Foto: Potret Hijabers Inspiratif dari Peneliti Hingga Guru di Kanada

Arina Yulistara - wolipop Rabu, 15 Mar 2017 17:04 WIB
Foto: Ini Alia Youssef
Jakarta - Banyaknya wanita berhijab yang mematahkan stereotipe serta berprestasi di bidang masing-masing membuat mereka menjadi sorotan. Bahkan beberapa desainer serta brand besar seperti Nike menyiapkan koleksi hijab khusus untuk memenuhi kebutuhan muslim.

Belum lagi di era kepemimpinan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat ke-45 yang membuat masyarakat dunia lebih peduli dengan wanita berhijab. Hijabers yang sering menjadi target dari Islamophobia juga membuat banyak orang simpati kepada wanita muslim.

Fotografer asal Toronto Alia Youssef berusaha untuk meningkatkan citra muslim. Salah satunya dengan membuat proyek foto dengan mengabadikan beberapa hijabers inspiratif dari Kanada.

Proyek yang dinamakan The Sisters Project itu memperlihatkan rangkaian potret wanita muslim dari berbagai bidang profesi. Ia ingin memperlihatkan kalau wanita muslim termasuk yang berhijab bisa sukses mengikuti minatnya masing-masing.

"When I email people, they think I am a man because my field of work is definitely overwhelmed by men, so when they see me, they see a little chunk of a woman. Breaking stereotypes is important in my work as a researcher." Dyhia is a 32 year old Algerian-Canadian. She is the program manager at Ecotrust Canada and an advisor for Africa at the University of British Columbia's, Sea Around Us. When she isn't working hard she likes to go on hikes and her favourite place to find herself is in her bed. Being a working Mom it's the only time she finds time for herself. Dyhia's favourite quality about herself is that she is bold and outgoing. When I asked Dyhia if she feels visibly Muslim she responded, "Yes my hijab says it very well and people often tell me, "welcome", thinking I am a Syrian refugee or something." I also asked her how she would like to be perceived and she commented, "I like breaking stereotypes so it is not important for me how and what people think about me. Whatever they think, I will exploit it in my favour. "

A post shared by The Sisters Project (@the.sisters.project) on




"Media cenderung 'melukis' wanita muslim hanya dengan satu sapuan kuas, mereka menyamaratakan semua wanita muslim. Itu seperti 'memukulku'. Aku ingin membuat sebuah proyek yang menggambarkan keragaman wanita muslim," ujar Alia seperti dilansir dari BuzzFeed.

Proyek yang dibuat Alia juga berkaitan dengan tugas kuliah semester akhir Ryerson University, Toronto, Kanada. Ia ingin lulus dengan gelar fotografinya. Ia pun mengambil gambar 25 wanita muslim di tempat bermakna bagi mereka.




Kedua puluh wanita tersebut juga memiliki cerita kehidupan berbeda-beda yang menginspirasi. Salah satunya datang dari wanita berhijab bernama Abeer yang merupakan seorang pekerja sosial sekaligus ibu tiga anak. Alia mengatakan kalau Abeer merupakan wanita yang sangat ramah.

"Abeer suka traveling dan membaca, terutama jika tempat itu tenang seperti taman atau pantai. Ketika aku bertemu Abeer pertamakali, dia memberikan saya cokelat Hershey dan senyum yang lebar," cerita Alia.

Ia memotret Abeer yang berpakaian monokrom saat sedang tersenyum ke arah kamera. Keffiyeh hitam-putih yang dikenakan di atas pundak tampak harmonis dengan penampilannya.
Foto: Potret Hijabers Inspiratif dari Peneliti Hingga Guru di KanadaFoto: Dok. Alia Youssef

Alia juga berbagi foto ketika bertemu dengan Mehnaz. Mehnaz merupakan wanita 21 tahun calon peneliti. Ia mengatakan kepada Alia kalau sering dirinya dianggap minoritas. Terkadang beberapa orang berpikir kalau ia cukup mewakili banyak wanita muslim yang eksis di bidang science.

"Saya percaya bahwa saya dianggap minoritas. Kadang saya pikir orang melihat saya sebagai tanda representasi dari wanita muslim. Saya ingin dianggap mampu, cerdas, dan percaya diri. Saya juga berharap suatu hari bisa dianggap sebagai role model yang berperan baik dalam masyarakat," ujar Mehnaz.




Ada pula hijabers yang berprofesi sebagai guru seperti Evangelene. Wanita Kanada berusia 33 tahun itu bercerita kepada Alia kalau ia bekerja sebagai guru. Ia mengatakan murid-muridnya berasal dari berbagai latar belakang agama dan budaya. Ia merasa bangga akan hal itu karena tetap dihormati walau berhijab.

"Saya ingin orang-orang melihat bahwa perempuan muslim memiliki peran penting dalam profesional dan tanggung jawab di masyarakat. Kami tidak diam dan tertutup. Saya mengajar siswa dewasa dari berbagai latar belakang agama, budaya, etnis yang berbeda. Agama saya tidak mengisolasi saya," pungkasnya.







Tidak hanya hijabers, beberapa wanita muslim dari berbagai bidang masuk ke dalam proyek tersebut. Meski ini hanya bagian dari tesis Alia namun ia berencana menjadikan proyek fotonya agar berlanjut. Menurutnya, setelah kemenangan Trump, proyek seperti ini yang dapat meningkatkan citra Islam diperlukan.

"Politik sekarang begitu mendorong orang lain untuk menunjukkan kebencian mereka seperti cara yang wajar. Dengan ini bisa mengingatkan Anda bahwa wanita muslim sama seperti wanita lain. Satu-satunya yang buat kita berbeda adalah cara kita berdoa kepada Tuhan," kata Alia kemudian.



Ingin ikut Umrah gratis dan hadiah uang tunai total ratusan juta rupiah? Yuk, ikut audisi Sunsilk Hijab Hunt 2017! Daftar DI SINI. (ays/ays)