Inspiratif, Hijabers Indonesia Ini Rilis Scarf Ramah Lingkungan

Silmia Putri - wolipop Rabu, 26 Des 2018 17:01 WIB
Hijabers asal Indonesia rilis scarf ramah lingkungan. Foto: Instagram/parte.co Hijabers asal Indonesia rilis scarf ramah lingkungan. Foto: Instagram/parte.co

Jakarta - Industri busana muslim di Indonesia semakin berkembang. Sebagai negara yang didominasi muslim, perniagaan ini dianggap sesuatu yang meunguntungkan. Setiap tahunnya, selalu ada produk-produk baru yang diiringi dengan perputaran tren yang cukup cepat.

Namun, seorang hijabers yang juga dikenal sebagai selebgram (selebriti Instagram) bernama Qonita Al Jundiah mencoba membuat sesuatu yang tak hanya sekedar berjualan atau mencari keuntungan. Ia merilis brand yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan.

"Aku berpikir untuk bikin brand sudah cukup lama. Karena satu dan lain hal aku ngerasa, bukan cuma karena ingin unik atau beda atau lebih bagus dari yang lain, tapi basicly, aku hanya ingin bikin sesuatu yang basic, ethical, dan sesuatu yang lebih barokah dan bermanfaat," ungkap Thata, panggilan akrabnya kepada Wolipop via telepon, Rabu (26/12/2018).

Inspiratif, Hijabers Indonesia Ini Rilis Scarf Ramah LingkunganProduk scarf ramah lingkungan dari Parte. Foto: Instagram/parte.co


Thata sudah terjun di dunia fashion hijab sejak lama. Ia pernah menjadi fashion editor di majalah fashion muslim serta aktif mengunggah konten tentang modest fashion di Instagram-nya. Kini ia sudah memiliki 174 ribu followers di Instagram.

Melanjutkan studi di University of Leeds jurusan Fashion, Enterprise & Society, Thata tak hanya belajar tentang sisi artistik dari fashion. Ia pun belajar bagaimana menggarap sesuatu yang bermanfaat untuk lingkungan dan masyarakat.

Pulang ke Indonesia tahun ini, Thata dan teman-temannya pun membentuk brand bernama Parte. Produk pertamanya adalah scarf yang terbuat dari ultra fine voile dan tidak mengandung polyster sama sekali.

"Untuk satu dan lain hal polyester memang kita butuhkan, tapi kalau kita punya alternatif khususnya produk fashion yang lebih banyak unsur cotton-nya, lebih environmental friendly, tentu lebih baik," terangnya.



Bahan polyster menjadi salah satu bahan yang sulit diuraikan atau di-recycle. Menghindari sepenuhnya bahan ini memang sulit dilakukan, tapi menurut Thata, setidaknya kita bisa mengurangi penggunaan ini di satu atau dua barang yang kita punya.

Menurut Thata, sebagai muslim tentu kita juga harus memiliki kesadaran dalam menjaga lingkungan. Saat membeli sesuatu, kita harus teredukasi tentang kualitas bahan dan kebermanfaatan itu untuk lingkungan.

Dalam satu tahun, ada banyak produk fashion yang kita beli. Namun, tak banyak yang berpikir ada berapa banyak sampah yang bisa kita hasilkan dari itu semua, khususnya barang-barang yang sulit diuraikan oleh bumi.

"Jangan sampai kita beli sesuatu hanya karena produk itu murah, lagi sale, warnanya lucu, tapi kita harus concious tentang produk tersebut. Kita membeli sesuatu yang kita tahu akan bermanfaat untuk ke depannya," tambah Thata.

Parte juga memiliki konsep menarik dalam pemilihan warna. Tak seperti brand hijab lain yang menyajikan semua warna, Parte hanya menyajikan warna-warna khusus yang dianggap sesuai dengan tone kulit orang Indonesia.



Warna-warna seperti Spanish Villa, Rosa Tan, dan Deaville Mauve juga merupakan warna yang ada dalam Pantone. Thata dan tim ingin menyajikan produk berstandar internasional, tapi juga disuka oleh orang Indonesia.

Melalui sepotong scarf senilai Rp 150.000, Thata berharap masyarakat Indonesia lebih 'conscious' dan sadar sepenuhnya ketika membeli suatu barang. Tak hanya untuk kepentingan pribadi tapi juga masyarakat dan lingkungan kita.



Tonton juga 'Tips Padukan Hijab dan Perhiasan ala Caren Delano':

[Gambas:Video 20detik]

Inspiratif, Hijabers Indonesia Ini Rilis Scarf Ramah Lingkungan


(sil/sil)