Baju Tradisional Cheongsam & Changshan, Serta Makna di Balik Pemakaiannya

Tim wolipop - wolipop Senin, 25 Feb 2019 16:45 WIB
Baju Tradisional Cheongsam & Changshan, Serta Makna di Balik Pemakaiannya. Foto: Dok. iStock Baju Tradisional Cheongsam & Changshan, Serta Makna di Balik Pemakaiannya. Foto: Dok. iStock

Jakarta - Imlek menjadi sebuah tradisi dalam perayaan tahun baru bagi warga Tionghoa dan keturunannya. Di mana menjelang tahun baru imlek warga Tionghoa selalu disibukkan dengan berbagai aktivitas untuk menyambut tahun baru dalam penanggalan China ini. Mulai dari persiapan baju Imlek, bersih-bersih rumah, memasang pernak-pernik Imlek, hingga membuat aneka kue dan makanan untuk acara nanti.

Selain identik dengan makanan kue keranjang dan festival barongsai, Imlek juga identik dengan pemakaian baju khas China bernama Cheongsam dan Changshan. Kedua baju ini tak lepas dari perayaan imlek setiap tahunnya. Bahkan bagi masyarakat keturunan Tionghoa yang hidup di era modern pun baju ini seakan masih menjadi pilihan sebagai kostum dalam perayaan imlek setiap tahunnya.

Tak heran jika baju Cheongsam dan Changshan menjadi pakaian yang sangat lekat dengan perayaan tahun baru imlek. Lantas, apa sih perbedaan kedua baju China ini? Dan apa makna yang tersimpan dibalik penggunaan pakaian imlek Cheongsam dan Changshan?

Makna Di balik Penggunaan Baju Imlek Cheongsam dan Changshan

Bagi masyarakat awam ataupun untuk mereka keturunan Tionghoa yang lahir di era modern seperti saat ini. Baju Cheongsam dan Changshan mungkin masih dianggap sebagai salah satu baju adat tradisi yang sering dikenakan oleh para nenek moyang mereka duhulu. Meskipun baju ini sudah tidak asing dalam kehidupan mereka. Namun dibalik penggunaan kedua baju tersebut ternyata tersimpan sebuah makna filosofi yang hingga kini masih menjadi pertanyaan bagi sebagian orang.

Bahkan jika diperhatikan baju Cheongsam dan Changshan menjadi pakaian yang sering digunakan oleh pria dan wanita dengan model yang berbeda. Untuk Anda yang masih bingung dengan kedua baju ini. Berikut adalah penjelasan mengenai baju Cheongsam dan Changshan:

Baju Cheongsam

Baju Cheongsam yang dikenal juga sebagai pakaian Qipao adalah baju khas bangsa Tionghoa yang menjadi simbol akan kedudukan sosial kaum perempuan. Baju yang dibuat pada tahun 1920 ini, menjadi salah satu pakaian yang sering dikenakan oleh bangsa Tionghoa khususnya kaum wanita yang memiliki kedudukan sosial yang tinggi.

Dulunya baju ini hanya dikenakan untuk kalangan atas saja, namun seiring perkembangan zaman. Ternyata baju ini justru banyak digunakan oleh mereka yang berasal dari berbagai kalangan. Bahkan yang lebih uniknya lagi, baju ini juga sering digunakan untuk menyambut hari-hari besar dalam penanggalan China. Misalnya saja seperti perayaan tahun baru imlek.

Menjelang perayaan tahun baru imlek, baju Cheongsam seakan menjadi buruan bagi kaum wanita. Dimana selain modelnya yang unik, baju ini juga memiliki desain yang sangat kental dengan pakaian tradisional China. Meskipun modelnya sudah banyak dikembangkan, namun model khas dari baju ini masih tetap dipertahankan. Tidak heran jika di setiap perayaan imlek, baju Cheongsam selalu menjadi pakaian pilihan yang akan mereka kenakan untuk menyambut tahun baru ataupun digunakan untuk bersilaturahmi ke anggota keluarga lainnya.

Baju Tradisional Cheongsam & Changshan, Serta Makna di Balik Pemakaiannya.Baju Tradisional Cheongsam & Changshan, Serta Makna di Balik Pemakaiannya. Foto: Mohammad Abduh


Baju Changshan

Selain baju Cheongsam, baju Changshan juga menjadi salah satu baju imlek yang sangat identik dengan perayaan tahun baru bagi warga ethnis Tionghoa. Dimana Changshan meruapak baju khas tradisional orang China yang khusus digunakan oleh kaum laki-laki. Jika baju Cheongsam digunakan oleh kaum wanita, maka untuk baju ini digunakan oleh kaum laki-laki.

Kata Changshan yang berasal dari Piyin Changshan yang diartikan sebagai baju panjang. Membuat baju ini sangat identik dengan orang China zaman dulu. Dimana dulunya baju ini menjadi salah satu pakaian resmi yang banyak digunakan oleh kaum laki-laki untuk menghadiri beberapa acara. Bahkan penggunaan baju ini juga menunjukan kasta seseorang. Yang mana baju Changshan menjadi salah satu pakaian yang digunakan oleh kalangan kelas atas.

Di abad ke-17 hingga abad ke-20, baju Changshan menjadi pakaian wajib yang harus dikenakan oleh kaum laki-laki. Dimana bagi setiap laki-laki yang tidak mengenakana baju ini maka mereka akan dikenakan sanksi hukuman. Namun seiring perkembangan zaman, peraturan tersebut mulai dihilangkan bersamaan runtuhnya dinasti Qing pada masa itu.

Saat ini baju Changshan telah banyak dimodifikasi dengan berbagai model pakaian ala zaman sekarang. Namun meskipun sudah memiliki model yang beragam, model khas dari pakaian ini masih tetap dipertahankan. Sehingga modelnya masih terlihat layaknya baju tradisional khas China. Bahkan saat ini baju imlek anak juga sudah banyak yang menggunakan model dari baju Changshan ini.

Meskipun kedua baju Cheongsam dan Changshan sudah menjadi baju yang bisa dikenakan di berbagai acara dan sudah tidak mengenal kalangan mana yang bisa mengenakan baju ini. Namun ada yang unik dari baju ini, yaitu keduanya menggunakan warna yang sama yaitu warna merah menyala. Ternyata penggunaan warna merah pada dua pakaian khas China ini bukanlah tanpa alasan. Dimana warna merah memiliki makna yang cukup tinggi bagi para ethnis Tionghoa dan keturunananya.

Baju Tradisional Cheongsam & Changshan, Serta Makna di Balik Pemakaiannya.Baju Tradisional Cheongsam & Changshan, Serta Makna di Balik Pemakaiannya. Foto: Mohammad Abduh


Makna Dibalik Warna Merah Pada Baju Cheongsam dan Changshan

Selain model bajunya yang khas, warna merah seakan mendominasi dari pakaian imlek yang satu ini. Warna merah digunakan bukanlah tanpa alasan. Dimana filosofi dari warna merah memiliki arti yang luar biasa bagi bangsa Tionghoa. Bahkan warna merah menjadi warna andalan yang sangat lekat dengan perayaan imlek setiap tahunnya. Bukan hanya baju, melainkan berbagai ornamen imlek lainnya pun seakan dibuat dengan menggunakan warna merah yang dipadu dengan warna keemasan.



Bagi warga Tionghoa warna merah memiliki filosofi yang cukup tinggi bagi kehidupan mereka. Dimana merah diartikan sebagai warna alami yang datang menyerupai bentuk api. Selain itu warna merah juga menjadi simbol akan kemakmuran dan kebahagiaan dalam hidup mereka. Dimana penggunaan warna merah diyakini dapat memberikan pengaruh posistif untuk kehidupan mereka yang lebih baik lagi.

Bahkan dulunya warna merah juga memiliki metologi bagi warga Tionghoa zaman dulu. Dimana dulunya ada seekor hewan buas bernama Nian. Hewan tersebut memiliki kebiasaan untuk memangsa segala apa yang ada di desa tersebut, baik itu berupa hewan ternak, anak-anak kecil, hingga orang dewasa sekali pun.




Pada suatu hari tanpa sengaja ada seorang penduduk asli Tionghoa yang mengetahui jika hewan Nian berlari ketakutan. Setelah diselidiki, ternyata hewan tersebut bertemu dengan seorang anak yang mengenakan pakaian berwarna merah. Setelah ditelisik lebih lanjut, ternyata hewan Nian tersebut takut terhadap warna merah. Hingga penduduk sekitar pun menggunakan warna merah sebagai alat untuk menakut-nakuti hewan Nian agar tidak kembali memangsa apa yang ada di desa tersebut.

Hingga kini warna merah banyak digunakan sebagai pernak-pernik khas imlek karena memiliki filosofi dan motologi yang cukup dipercayai hingga saat ini. Tidak sedikit, menjelang perayaan imlek seperti saat ini warna merah dan emas diburu untuk mempercantik rumah-rumah, bangunan, taman, hingga berbagai tempat perbelanjaan yang ada di kota-kota besar. Itulah makna dibalik penggunaan baju imlek Cheongsam dan Changshan yang identik dengan warna merah menyalanya.
(nwy/eny)