Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Liputan Khusus

Alasan Wanita yang Selalu Maafkan Pria Walau Terus Diselingkuhi

Arina Yulistara - wolipop
Jumat, 16 Agu 2013 09:39 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Thinkstock
Jakarta - Beberapa orang menganggap perselingkuhan tidak layak dimaafkan. Bagi sebagian wanita tetap menerima sang kekasih walaupun diselingkuhi berkali-kali merupakan keputusan terbaik. Ada beberapa alasan yang menjadi latar belakang wanita selalu memaafkan kekasihnya walaupun terus diselingkuhi.

Menurut psikolog klinis dewasa, Rosdiana Setyaningrum, MPsi, MHPEd, wanita yang kerap kali bertahan dalam hubungan tidak sehat memiliki beberapa kemungkinan, salah satunya takut sendirian. Wanita takut merasa kesepian jika ditinggal oleh kekasih. Umumnya, wanita yang seperti ini kepercayaan dirinya rendah sehingga bergantung dengan kekasihnya.

"Mungkin saja takut sendirian karena wanita kalau cinta lebih nggak logis, atau ketakutan-ketakutan lainnya bisa saja terjadi," tutur Diana ketika berbincang-bincang dengan wolipop beberapa waktu lalu di kawasan Artha Gading, Jakarta Utara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tidak hanya itu, wanita yang sulit mendapat kekasih biasanya ketika punya pacar akan sulit lepas, terutama jika wanita tersebut terlalu mencintainya. Sulit dapat pacar bisa menjadi alasan wanita bertahan walaupun kekasihnya selingkuh berkali-kali. Belum faktor orangtua yang sudah menanyakan kapan serius punya pacar.

Faktor-faktor tersebut membuat wanita kerapkali memaafkan walaupun sering diselingkuhi. Diana menyarankan, sebaiknya pikirkan dengan matang saat memaafkan dan ingin menerima kembali pasangan yang sudah berkali-kali menyakiti Anda. Orang yang mencintai Anda dengan tulus tidak akan tega melihat Anda tersakiti terus-menerus.

"Sebagai psikolog saya akan bilang, nggak ada namanya orang sayang dia melakukan ha-hal yang ngecewain kita terus-menerus. Kalau orang yang tepat buat kita, sayang sama kita, apa dia akan menyakiti kita terus? Dia sayang sama kita apa sama dirinya sendiri?" tegas psikolog yang mengambil titel masternya di University of New South Wales, Sydney, Australia itu.

(ays/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads