Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Redakan Stereotipe Buruk Berhijab, Mahasiswi Paris Gelar Hijab Day

Arina Yulistara - wolipop
Kamis, 28 Apr 2016 17:39 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Ist.
Jakarta - Setelah serangan bom di Paris, Prancis, yang terjadi pada akhir 2015 lalu, beberapa wanita berhijab yang tinggal di negara tersebut merasa resah. Mereka takut stereotipe tentang Islam dan wanita berhijab semakin buruk yang berakibat meningkatkan kasus penyerangan Islamophobia. Untuk meredakan streotipe tersebut, sejumlah kelompok muslim menggelar acara hijab.

Acara tersebut bertujuan untuk meredakan pandangan negatif tentang Islam. Bahkan di Paris, ada sekelompok mahasiswi muslim dan non-muslim yang menggelar Hijab Day baru-baru ini. Dikutip dari New York Times, mahasiswi dari universitas populer di Paris, Sciences Po, ramai-ramai mengenakan jilbab dalam rangka Hijab Day.

Acara itu digelar tepat seminggu setelah Perdana Menteri Prancis, Manuel Valls, menyarankan agar siswi di perguruan tinggi tidak menggunakan jilbab dan mengklaim bahwa mayoritas masyarakat Prancis tak percaya dengan hijab karena tidak sesuai nilai-nilai negara Republik.

Para mahasiswi juga mengajak masyarakat lainnya untuk mencoba berhijab selama satu hari untuk memahami bagaimana rasanya menjadi perempuan muslim. Ini juga untuk menetralisir stigma buruk akan wanita berhijab di masyarakat Prancis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak hanya para mahasiswi tapi beberapa staf kampus juga mencoba mengenakan jilbab selama satu hari. Acara ini mendapat dukungan dari para feminis di Sciences Po yang bernama Politiqu'elles. Beberapa mahasiswi dari berbagai fakultas juga turut mendukung acara tersebut dengan berpartisipasi di dalamnya.

Meski demikian, Hijab Day juga menuai kontroversi. Salah satu pendapat lain yang tidak mendukung acara itu datang dari mantan Menteri Pertanian Prancis, Bruno le Maire. Ia dengan jelas mengatakan tidak setuju dengan adanya Hijab Day di Sciences Po.

"Sebagai seorang profesor di Sciences Po, saya mengungkapkan ketidaksetujuan saya di #HijabDay. Di Prancis, wanita itu terbuka. Tidak ada dakwah!" tulisnya di Twitter.

Menanggapi beberapa komentar negatif dari berbagai kalangan, pihak universitas menerbitkan pernyataan yang mengatakan bahwa acara Hijab Day telah diizinkan karena semua mahasiswa Sciences Po bebas berekspresi dan menjadi tempat debat terbuka. Semua mahasiswa bebas mengeluarkan pendapatnya.

"Kita menjadi tempat debat yang digelar secara terbuka tapi tidak diartikan sebagai sekolah yang secara aktif mendukung satu kegiatan saja," ungkap juru bicara Sciences Po.

Beragam respon baik yang negatif maupun positif dilontarkan oleh masyarakat luas. Sejak Rabu sore (20/4/2016), sebanyak 35 ribu tweet menanggapi acara Hijab Day di Sciences Po. (ays/ays)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads