Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Mahasiswi Berprestasi Ini Ditolak Wawancara Kerja karena Berhijab

Arina Yulistara - wolipop
Rabu, 04 Nov 2015 16:05 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Weekend Herald
Jakarta -

Perilaku diskriminasi terhadap wanita berhijab masih terjadi di beberapa negara. Seperti dialami oleh Fatima Mohammadi, mahasiswi berprestasi asal New Zealand yang ditolak wawancara kerja karena menggunakan jilbab.

Fatima bercerita bahwa ia melamar pekerjaan di salah satu toko perhiasan di Henderson Mall, New Zealand. Kemudian ia dipanggil oleh pihak toko tersebut untuk wawancara kerja. Dengan senang hati, wanita 20 tahun ini mempersiapkan diri lalu datang dengan pakaian rapi.

Sesampainya di toko perhiasan itu, mahasiswi jurusan hukum dan seni di Auckland University ini langsung ditolak untuk melakukan wawancara kerja. Belum sempat diwawancara, Fatima sudah diminta pulang karena ia datang menggunakan jilbab.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Aku tidak pernah berpikir akan mengalami hal-hal seperti itu karena sesuatu yang aku pakai, aku merasa terhina. Aku pergi dari rumah dan siap untuk wawancara, mendapatkan kesempatan yang adil untuk diterima kerja, tapi aku harus pulang karena syalku," tutur Fatima kepada Weekend Herald.

Fatima diminta pulang oleh manager toko karena hijab tidak sesuai dengan kebijakan perusahaan. Jika memang ingin mengikuti wawancara dan bekerja ia harus melepas jilbabnya. "Dia bilang aku harus melepas jilbabku bila ingin bekerja di sana," tambahnya.

Fatima mengaku sedih dan menangis saat sampai di rumah karena masih terkejut akan sikap diskiriminasi tersebut. Padahal ia sudah berharap mendapatkan pekerjaan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan keluarganya.

Wanita asal Afganistan ini sudah tujuh tahun tinggal di New Zealand. Ia bisa berbahasa Inggris dengan lancar serta mempunyai banyak prestasi di kampus. Fatima telah menuai prestasi baik dalam pendidikan mupun kegiatan ekstrakurikulernya seperti sepak bola, tennis, hingga adu debat.

Fatima juga mengambil pekerjaan sebagai guru les untuk matematika, sejarah, dan bahasa Inggris di kampusnya. Dengan kemampuannya tersebut, anak kedua dari lima bersaudara ini berharap bisa mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan.

Sayangnya ketika pertamakali melamar kerja, ia malah mengalami kejadian yang tak menyenangkan. Meski demikian, Fatima mengaku tidak trauma dan akan mencoba di tempat lain. Namun yang masih membuatnya merasa buruk mengapa hal itu terjadi karena jilbabnya bukan pengaruh pengalaman bekerja atau hal lain yang lebih bisa diterima alasan perusahaan menolaknya.

"Aku memang belum pernah bekerja sebelumnya tapi itu bukan karena kurangnya pengalamanku tapi langsung melihat ke jilbabku. Jadi aku hanya bisa pergi dengan perasaan buruk," pungkasnya.

(aln/aln)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads