Laporan dari Paris

Suka-Duka Puasa 18 Jam di Paris, Seperti Apa?

Daniel Ngantung - wolipop Sabtu, 09 Jun 2018 10:50 WIB
Foto: Daniel Ngantung/Wolipop Foto: Daniel Ngantung/Wolipop

Paris - Tidak seperti di negara sendiri, berpuasa di negara lain tentu berbeda rasanya. Apalagi jika waktu puasanya lebih panjang sampai 18 jam seperti di Paris, Prancis. Bagaimana suka-dukanya?

Di sela kunjungan ke Paris bersama rombongan Bakti Budaya Djarum Foundation, Rabu (6/6/2018), Wolipop sempat bertemu dengan Sofi, Achi, dan Yuna, warga Indonesia yang sedang menjalani studi di universitas berbeda di Paris dan sekitarnya.

Diakui Sofi, berbulan Ramadan di Prancis memang tak mudah mengingat waktu puasa yang lebih panjang. Ibadah puasa dimulai dengan sahur sekitar pukul 03.30, lalu berlanjut sampai waktu berbuka pada pukul 21.50.

"Selain panjang, timing juga kurang pas karena beberapa tahun terakhir ramadan berbarengan sama ujian," ujar Sofi yang sudah lima tahun tinggal di Paris.

Suka-Duka Puasa 18 Jam di Paris, Seperti Apa?Foto: Daniel Ngantung/Wolipop
Sementara itu, bagi Achi, tantangan yang dirasakan adalah waktu berbuka dan sahur yang hampir berdekatan. Konsekuensinya, jam tidur yang berkurang. "Kadang suka nggak tidur karena takut kebablasan," tambah Achi.

Walau waktunya lebih panjang, ibadah puasa harus tetap dilaksanakan. Agar tak terasa berat, Yuna justru menyiasatinya dengan memperbanyak kegiatan sepanjang hari. "Capek sih, tapi bikin lupa kalau lagi puasa," kata mahasiswi manajemen internasional ini.

Seperti Indonesia, tradisi 'ngabuburit' juga mereka lakukan. Sembari menunggu waktu berbuka, mereka biasanya menghabiskan waktu bersama warga Indonesia di taman atau tempat wisata.

Terlepas dari segala tantangannya, puasa di negeri orang juga membawa sukacita tersendiri. Ketiga mahasiswi ini sangat menikmati momen-momen berbuka puasa di masjid.

"Ada takjil gratis yang bentuknya seperti samosa gitu. Kebanyakan buatan orang Algeria karena mereka yang biasanya mengurus masjid-masjid di sini. Kami juga bisa kenalanan sama orang-orang dari berbagai negara," kata Achi.


(dng/ami)