Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Kontroversi Model Hijab

Curhat Hijabers yang Sering Didiskriminasi Saat Jadi Model Runway

wolipop
Senin, 16 Mar 2015 15:38 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Blog Ashfi
Jakarta -

Fashion muslim di Indonesia kian berkembang dari tahun ke tahun. Perkembangan ini tak hanya didorong oleh pelaku fashion Tanah Air tapi juga para hijabers muda yang semakin kreatif dalam mengekspresikan diri. Beberapa hijabers memiliki ketertarikan di industri fashion.

Selain menjadi perancang busana, tak sedikit di antara mereka yang ingin terjun ke dunia modeling. Sebelum memutuskan untuk berkarier sebagai model busana muslim, para hijabers perlu mengetahui asam garam dari profesi tersebut. Hingga kini rupanya model berjilbab masih sering mendapatkan perilaku diskriminasi.

Kepada Wolipop, Ashfi Qamara yang merupakan model populer di kalangan hijabers menceritakan bagaimana suka dan duka yang dialami tujuh tahun menjadi model. Wanita yang memulai kariernya sejak 2008 silam itu mengatakan awal mula menekuni profesi tersebut masih jarang sekali model berjilbab karena desainer busana muslim pun belum banyak dan hijab masih dianggap monoton.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal itu berpengaruh terhadap pekerjaan yang diperolehnya. Di 2008 hingga 2010 ia jarang mendapatkan tawaran job hanya saat bulan-bulan tertentu seperti Ramadan atau acara Islami lainnya. Oleh karena itu, banyak yang menyarankannya untuk buka jilbab agar tidak sepi job.

"Dulu banyak yang menyarankan 'buka jilbab saja biar banyak job-nya', cuma aku tetap nggak mau dan tetap ingin jadi model berjilbab. Yang menyarankan nggak hanya teman tapi juga guru-guru model aku saat sekolah modeling," saat dihubungi Wolipop melalui telepon, Senin (16/3/2015).

Ashfi mengikuti pendidikan modeling selama kurang lebih tiga bulan. Setelah kursus ia mulai menjadi model lepas tapi untuk busana muslim. Ia pun sering diminta menjadi model desainer Malik Moestaram dan beberapa perancang lainnya.

Karier wanita lulusan Universitas Katolik Parahyangan Bandung itu mulai berkembang sejak 2010 ketika busana muslim di Indonesia semakin beragam. Ashfi berpikir setelah fashion hijab di Indonesia berkembang maka akan lebih memudahkan jalannya untuk mengepakkan sayap di industri fashion karena jilbab tidak lagi dianggap kaku.

Faktanya tidak demikian, semakin meningkatkan fashion muslim Indonesia semakin ketat pula persaingan yang dihadapinya. Ashfi mengaku tantangan terbesar hijabers yang ingin menjadi model masih seputar jilbab itu sendiri. Banyak pihak di industri fashion yang masih mengucilkan model berhijab. Bila ada kesalahan sedikit saja ketika sedang latihan di catwalk akan semakin diremehkan.

"Tantangan terbesar sih karena jilbabnya. Ada saja yang sinis sampai sekarang masih seperti itu, kayak nggak diajak ngobrol sama sesama model, kalau ada yang salah benar-benar 'dimarahi' dan dilakukan di depan semua orang untuk mempermalukan kita. Tapi jadi model itu memang harus perfect baik berjilbab atau nggak," ujar wanita 26 tahun itu.

Ibu satu anak ini mengatakan sikap tidak menyenangkan tak hanya dialami dari sesama model tapi bisa juga desainer, fotografer, hingga make-up artist. Ashfi kembali menceritakan kisah terbarunya yang dialami saat menjadi model dan mengayaomi para model berhijab baru di Indonesia Fashion Week (IFW) 2015.

Salah satu sikap tidak menyenangkan dialami dari beberapa penata rias yang seolah mengabaikan pendiri agensi model Zaura Models Management dan rekan-rekannya. Sementara model yang tidak berjilbab didahulukan dan diberikan sikap terbaik.

Hal ini menurutnya perlu dipahami setiap hijabers yang ingin terjun sebagai model agar lebih siap mental. Jika tidak siap dengan perkataan dan sikap kasar dari berbagai sumber sebaiknya pertimbangkan kembali untuk berprofesi sebagai model.

"Mental harus kuat banget karena omongan kasar pasti banyak di lingkungan fashion, mereka bukan beramksud menyakiti hati tapi memang model itu harus sempurna. Jadi kalau kita nggak cocok di dunia seperti itu jangan terjun sebagai model. Akan banyak omongan 'kepala lo dipakaikan apa sih', kritik pedas dari mana-mana, orang terdekat sekalipun. Tapi juga nggak boleh congkak dan merasa paling cantik," saran wanita yang sering membawakan rancangan dari Irna Mutiara itu.

(aln/aln)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads