Hijabers Ini Bentuk Komunitas Tari Hip Hop untuk Lawan Islamophobia
Arina Yulistara - wolipop
Kamis, 23 Jun 2016 18:07 WIB
Jakarta
-
Kasus penyerangan terhadap wanita berhijab telah terjadi di beberapa negara. Berdasarkan data yang dihimpun Huffington Post terdapat sekitar 124 kasus penyerangan muslim di Amerika Serikat pada awal 2016. Namun angka tersebut telah berkurang daripada lima atau enam tahun lalu.
Berkurangnya kasus tindak diskriminasi terhadap hijabers juga dikarenakan perkembangan fashion hijab yang begitu pesat. Tak hanya mempengaruhi penampilan para wanita berhijab tapi juga memicu semangat mereka untuk tidak takut akan Islamophobia. Bahkan sejumlah hijabers membuat suatu acara atau membentuk komunitas untuk membantu meredakan streotipe buruk tentang Islam.
Ini juga yang dilakukan oleh hijabers asal Amerika, Amirah Sackett. Amirah bukan sekadar membentuk komunitas hijabers tapi kelompok penari Hip Hop yang dinamakan 'We're Muslim Don't Panic'. Ya, Amirah memiliki latar belakang sebagai koreografer, pekerja seni, dan penari.
Amirah tidak ingin minatnya pada bidang seni tersebut terbatas hanya karena penggunaan jilbabnya. Justru ia ingin membuktikan kepada masyarakat dunia khususnya non-muslim kalau wanita berhijab bisa berkreasi dan tidak perlu ditakuti. Maka dari itu ia membentuk komunitas tari berhijab sebagai wadah ekspresi diri dan tetap setia pada imannya.
"Anak-anak muslim merasa bangga bisa tetap menari tanpa melepas jilbab. Itu keren karena itu hip hop dan tetap menjadi warga Amerika dan muslim. Hip hop sudah menjadi bagian dari dunia mereka yang mencintai tari," papar Amirah seperti dilansir dari Times of India.
Amirah menuturkan dengan banyak anak muda yang bergabung ke dalam komunitasnya maka bisa membantu melawan Islamophobia. Gadis-gadis muda muslim bisa mematahkan setiap kesalahpahaman tentang Islam yang selama ini dipercaya.
Para anggota 'We're Muslim Don't Panic' ingin mencoba berbicara tentang kebebasan dan kemerdekaan wanita. Dengan tari, mereka berusaha membuktikan bahwa hijab adalah pilihan masing-masing bukan karena keterpaksaan atau mengandung unsur terorisme.
Ketika menari, Amirah dan anak-anak didiknya mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan cadar. Kostum itu menjadi ciri khas karena Amirah ingin menunjukkan bahwa yang dipamerkan adalah warisan budaya tari dan genre musik yang mereka pilih bukan kemolekan tubuh wanita.
"Dengan memilih pakaian longgar kami mengirim pesan bahwa kami tidak ingin menjadi objek. Kami ingin menunjukkan keahlian kami bukan tubuh kami," tambah Amirah.
(aln/eny)
Berkurangnya kasus tindak diskriminasi terhadap hijabers juga dikarenakan perkembangan fashion hijab yang begitu pesat. Tak hanya mempengaruhi penampilan para wanita berhijab tapi juga memicu semangat mereka untuk tidak takut akan Islamophobia. Bahkan sejumlah hijabers membuat suatu acara atau membentuk komunitas untuk membantu meredakan streotipe buruk tentang Islam.
Ini juga yang dilakukan oleh hijabers asal Amerika, Amirah Sackett. Amirah bukan sekadar membentuk komunitas hijabers tapi kelompok penari Hip Hop yang dinamakan 'We're Muslim Don't Panic'. Ya, Amirah memiliki latar belakang sebagai koreografer, pekerja seni, dan penari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Amirah tidak ingin minatnya pada bidang seni tersebut terbatas hanya karena penggunaan jilbabnya. Justru ia ingin membuktikan kepada masyarakat dunia khususnya non-muslim kalau wanita berhijab bisa berkreasi dan tidak perlu ditakuti. Maka dari itu ia membentuk komunitas tari berhijab sebagai wadah ekspresi diri dan tetap setia pada imannya.
"Anak-anak muslim merasa bangga bisa tetap menari tanpa melepas jilbab. Itu keren karena itu hip hop dan tetap menjadi warga Amerika dan muslim. Hip hop sudah menjadi bagian dari dunia mereka yang mencintai tari," papar Amirah seperti dilansir dari Times of India.
![]() |
Amirah menuturkan dengan banyak anak muda yang bergabung ke dalam komunitasnya maka bisa membantu melawan Islamophobia. Gadis-gadis muda muslim bisa mematahkan setiap kesalahpahaman tentang Islam yang selama ini dipercaya.
Para anggota 'We're Muslim Don't Panic' ingin mencoba berbicara tentang kebebasan dan kemerdekaan wanita. Dengan tari, mereka berusaha membuktikan bahwa hijab adalah pilihan masing-masing bukan karena keterpaksaan atau mengandung unsur terorisme.
Ketika menari, Amirah dan anak-anak didiknya mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan cadar. Kostum itu menjadi ciri khas karena Amirah ingin menunjukkan bahwa yang dipamerkan adalah warisan budaya tari dan genre musik yang mereka pilih bukan kemolekan tubuh wanita.
"Dengan memilih pakaian longgar kami mengirim pesan bahwa kami tidak ingin menjadi objek. Kami ingin menunjukkan keahlian kami bukan tubuh kami," tambah Amirah.
(aln/eny)
Home & Living
Saatnya Ganti Tempat Sampah yang Bikin Rumahmu Lebih Higienis Sekaligus Estetik!
Home & Living
3 Pilihan Keranjang Laundry Ini Harus Ada di Rumah, Bikin Cucian Jadi Gak Numpuk Berantakan!
Health & Beauty
Mykonos Hawaiian Crush Extrait de Parfum, Parfum Wangi Tropis yang Bikin Mood Naik!
Elektronik & Gadget
Airbot X40 Master, Robot Vacuum Super Pintar untuk Rumah Bersih Tanpa Ribet!
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Cara Tak Terduga Klamby Rilis Koleksi Lebaran 2026, Dibungkus Film Musikal
Eksplorasi Bordir dan Motif Floral untuk Baju Lebaran 2026 dari Bwbyaz
Kaleidoskop 2025
Ini 7 Tren Hijab 2025: Pashmina Meleyot, Motif hingga Menjuntai
Kaleidoskop 2025
Ini Brand Hijab yang Menguasai Tren 2025, dari Lafiye hingga Na The Label
Bank Mega Syariah Resmi Luncurkan Program Loyalitas MPC Points
Most Popular
1
Foto Cantik BCL-Alyssa Daguise Hadiri Pernikahan 'Pangeran Jaksel' di Maroko
2
Foto Vidi Aldiano Tampil Berkumis Jadi Groomsman Pernikahan Sahabat di Maroko
3
Emily Ratajkowski Berhijab Sambut Wali Kota Muslim New York, Unggahan Dikritik
4
Tak Terduga, Ternyata Ini Inspirasi di Balik Nama Blue Ivy Putri Beyonce
5
7 Potret G-Dragon Pakai Bandana Emas Berhias Permata, Cuma Ada Satu di Dunia
MOST COMMENTED













































