Saat Pengungsi Palestina, Somalia & Afghanistan Jadi Model Brand Lokal RI
Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2026, brand hijab dan busana muslim Makaila Haifa berkolaborasi dengan UNHCR (The UN Refugee Agency) menggelar "Women's Resilience: From Surviving to Thriving."
Panggung ini menjadi ruang apresiasi bagi pengungsi wanita dari berbagai negara, termasuk Irak, Palestina, Somalia, Sri Lanka, dan Afghanistan, untuk tampil sebagai model sekaligus seniman.
Pada kesempatan ini, Mishka Project mempersembahkan trunk show yang menampilkan lima wanita pengungsi dan satu peraga busana wanita dari India, Revathi Prabaharan. Para pengungsi tersebut berasal dari Irak, Palestina, dan Somalia yang telah mencari suaka di Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melalui tangan dingin Ling Hida, pendiri Makaila Haifa, Mishka Project mengubah narasi pengungsi yang sering dianggap sulit menjadi sosok-sosok yang berdaya dan bertalenta.
Brand hijab dan modest wear lokal, Makaila Haifa berkolaborasi dengan UNHCR (The UN Refugee Agency) menggelar trunk show bertajuk "Women's Resilience: From Surviving to Thriving – Mishka Project by Makaila Haifa. Acara trunk show yang diperagakan oleh para pengungsi wanita dari Palestina, Somalia, dan Afghanistan, serta pameran karya fashion painting dari para pengungsi berbakat asal Sri Lanka dan Afghanistan. Foto: Dok. @makailahaifa_ |
Para pengungsi wanita tersebut tergabung dalam program brand Mishka Project, yaitu Mishka Project Batch V. Mereka menjalani program pelatihan intensif selama tiga bulan antara Januari hingga Maret 2026. Penghargaan khusus juga diberikan untuk kategori Model Terbaik dan Lukisan Terbaik.
Mishka Project memfasilitasi pelatihan modeling dengan melibatkan instruktur profesional dari Look Inc., salah satu sekolah modeling terkemuka di Jakarta Selatan. Untuk membekali peserta dengan keterampilan kreatif seperti menggambar busana dan melukis busana, Mishka Project juga memfasilitasi pengajar profesional dari sekolah mode di Jakarta.
Brand hijab dan modest wear lokal, Makaila Haifa berkolaborasi dengan UNHCR (The UN Refugee Agency) menggelar trunk show bertajuk "Women's Resilience: From Surviving to Thriving – Mishka Project by Makaila Haifa. Acara trunk show yang diperagakan oleh para pengungsi wanita dari Palestina, Somalia, dan Afghanistan, serta pameran karya fashion painting dari para pengungsi berbakat asal Sri Lanka dan Afghanistan. Foto: Dok. @makailahaifa_. |
Ling Hida mengungkapkan bahwa inisiatif ini lahir dari panggilan jiwa dan rasa empati yang mendalam. Ia ingin menggunakan platform fashion untuk menyuarakan realitas yang jarang tersentuh oleh industri yang biasanya identik dengan kemewahan tersebut.
"Makaila bergerak dari rasa empati dan latar belakang saya yang pernah merasakan kekerasan berbasis gender. Kondisi sekarang, fashion identik dengan glamour dan fancy, tapi saya merasa di luar sana banyak wanita yang serba kesulitan. Melihat di luar sana seorang ibu bersusah payah memberikan makan bagi anaknya, saya ingin tunjukkan empati dan bekerja nyata," ungkap Ling Hida saat ditemui Wolipop di Padang Room, The Westin Hotel Jakarta Selatan baru-baru ini.
Para pengungsi asal Somalia hingga Afghanistan itu menjadi model koleksi busana terbaru lini brand dari Makaila Haifa. Koleksi tema Metamorfosis ini didominasi warna hitam dan emas sebagai identitas utama. Busana yang ditampilkan cenderung bergaya modest, office wear, dan daily wear yang fungsional namun tetap elegan. Tidak hanya pakaian, koleksi ini juga mencakup tas, syal, hingga suvenir seperti mug dan clutch yang dihiasi dengan teknik fashion painting.
Brand hijab dan modest wear lokal, berkolaborasi dengan UNHCR (The UN Refugee Agency) menggelar trunk show bertajuk "Women's Resilience: From Surviving to Thriving – Mishka Project by Makaila Haifa. Acara trunk show yang diperagakan oleh para pengungsi wanita dari Palestina, Somalia, dan Afghanistan, serta pameran karya fashion painting dari para pengungsi berbakat asal Sri Lanka dan Afghanistan. Foto: Dok. @makailahaifa_ |
Hida mengaplikasikan teknik fashion painting sebagai sorotan utama karena setiap goresan kuas di atas kain merupakan manifestasi emosi dan mimpi para pengungsi. Menurutnya setiap hasil karya pengungsi memiliki cerita tersendiri.
"Setiap pakaian punya cerita sendiri, saya mewadahi emosi dan mimpi mereka dalam karyanya. Produknya juga memiliki nilai. Tantangannya, di Eropa karya seperti ini sudah sangat diapresiasi, sementara di sini kita masih berjuang karena banyak orang belum paham. Namun, semakin kita konsisten, semakin banyak apresiasi yang datang untuk karya mereka," kata Hida.
Selain memberikan pelatihan keterampilan kreatif, kolaborasi ini bertujuan untuk membuka pintu peluang kerja bagi para pengungsi. Hida mengakui bahwa melatih para pengungsi memiliki tantangan tersendiri karena kompleksitas kehidupan yang mereka jalani. Namun, ia berharap pelatihan ini dapat menjadi batu loncatan bagi para peserta untuk mendapatkan tawaran pekerjaan yang lebih baik.
Brand hijab dan modest wear lokal, berkolaborasi dengan UNHCR (The UN Refugee Agency) menggelar trunk show bertajuk "Women's Resilience: From Surviving to Thriving – Mishka Project by Makaila Haifa. Acara trunk show yang diperagakan oleh para pengungsi wanita dari Palestina, Somalia, dan Afghanistan, serta pameran karya fashion painting dari para pengungsi berbakat asal Sri Lanka dan Afghanistan. Foto: Dok. @makailahaifa_ |
"Tantangan hidup pengungsi itu sudah kompleks, jadi untuk bisa konsisten ikut workshop itu sulit. Setiap karya mereka mungkin terlihat sederhana, tapi value-nya besar. Kita mendukung mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup di sini. Ada isu negatif karena ketidaktahuan apa itu pengungsi, melalui acara ini, saya ingin kita sama-sama lebih peduli," jelas Hida.
Tak hanya memberdayakan pengungsi, koleksi ini juga mendukung ekonomi lokal. Hida melibatkan penjahit dari kampung halamannya Tasikmalaya. Dia ingin membantu penduduk lokal yang terdampak pasca pandemi. Dengan kisaran harga Rp 350 Ribu hingga Rp 2 Juta, koleksi ini kini mulai dipasarkan secara daring.
Brand hijab dan modest wear lokal, berkolaborasi dengan UNHCR (The UN Refugee Agency) menggelar trunk show bertajuk "Women's Resilience: From Surviving to Thriving – Mishka Project by Makaila Haifa. Acara trunk show yang diperagakan oleh para pengungsi wanita dari Palestina, Somalia, dan Afghanistan, serta pameran karya fashion painting dari para pengungsi berbakat asal Sri Lanka dan Afghanistan. Foto: Dok. @makailahaifa_. |
"Targetnya balik lagi, pure ingin membantu. Panggilan hati dan saya tidak bisa diam. Saya punya empati ikut menyuarakan. Ada ibu yang punya anak dan pernah merasakan hal yang sama. Harapannya sektor pemerintah dan embassy sama-sama lebih peduli dan support refugee wanita," jelasnya.
(gaf/eny)
















































