka langkah berikutnya adalah membuat komitmen yang konsisten dijalani. "Anggaplah sudah dijalani, ya jangan diulang lagi. Misalnya kalau sudah ngabarin, jangan jadi gila sendiri lagi. Harus konsisten sama janji yang sudah dibuat. Kalau dulu ngomelnya banyak, sekarang jadi sedikit karena saling mengabari," ujar Zoya menjelaskan.
Akan selalu ada konflik emosi yang besar dari si posesif maupun pihak yang diposesifkan. Bertahan dengan sifat tersebut ditunjang segala kesabaran dari kedua pihak, atau mengikuti logika, dimana jika sudah tidak nyaman, maka hubungan disudahi. Semua dikembalikan kembali pada pasangan yang menjalankan.
(asf/asf)
Lantas, apa yang sebenarnya menyebabkan seseorang jadi posesif saat menjalani hubungan cinta? Wolipop pun berbincangan dengan Psikolog Zoya Amirin beberapa waktu lalu untuk menjawabnya. Menurut Zoya, penyebab terbesar adalah rasa insecure atau tidak aman. Perasaan khawatir bahwa pasangan akan meninggalkan kita karena kita tidak sempurna di matanya, suka membanding-bandingkan dengan orang lain hingga rasa tidak nyaman akan diri sendiri bisa membawa seseorang ke sifat posesif.
Orang yang terlalu cinta, akan bertindak berlebihan. Adapula yang pernah diselingkuhi jadi punya ketakutan berlebihan. Pernah menjadi orang yang berkhianat juga menjadi faktor utama yang datang dari diri sendiri. "I'm not good enough for my partner, itu paling sering diucapkan orang yang posesif sehingga dia jadi suka membanding-bandingkan dirinya sama orang lain dan enggak akan pernah bahagia," ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk menghadapi pasangan posesif seperti ini, komunikasi menjadi kunci penting untuk mengatasinya. Zoya menyarankan untuk bertanya baik-baik kepada pasangan, apa yang bisa dilakukan agar ia tak lagi merasa insecure dalam hubungan. Apa yang membuat pasangan nyaman untuk menjalani? Apa yang membuat ia makin percaya dengan diri Anda? Hingga bagaimana cara yang harus dilakukan bersama agar rasa percaya ini semakin tumbuh dan kuat?
Jika hal-hal ini sudah dibahas baik-baik, maka langkah berikutnya adalah membuat komitmen yang konsisten dijalani. "Anggaplah sudah dijalani, ya jangan diulang lagi. Misalnya kalau sudah ngabarin, jangan jadi gila sendiri lagi. Harus konsisten sama janji yang sudah dibuat. Kalau dulu ngomelnya banyak, sekarang jadi sedikit karena saling mengabari," ujar Zoya menjelaskan.
Akan selalu ada konflik emosi yang besar dari si posesif maupun pihak yang diposesifkan. Bertahan dengan sifat tersebut ditunjang segala kesabaran dari kedua pihak, atau mengikuti logika, dimana jika sudah tidak nyaman, maka hubungan disudahi. Semua dikembalikan kembali pada pasangan yang menjalankan.
(asf/asf)
Perawatan dan Kecantikan
Solusi Rambut Rusak Akibat Styling? Andalkan Duo Haircare Jepang Ini!
Home & Living
Ibadah di Tengah Hari yang Sibuk? Mukena & Sajadah Nyaman Itu Penting
Pakaian Wanita
Datang Ke Kondangan Jadi Pusat Perhatian! Cukup Kebaya Mewah & Tas Kecil Ini
Elektronik & Gadget
Basesus Headphone Bowie D05 Bass Upgrade 2025, Headphone Serba Bisa dengan Bass Nendang & Baterai Tahan Lama!
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Ramalan Shio 2026
Ramalan Shio Ular 2026: Rezeki Melimpah, Asmara Kurang Stabil
Ramalan Zodiak Cinta 21 Januari: Pisces Minim Cekcok, Leo Ekstra Sabar
Tren Kencan di 2026, Muncul Istilah Clear Coding hingga Friendfluence
Ramalan Zodiak 21 Januari: Cancer Hemat, Leo Jangan Boros
Ramalan Zodiak 21 Januari: Aries Jangan Putus Asa, Taurus Cegah Pemborosan
Most Popular
1
Gaya Aghniny Haque Liburan ke Semarang, Pamer Punggung Pakai Dress Kuning
2
Gaya Couple Irish Bella & Haldy Sabri di Lamaran Adik, Kompak Bareng 4 Anak
3
7 Potret Lamaran El Rumi dan Syifa Hadju, Kental Nuansa Romantis dan Hangat
4
Hadiri Lamaran Syifa Hadju & El Rumi, Geng Mamayu Kompak Berbusana Senada
5
Kim Seon Ho Ungkap Rahasia Bangun Chemistry dengan Go Youn Jung
MOST COMMENTED











































