Liputan Khusus Cinta Buta
Kekasih yang Cinta Buta = Gangguan Kejiwaan?
wolipop
Jumat, 21 Mar 2014 16:52 WIB
Jakarta
-
Ketika sudah mengalami cinta buta, seseorang akan bertindak tidak menggunakan logikanya. Perilakunya pun bisa destruktif seperti merusak atau bahkan menyakiti pasangannya dan orang lain.
"Karena terlalu terobsesi sama pasangannya sehingga merusak pengambilan keputusan, mengganggu hubungan sosial," ujar psikolog klinis Ayoe Sutomo.
Salah satu contoh perilaku cinta buta yang destruktif atau merusak ini terjadi pada dua remaja Hafidt dan Sita yang menjadi tersangka pembunuhan Ade Sara. Keduanya melakukan pembunuhan tersebut karena alasan sakit hati.
Apakah perilaku dua remaja ini bisa dibilang dikategorikan dalam gangguan kejiwaan? "Belum tentu ada gangguan kejiwaan harus diperiksa terlebih dulu," ucap psikolog klinis Monica Sulistiawati saat diwawancara Wolipop, Rabu (19/3/2014).
Monica mengatakan, untuk mengetahui apakah Hafidt dan Sita bisa disebut mengalami gangguan kejiwaan harus ditelaah lebih lanjut seperti melihat faktor keluarga, hubungan cinta mereka sudah sejauh apa dan bagaimana lingkungan mereka.
Ayoe juga berpendapat sama dengan Monica. Menurutnya perlu dilihat dari sisi kepribadian Hafidt dan Sita. Kepribadian mereka menjadi sadis bisa karena berbagai hal seperti pola asuh dan bentuk hubungan dalam keluarga. "Apakah dia lahir di keluarga yang hangat atau dingin, mungkin tidak pernah membela anaknya. Akhirnya kepribadian tipe sadis muncul. Kebetulan mantan kekasih menjadi pematiknya," jelas Ayoe.
Pastinya, perilaku Hafidt dan Sita saat melakukan pembunuhan terhadap Ade Sara ini sama seperti pelaku cinta buta yaitu bertindak secara impulsif, hanya berdasarkan emosi atau insting. "Dia sakit hati, akhirnya menculik, berujung kematian, setelah itu dia bilang khilaf, itu murni emosi," ujar Monica yang berkantor di PT Personal Growth pimpinan psikolog Ratih Ibrahim itu.
(eny/eny)
"Karena terlalu terobsesi sama pasangannya sehingga merusak pengambilan keputusan, mengganggu hubungan sosial," ujar psikolog klinis Ayoe Sutomo.
Salah satu contoh perilaku cinta buta yang destruktif atau merusak ini terjadi pada dua remaja Hafidt dan Sita yang menjadi tersangka pembunuhan Ade Sara. Keduanya melakukan pembunuhan tersebut karena alasan sakit hati.
Apakah perilaku dua remaja ini bisa dibilang dikategorikan dalam gangguan kejiwaan? "Belum tentu ada gangguan kejiwaan harus diperiksa terlebih dulu," ucap psikolog klinis Monica Sulistiawati saat diwawancara Wolipop, Rabu (19/3/2014).
Monica mengatakan, untuk mengetahui apakah Hafidt dan Sita bisa disebut mengalami gangguan kejiwaan harus ditelaah lebih lanjut seperti melihat faktor keluarga, hubungan cinta mereka sudah sejauh apa dan bagaimana lingkungan mereka.
Ayoe juga berpendapat sama dengan Monica. Menurutnya perlu dilihat dari sisi kepribadian Hafidt dan Sita. Kepribadian mereka menjadi sadis bisa karena berbagai hal seperti pola asuh dan bentuk hubungan dalam keluarga. "Apakah dia lahir di keluarga yang hangat atau dingin, mungkin tidak pernah membela anaknya. Akhirnya kepribadian tipe sadis muncul. Kebetulan mantan kekasih menjadi pematiknya," jelas Ayoe.
Pastinya, perilaku Hafidt dan Sita saat melakukan pembunuhan terhadap Ade Sara ini sama seperti pelaku cinta buta yaitu bertindak secara impulsif, hanya berdasarkan emosi atau insting. "Dia sakit hati, akhirnya menculik, berujung kematian, setelah itu dia bilang khilaf, itu murni emosi," ujar Monica yang berkantor di PT Personal Growth pimpinan psikolog Ratih Ibrahim itu.
(eny/eny)











































