Inspiratif! Ilmuwan Berhijab Temukan Alat untuk Deteksi Infeksi dari Bakteri
Anggi Mayasari - wolipop
Selasa, 16 Jul 2019 17:34 WIB
Jakarta
-
Seorang wanita ahli nanoteknologi muslim menemukan alat baru yang dapat mendengarkan komunikasi di antara bakteri. Hal tersebut dapat membantu mengekang resistensi antibiotik, dan secara akurat mendiagnosis sekelompok penyakit dalam hitungan detik.
Adalah Dr. Fatima Al-Zahraa Al-Atraktchi, ilmuwan berhijab yang mampu menciptakan alat dengan mengembangkan sensor yang dapat mendeteksi infeksi bakteri yang bermasalah bagi orang dengan sistem kekebalan tubuh terganggu.
"Teknologi baru yang digunakan dalam pengujian saya dapat mengambil bakteri dan membuat diagnosis dalam waktu 30 detik. Saya berharap ini akan memungkinkan dokter untuk meresepkan obat tertentu secara langsung, mengurangi penggunaan perawatan intensif atau menebak," jelas Fatima seperti dilaporkan Daily Mail.
Penemuan Fatima ini masih dalam pengembangan, dapat digunakan untuk mendiagnosis semuanya mulai dari infeksi saluran kemih hingga infeksi paru-paru pada pasien fibrosis kistik. Tes terobosan ini bekerja dengan menerjemahkan percakapan yang dimiliki bakteri sebelum mereka berkoloni dan menyerang.
Para peneliti menyoroti bahwa pengujian standar saat ini dapat memakan waktu hingga berhari-hari untuk menghasilkan hasil dan mengarah pada diagnosis. Hal ini mendorong dokter untuk meresepkan antibiotik sebelumnya, memicu resistensi obat yang dicap sebagai salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan global.
"Metode standar lama ini sangat memboroskan sumber daya. Hipotesis saya adalah jika kita mengetahui bakteri yang tepat, kita dapat menargetkan pengobatan dan mengurangi jumlah antibiotik yang digunakan per pasien. Faktanya, Bakteri berkomunikasi dengan mengeluarkan molekul. Ketika ada akumulasi besar molekul-molekul ini, itu menandakan kepada bakteri bahwa mereka tidak sendirian," jelas Fatima.
Berkat terobosan ilmiahnya, ibu dari dua anak ini menerima salah satu penghargaan bakat penelitian Yayasan Lundbeck untuk para ilmuwan di bawah 30 tahun. Fatima sendiri merupakan wanita muslim yang lahir di Kuwait dari orangtua Lebanon dan Irak. Ia meraih gelar Ph.D dan sertifikasi dalam fisika serta nanoteknologi di Technical University of Denmark pada Januari 2018. (agm/eny)
Adalah Dr. Fatima Al-Zahraa Al-Atraktchi, ilmuwan berhijab yang mampu menciptakan alat dengan mengembangkan sensor yang dapat mendeteksi infeksi bakteri yang bermasalah bagi orang dengan sistem kekebalan tubuh terganggu.
"Teknologi baru yang digunakan dalam pengujian saya dapat mengambil bakteri dan membuat diagnosis dalam waktu 30 detik. Saya berharap ini akan memungkinkan dokter untuk meresepkan obat tertentu secara langsung, mengurangi penggunaan perawatan intensif atau menebak," jelas Fatima seperti dilaporkan Daily Mail.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penemuan Fatima ini masih dalam pengembangan, dapat digunakan untuk mendiagnosis semuanya mulai dari infeksi saluran kemih hingga infeksi paru-paru pada pasien fibrosis kistik. Tes terobosan ini bekerja dengan menerjemahkan percakapan yang dimiliki bakteri sebelum mereka berkoloni dan menyerang.
Para peneliti menyoroti bahwa pengujian standar saat ini dapat memakan waktu hingga berhari-hari untuk menghasilkan hasil dan mengarah pada diagnosis. Hal ini mendorong dokter untuk meresepkan antibiotik sebelumnya, memicu resistensi obat yang dicap sebagai salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan global.
"Metode standar lama ini sangat memboroskan sumber daya. Hipotesis saya adalah jika kita mengetahui bakteri yang tepat, kita dapat menargetkan pengobatan dan mengurangi jumlah antibiotik yang digunakan per pasien. Faktanya, Bakteri berkomunikasi dengan mengeluarkan molekul. Ketika ada akumulasi besar molekul-molekul ini, itu menandakan kepada bakteri bahwa mereka tidak sendirian," jelas Fatima.
Berkat terobosan ilmiahnya, ibu dari dua anak ini menerima salah satu penghargaan bakat penelitian Yayasan Lundbeck untuk para ilmuwan di bawah 30 tahun. Fatima sendiri merupakan wanita muslim yang lahir di Kuwait dari orangtua Lebanon dan Irak. Ia meraih gelar Ph.D dan sertifikasi dalam fisika serta nanoteknologi di Technical University of Denmark pada Januari 2018. (agm/eny)
Fashion
Ingin Tampil Feminin dan Lebih Stylish dengan Bawahan Rok? Cek Koleksi Menariknya di Sini!
Fashion
Pilihan Aksesori Simpel yang Bikin Gaya Kamu Terlihat Lebih Keren
Fashion
Cari Dompet Kulit Awet Biar Bisa Dipakai Lama? Produk dari ROUNN Ini Bisa Jadi Jawabannya
Health & Beauty
Dua Serum PDRN Favorit Banyak Orang, Fokus Regenerasi dan Hidrasi Kulit!
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Eksplorasi Bordir dan Motif Floral untuk Baju Lebaran 2026 dari Bwbyaz
Kaleidoskop 2025
Ini 7 Tren Hijab 2025: Pashmina Meleyot, Motif hingga Menjuntai
Kaleidoskop 2025
Ini Brand Hijab yang Menguasai Tren 2025, dari Lafiye hingga Na The Label
Bank Mega Syariah Resmi Luncurkan Program Loyalitas MPC Points
Juara Emeron Hijab Hunt Nakeisha Rilis Single Nanti, Ini Kisah di Baliknya
Most Popular
1
5 Tren Sepatu 2026 yang Bakal Booming, Terinspirasi Runway Dunia
2
Ramalan Zodiak 6 Januari: Cancer Jangan Terburu-buru, Virgo Lebih Tegas
3
Potret George Clooney dan Istri yang Kini Jadi WN Prancis, Disindir Trump
4
7 Foto Mesra Manohara Dengan Pacar Baru YouTuber Asal Denmark
5
6 Artis Libur Tahun Baru 2026 ke Luar Negeri Bareng Pacar, Makin Lengket
MOST COMMENTED











































