Sunsilk Hijab Hunt 2016
Pernah Jadi Korban Tsunami, Nina Ingin Jadi Juara Sunsilk Hijab Hunt 2016
Eny Kartikawati - wolipop
Sabtu, 26 Mar 2016 16:47 WIB
Jakarta
-
Nina Maulidia Rizka, mahasiswi cantik asal Aceh ini pernah merasakan dahsyatnya gelombang tsunami. Namun peristiwa tersebut tidak membuatnya dilanda trauma berkepanjangan. Peristiwa yang membuatnya kehilangan ibunya itu dijadikannya sebagai pijakan untuk melakukan berbagai hal positif seperti mengikuti Sunsilk Hijab Hunt 2016.
Nina termasuk peserta audisi Sunsilk Hijab Hunt 2016 yang digelar pertamakalinya di Banda Aceh, Sabtu (26/3/2016). Dia menampilkan kemampuannya menari tradisional, menyanyi dan tilawah.
Mahasiswi 22 tahun itu mengalami peristiwa tsunami saat usianya 11 tahun. Meskipun sudah lebih dari 10 tahun berlalu, Nina masih ingat jelas peristiwa yang membuatnya kehilangan ibu tersebut. Saat tsunami menerjang, dia dan beberapa keluarganya lari ke arah perbukitan, sedangkan ibunya dan adiknya lari ke arah berbeda.
"Aku sempat pegangan pohon kelapa bersama beberapa orang lainnya. Saat airnya sudah agak tenang, kita, dengan pegangan pohon-pohon yang hanyut, bisa sampai ke tempat yang lebih tinggi," ceritanya mengenang kisah sedihnya.
Setelah air surut, Nina mendapat kabar bahwa ibunya meninggal dunia. Sedangkan adiknya selamat.
Peristiwa tsunami membuat Nina dan keluarganya pindah rumah. Keadaan kawasan tempat tinggalnya di Lhoong, Aceh, saat itu sudah kacau balau. Mereka pun pergi ke Banda Aceh untuk menemui kakak laki-lakinya yang tinggal di kota tersebut.
Nina yang juga sudah kehilangan ayahnya sejak usianya dua tahun kini hidup bersama kakak dan adiknya di Banda Aceh. Sempat menempuh pendidikan di pesantren, sekarang ini dia tercatat sebagai mahasiswi jurusan ilmu komunikasi di Universitas Syah Kuala.
Meskipun peristiwa tsunami menimbulkan pengalaman traumatis, Nina tumbuh menjadi wanita yang selalu bersemangat menjalani hidup. Menurutnya hal itu tidak terlepas dari didikan ibunya saat dia kecil.
"Mama mengikutsertakan aku untuk les nari, ngaji tilawaah, bimbingan belajar. Kegiatan itu yang membuat aku belajar bagaimana bertahan hidup di tempat-tempat baru. Didikan dari mama yang tanpa aku sadari membuat aku jadi kuat," tuturnya.
Nina pun melakukan berbagai kegiatan positif sepanjang masa remajanya hingga kini. Dia pernah menjadi juara Duta Wisata Aceh Besar pada 2014. Dan pada tingkat propinsi dia meraih juara kedua.
"Aku nggak mau mengecewakan mama yang selalu dukung aku ikut berbagai lomba waktu aku kecil dulu," ujarnya.
Nina berharap melalui Sunsilk Hijab Hunt 2016 dia bisa lebih banyak melakukan kegiatan positif. Dia pun ingin bisa mewujudkan mimpinya menjadi jurnalis televisi melalui ajang bakat yang digelar Detikcom dan Trans7 itu.
(asf/asf)
Nina termasuk peserta audisi Sunsilk Hijab Hunt 2016 yang digelar pertamakalinya di Banda Aceh, Sabtu (26/3/2016). Dia menampilkan kemampuannya menari tradisional, menyanyi dan tilawah.
Mahasiswi 22 tahun itu mengalami peristiwa tsunami saat usianya 11 tahun. Meskipun sudah lebih dari 10 tahun berlalu, Nina masih ingat jelas peristiwa yang membuatnya kehilangan ibu tersebut. Saat tsunami menerjang, dia dan beberapa keluarganya lari ke arah perbukitan, sedangkan ibunya dan adiknya lari ke arah berbeda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah air surut, Nina mendapat kabar bahwa ibunya meninggal dunia. Sedangkan adiknya selamat.
Peristiwa tsunami membuat Nina dan keluarganya pindah rumah. Keadaan kawasan tempat tinggalnya di Lhoong, Aceh, saat itu sudah kacau balau. Mereka pun pergi ke Banda Aceh untuk menemui kakak laki-lakinya yang tinggal di kota tersebut.
Nina yang juga sudah kehilangan ayahnya sejak usianya dua tahun kini hidup bersama kakak dan adiknya di Banda Aceh. Sempat menempuh pendidikan di pesantren, sekarang ini dia tercatat sebagai mahasiswi jurusan ilmu komunikasi di Universitas Syah Kuala.
Meskipun peristiwa tsunami menimbulkan pengalaman traumatis, Nina tumbuh menjadi wanita yang selalu bersemangat menjalani hidup. Menurutnya hal itu tidak terlepas dari didikan ibunya saat dia kecil.
"Mama mengikutsertakan aku untuk les nari, ngaji tilawaah, bimbingan belajar. Kegiatan itu yang membuat aku belajar bagaimana bertahan hidup di tempat-tempat baru. Didikan dari mama yang tanpa aku sadari membuat aku jadi kuat," tuturnya.
Nina pun melakukan berbagai kegiatan positif sepanjang masa remajanya hingga kini. Dia pernah menjadi juara Duta Wisata Aceh Besar pada 2014. Dan pada tingkat propinsi dia meraih juara kedua.
"Aku nggak mau mengecewakan mama yang selalu dukung aku ikut berbagai lomba waktu aku kecil dulu," ujarnya.
Nina berharap melalui Sunsilk Hijab Hunt 2016 dia bisa lebih banyak melakukan kegiatan positif. Dia pun ingin bisa mewujudkan mimpinya menjadi jurnalis televisi melalui ajang bakat yang digelar Detikcom dan Trans7 itu.
(asf/asf)










































