Alasan Itang Yunasz Kurang Tertarik Tampilkan Karya di Pekan Mode Dunia

Daniel Ngantung - wolipop Rabu, 23 Agu 2017 15:28 WIB
Foto: Mohammad Abduh/Wolipop
Jakarta - Banyak desainer Indonesia yang berlomba-lomba untuk memamerkan karya mereka di pekan mode dunia bergengsi, entah itu di New York, Paris, Milan, atau London. Tapi tidak demikian dengan desainer senior Itang Yunasz. Ia fokus memperkenalkan karyanya di negara dengan pasar yang potensial.

Untuk kedua kalinya, Itang akan berpartisipasi di pameran Collection Premier Moscow di Moskow, Rusia, pada akhir Agustus mendatang.

Berkonsep B to B, CPM adalah pameran produk fashion berskala global terbesar di kawasan Eropa Timur. Sekitar 1.000 merek fashion dan 22.600 buyers dari 27 negara akan ikut serta di ajang yang digelar dua tahun sekali itu.

Alasan Itang Yunasz Kurang Tertarik Tampilkan Karya di Pekan Mode DuniaItang Yunasz usai memamerkan koleksinya di Kuala Lumpur, Malaysia, beberapa waktu lalu. (Foto: dok. Itang Yunasz)

Bagi Itang sebagai desainer busana muslim dan modest wear, ambil bagian di CPM menjanjikan prospek bisnis yang menjanjikan. Berkaca dari pengalamannya di CPM tahun lalu, desainer 58 tahun itu melihat pasar Rusia dan negara-negara Eropa Timur yang mayoritas berpenduduk muslim, seperti Kazakstan dan Uzbekistan, memiliki animo yang besar terhadap produk Indonesia.

Tahun lalu Itang membawa koleksi busana bermotif batik sawunggaling. Ia kaget dengan respons positif para buyers mengingat tampilan motif yang sangat etnik.

Koleksi Itang Yunasz yang dibawa ke Moskow tahun lalu. Koleksi Itang Yunasz yang dibawa ke Moskow tahun lalu. (Foto: Mohammad Abduh/Wolipop)

Diakui Itang, pesanan yang didapat memang masih dalam jumlah kecil. Namun pengalaman tersebut menjadi batu loncatan baginya untuk mengenal lebih dalam selera pasar di sana.

"Kalau mau branding dan cuma dapat tepuk tangan, mending ke New York atau Paris Fashion Week saja. Tapi untuk membangun bisnis, Rusia adalah tempatnya," kata Itang baru-baru ini saat jumpa pers di jumpa pers di Gedung Kementerian Perindustrian, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

Anniesa Hasibuan di New York Fashion Week Februari lalu. Anniesa Hasibuan di New York Fashion Week Februari lalu. (Foto: Getty Images)

Salah seorang desainer Indonesia yang sempat memamerkan karyanya di panggung mode Indonesia adalah Anniesa Hasibuan. Tapi kariernya kandas di tengah jalan menyusul kasus penipuan First Travel, agen perjalanan umrah miliknya, yang mengantarkan dia ke penjara.

Potensi pasar Rusia juga diakui oleh Lily Halim dari Aura Convex selaku pengorganisir tim Indonesia. Ia menuturkan, Rusia dan Eropa Timur memberi peluang bagi label Indonesia yang ingin melebarkan bisnisnya ke ranah global. "Rusia memiliki pertumbuhan pasar produk ready-to-wear yang sangat pesat setelah Shanghai dan Beijing," kata Lily di kesempatan yang sama.

Di CPM edisi ke-29 ini, Itang akan membawa koleksi kolaborasinya dengan Gajah Duduk di bawah label Kabana by Itang Yunasz. Berbekal masukan-masukan dari para buyers, Itang kali ini melakukan banyak penyesuaian. Misal, ia lebih banyak bermain dengan warna-warna datar untuk menyesuaikan musim dingin di sana.

"Saya juga banyak menghadirkan busana two-piece dan three-piece, karena itu lebih laku di sana ketimbang one-piece. Outerwear dan busana yang sifatnya bertumpuk juga diperbanyak," tambah desainer yang telah telah berkarya di industri mode Tanah Air sejak 20 tahun lalu itu.

Salah satu look dari koleksi Kabana.Salah satu look dari koleksi Kabana. (Foto: dok. Itang Yunasz)

Selain Itang, delapan desainer dan label Indonesia turut mengikuti. Mereka adalah Prive by Dian Pelangi, Kasha by Sjully Darsono, Devyros, Ekuator, Warnatasku, Kalyana Indonesia, Huraira, dan Teha Bags. Semua label mewakili kekuatan Indonesia yang bisa menjadi nilai jual tersendiri, yakni modest wear dan keragaman budaya.

Karya mereka akan dipamerkan di area seluas 62 meter persegi dengan tajuk 'The Heart of Fashion Craft'. (dtg/dtg)