Saat Kekasih Justru Menjauh Setelah Tidak Lagi Jalani LDR
Anna Surti Ariani - wolipop
Selasa, 31 Mei 2016 11:13 WIB
Jakarta
-
Dear Mbak Anna, saya wanita lajang 29 tahun yang berkomitmen dengan seorang duda tanpa anak berusia 34 tahun. Kami menjalin hubungan LDR selama dua tahun. Sekarang saya telah memutuskan resign agar dapat berdekatan dengan dia. Alasan perceraian dia dulu adalah karena LDR.
Hubungan kami serius dan salah satu alasan saya resign supaya bisa hubungan kami makin dekat dan bisa membicarakan rencana ke depannya. Hubungan kami baik-baik saja saat LDR, namun ketika kami berdekatan malah sering ribut. Waktu saya menanyakan kapan menikah, dia ingin saya bekerja dulu. Saya pun berusaha supaya bisa bekerja dengan secepat mungkin. Ketika saya sudah bekerja, saya menanyakan lagi kepadanya, lalu saya kaget dia bilang belum siap menikah dan belum percaya dengan saya.
Sekarang saya merasa tidak nyaman lagi dengannya. Seolah-olah pengorbanan saya sia-sia semua untuk membuktikannya dan ia meminta putus. Alasannya dia merasa saya menuntut untuk cepat menikah, sementara dia belum siap menikah lagi. Di sisi lain keluarga saya dan keluarganya telah bertemu dan menyetujui hubungan kami. Sekarang hubungan kami merenggang namun tetap baik. Saya tetap mencoba menjalin silaturahim.
Sebaiknya saya bagaimana menghadapinya, bu? Saya telah yakin untuk bersama dengan dia, namun saya kecewa dengan sikapnya yang seperti itu. Apakah saya harus melupakan atau move on saja? Mohon saran.
(Marissa, 29 Tahun)
Jawab:
Hai Marissa,
Tidak terlalu mengagetkan kalau hubungan yang terasa manis saat LDR, ketika lebih banyak bertemu malah banyak ribut. Semakin dekat hubungan dua orang, potensi konflik memang semakin banyak. Justru jadi tantangan bahwa konflik bisa diselesaikan, sehingga hubungan kemudian berjalan lebih baik.
Walaupun begitu, ketika segala usaha Anda dimentahkan lagi olehnya, bahkan ia bilang belum siap menikah dan minta putus, sepertinya Anda perlu memikirkan lagi deh hubungan Anda. Apakah memang layak untuk diteruskan? Anda butuh kejelasan, sementara ia kesulitan memberikan kejelasan, sampai kapan Anda sendiri mau menoleransi kondisi ini?
Kalaupun Anda tetap yakin ingin bersamanya, ada beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan. Tanyakan kepada diri sendiri apakah selama ini Anda bisa menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dengan memuaskan, atau jangan-jangan lebih banyak masalah yang tertunda atau tak terbicarakan. Dari sisi dia, apa yang ia sebut dengan siap menikah, dan apa yang ia lakukan untuk siap menikah. Contohnya, kalau ia merasa siap menikah adalah telah move on dari mantan istrinya, apa yang ia lakukan untuk itu. Kalaupun ia hanya menunggu, apa yang ia tunggu.
Kalaupun akhirnya tak berlanjut, saya setuju lho Anda tetap menjalin silaturahim. Kita tak tahu ke mana kehidupan membawa kita, mungkin saja kelak bertemu lagi dengan dia dan keluarganya. Sungguh membantu kan kalau hubungan baik yang tetap terjalin bisa membantu di lain waktu. (hst/hst)
Hubungan kami serius dan salah satu alasan saya resign supaya bisa hubungan kami makin dekat dan bisa membicarakan rencana ke depannya. Hubungan kami baik-baik saja saat LDR, namun ketika kami berdekatan malah sering ribut. Waktu saya menanyakan kapan menikah, dia ingin saya bekerja dulu. Saya pun berusaha supaya bisa bekerja dengan secepat mungkin. Ketika saya sudah bekerja, saya menanyakan lagi kepadanya, lalu saya kaget dia bilang belum siap menikah dan belum percaya dengan saya.
Sekarang saya merasa tidak nyaman lagi dengannya. Seolah-olah pengorbanan saya sia-sia semua untuk membuktikannya dan ia meminta putus. Alasannya dia merasa saya menuntut untuk cepat menikah, sementara dia belum siap menikah lagi. Di sisi lain keluarga saya dan keluarganya telah bertemu dan menyetujui hubungan kami. Sekarang hubungan kami merenggang namun tetap baik. Saya tetap mencoba menjalin silaturahim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(Marissa, 29 Tahun)
Jawab:
Hai Marissa,
Tidak terlalu mengagetkan kalau hubungan yang terasa manis saat LDR, ketika lebih banyak bertemu malah banyak ribut. Semakin dekat hubungan dua orang, potensi konflik memang semakin banyak. Justru jadi tantangan bahwa konflik bisa diselesaikan, sehingga hubungan kemudian berjalan lebih baik.
Walaupun begitu, ketika segala usaha Anda dimentahkan lagi olehnya, bahkan ia bilang belum siap menikah dan minta putus, sepertinya Anda perlu memikirkan lagi deh hubungan Anda. Apakah memang layak untuk diteruskan? Anda butuh kejelasan, sementara ia kesulitan memberikan kejelasan, sampai kapan Anda sendiri mau menoleransi kondisi ini?
Kalaupun Anda tetap yakin ingin bersamanya, ada beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan. Tanyakan kepada diri sendiri apakah selama ini Anda bisa menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dengan memuaskan, atau jangan-jangan lebih banyak masalah yang tertunda atau tak terbicarakan. Dari sisi dia, apa yang ia sebut dengan siap menikah, dan apa yang ia lakukan untuk siap menikah. Contohnya, kalau ia merasa siap menikah adalah telah move on dari mantan istrinya, apa yang ia lakukan untuk itu. Kalaupun ia hanya menunggu, apa yang ia tunggu.
Kalaupun akhirnya tak berlanjut, saya setuju lho Anda tetap menjalin silaturahim. Kita tak tahu ke mana kehidupan membawa kita, mungkin saja kelak bertemu lagi dengan dia dan keluarganya. Sungguh membantu kan kalau hubungan baik yang tetap terjalin bisa membantu di lain waktu. (hst/hst)










































