Berhijab Sehari Hingga Pakai Henna, Cara Mahasiswi AS Redakan Islamophobia
Arina Yulistara - wolipop
Rabu, 11 Mei 2016 10:14 WIB
Jakarta
-
Banyak mahasiswi di kawasan Amerika Serikat yang mencoba melawan Islamophobia dengan menggelar acara hijab. Salah satunya mahasiswi asal Michigan, Amerika, yang mengajak para wanita mengenakan jilbab selama satu hari saat pergi ke kampus.
Acara tersebut digelar di depan Union, Universitas Michigan, selama kurang lebih dua jam dari pukul 11.00 sampai 13.00. Mahasiswi Universitas Michigan yang tergabung dalam komunitas The Muslim Student Association mengajak mahasiswi lain untuk mengenakan jilbab.
Tidak hanya berupa ajakan berhijab selama satu hari tapi juga menawarkan untuk mahasiswi yang ingin mencoba tangannya dilukis menggunakan henna. Ada pula sesi photobooth ketika mencoba mengenakan jilbab yang disediakan oleh panitia.
Dilansir dari The DM Online, panitia acara menyebutkan bahwa banyak mahasiswi yang tertarik datang mendekati mereka serta bertanya tentang Islam dan penggunaan jilbab. Salah satunya mahasiswi jurusan Ilmu Bahasa Universitas Michighan, Amy Buchheit.
"Ada banyak stigma buruk yang dilayangkan kepada masyarakat muslim terutama wanita berhijab karena mereka memakai penutup kepala. Jadi aku turut senang dengan adanya acara seperti ini mungkin bisa membantu mereka (wanita muslim) agar tidak menjadi sasaran Islamophobia," ujar Amy.
Amy yang tidak pernah mengenakan jilbab sebelumnya tentu tak mengerti bagaimana cara memakainya. Ia pun dibantu teman-teman panitia acara tersebut untuk bisa mengenakan jilbab secara penuh. Ketika mengenakan jilbab pertamakali, Amy merasa takjub.
"Meskipun aku berasal dari kota kecil di Lowa, ada juga beberapa wanita muslim di sana. Aku jadi sering bertanya-tanya seperti apa rasanya mengenakan jilbab. Aku bukanlah sosok yang religius jadi aku tak memakai simbol apa pun, tapi dengan mengirimkan pesan positif ke orang lain seperti kali ini aku pikir itu cukup keren," tambahnya.
Acara coba memakai hijab di kampus selama satu hari itu mendapatkan respon yang baik dari para mahasiswa. Mereka sangat menghargai perbedaan budaya dan agama. Dosen penasihat dari Universitas Michigan, Hunain Alkhateb, menceritakan bahwa ia selalu merasa dihargai ketika mengajar mengenakan jilbab. Penerapan hijab juga memberikan 'batas' antara dia dan lawan jenis sehingga ia merasa dihormati.
"Ketika aku berurusan dengan murid-muridku, mereka akan bertanya lebih dahulu 'Oke, apa saya boleh memeluk Anda?'. Biasanya jika dengan orang lain dan saat mereka merasa senang, mereka akan langsung melompat atau memeluk orang di sebelahnya. Aku suka dengan batas-batas tersebut," ujar Hunain. (ays/ays)
Acara tersebut digelar di depan Union, Universitas Michigan, selama kurang lebih dua jam dari pukul 11.00 sampai 13.00. Mahasiswi Universitas Michigan yang tergabung dalam komunitas The Muslim Student Association mengajak mahasiswi lain untuk mengenakan jilbab.
Tidak hanya berupa ajakan berhijab selama satu hari tapi juga menawarkan untuk mahasiswi yang ingin mencoba tangannya dilukis menggunakan henna. Ada pula sesi photobooth ketika mencoba mengenakan jilbab yang disediakan oleh panitia.
Peserta |
Dilansir dari The DM Online, panitia acara menyebutkan bahwa banyak mahasiswi yang tertarik datang mendekati mereka serta bertanya tentang Islam dan penggunaan jilbab. Salah satunya mahasiswi jurusan Ilmu Bahasa Universitas Michighan, Amy Buchheit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Amy yang tidak pernah mengenakan jilbab sebelumnya tentu tak mengerti bagaimana cara memakainya. Ia pun dibantu teman-teman panitia acara tersebut untuk bisa mengenakan jilbab secara penuh. Ketika mengenakan jilbab pertamakali, Amy merasa takjub.
"Meskipun aku berasal dari kota kecil di Lowa, ada juga beberapa wanita muslim di sana. Aku jadi sering bertanya-tanya seperti apa rasanya mengenakan jilbab. Aku bukanlah sosok yang religius jadi aku tak memakai simbol apa pun, tapi dengan mengirimkan pesan positif ke orang lain seperti kali ini aku pikir itu cukup keren," tambahnya.
Peserta |
Acara coba memakai hijab di kampus selama satu hari itu mendapatkan respon yang baik dari para mahasiswa. Mereka sangat menghargai perbedaan budaya dan agama. Dosen penasihat dari Universitas Michigan, Hunain Alkhateb, menceritakan bahwa ia selalu merasa dihargai ketika mengajar mengenakan jilbab. Penerapan hijab juga memberikan 'batas' antara dia dan lawan jenis sehingga ia merasa dihormati.
"Ketika aku berurusan dengan murid-muridku, mereka akan bertanya lebih dahulu 'Oke, apa saya boleh memeluk Anda?'. Biasanya jika dengan orang lain dan saat mereka merasa senang, mereka akan langsung melompat atau memeluk orang di sebelahnya. Aku suka dengan batas-batas tersebut," ujar Hunain. (ays/ays)
Fashion
Mudik Tanpa Koper Besar? Tas Travel 40L Ini Bisa Jadi Solusinya
Hobi dan Mainan
7 Alasan Thule Subterra 2 Bisa Jadi Toiletry Bag Andalan Traveler
Makanan & Minuman
Nasi Putih Langsung Ludes! Sambal Viral Ini Bikin Sahur dan Makan Jadi Nambah Terus
Makanan & Minuman
Bingung Cari Parcel Lebaran yang Berkesan? 2 Hampers Makanan Premium Ini Bisa Jadi Hadiah Spesial Idulfitri!
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Berburu Tas ala Gen Z untuk Tampil Estetis Saat Hari Raya di Bazar Rendezvous
8 Warna Hijab yang Bikin Wajah Cerah, Semakin Glowing
Tren Warna Baju Lebaran 2026, Begini Kata Owner Brand Hijab
Baju Lebaran 2026
Tren Baju Lebaran Cheongsam Harga Rp 200 Ribu, Ratusan Koleksi Ludes Terjual
Baju Lebaran 2026
Borong 10 Hijab Hanya Rp 100 Ribu di Bazar Rendezvous Market, Stok Terbatas
Most Popular
1
7 Momen Manis Jisoo BLACKPINK & Seo In Guk, Kelewat Gemas Jadi Couple
2
Apa Itu Looksmaxxing? Tren Viral yang Bisa Bahayakan Mental
3
Dokter Operasi Plastik Ungkap Rahasia Awet Muda Brad Pitt di Usia 62 Tahun
4
Calon Istri Atlet NFL Tolak Perjanjian Pra Nikah, Pernikahan Mendadak Batal
5
Model Ini Beri Kalung Darah Menstruasi ke Suami sebagai Simbol Pernikahan
MOST COMMENTED












































Peserta
Peserta