Memahami Keindahan Tenun Tanimbar yang Sulit Dimengerti

Daniel Ngantung - wolipop Jumat, 18 Agu 2017 14:46 WIB
Foto: Daniel Ngantung/Wolipop
Jakarta - Kain Nusantara bukan hanya indah karena kombinasi warna-warnanya. Motif-motifnya yang menceritakan filosofi kehidupan masyarakat setempat juga menawarkan pesona tersendiri. Seperti itulah tenun tanimbar memancarkan kecantikannya.

Tenun tanimbar berasal dari Kepulauan Tanimbar, Maluku Tenggara Barat. Sepintas motifnya tampak sederhana namun di baliknya sarat akan makna hidup.

"Begitu sederhananya, keindahan tenun tanimbar sulit dimengerti. Untuk memahami keindahannya, kita harus paham dulu motif-motifnya," ujar Lewa Pardomuan, kolektor wastra sekaligus pendiri Gerakan Wastra Indonesia kepada Wolipop di Museum Tekstil Jakarta, Rabu (16/8/2017).

Meski setiap daerah di Tanimbar memiliki tenun dengan ciri khasnya masing-masing, motif tenun tanimbar pada umumnya memiliki motif dengan filosofi yang sama di baliknya.

DiungkapkanHiyashinta Klise,pegiat tenuntanimbar sekaligus pendiri yayasanLamerenan, sumber inspirasi motif tenuntanimbar datang dari lingkungan sekitar, bahkan hingga hal terkecil.
Hiyashinta Klise dengan kain tenun tanimbar bermotif ule rati. Hiyashinta Klise dengan kain tenun tanimbar bermotif ule rati. Foto: (Daniel Ngantung/Wolipop)

"Para leluhur mencoba melihat keindahan dari alam, sekecil apapun bentuknya. Mulai dari jentik nyamuk, ulat, hingga hati jagung," ujar Shinta, begitu sapaan akrbanya.

Salah satu daerah penghasil tenun di Kepulauan Tanimbar adalah Yamdena yang memiliki empat jenis kain, yakni Tais Matan, Tais Anday, Tais Maran, dan Ule Rati. Tais Matan identik dengan motif utama di ujung kain saja, sementara sisanya didominasi garis, lalu Tais Anday dengan ujungnya yang dihiasi garis hitam-putih dan motif utama di tengah.

Memahami Keindahan Tenun Tanimbar yang Sulit DimengertiFoto: Daniel Ngantung/Wolipop


Sementara Tais Maran menampilkan garis di bagian tengah dan motif utama di ujung, Ule Rati hadir dengan motif berbentuk ulat yang tersebar di seluruh kain.

Motif Lelemuke atau bunga anggrek merupakan salah satu motif utamanya. Bagi masyarakat Tanimbar, bunga anggrek melambangkan kecantikan, keagungan, dan keuletan.

Ada pula motif Sair yang menyimbolkan semangat masyarakat Tanimbar dalam berkarya dan menekuni kehidupan, mempertahankan identitas, membela dan melindungi wanita. "Emansipasi wanita memang sudah lama diakui sejak zaman leluhur Tanimbar," kata Shinta.

Tenun Tanimbar juga dikenal dengan motif Tunis atau anak panah. Motif ini merefleksikan kesigapan masyarakat Tanimbar terhadap ancaman. Bagi wanita Tanimbar, motif ini bisa pula bermakna kekuatan dan kesiapan mental untuk menghadapi rintangan hidup.

Yang unik, tidak seperti batik dan beberapa jenis wastra lainnya, tenun Tanimbar bisa dipakai oleh siapa saja tanpa memandang posisi di masyarakat, entah itu raja atau rakyat jelata.

Hal ini karena masyarakat Tanimbar menganut sistem kekerabatan 'Lebit Lokat' atau 'emas untuk semua' yang bermakna setiap individu memiliki hak dan kewajiban yang setara.

Namun pantang bagi masyarakat Tanimbar untuk menenun ketika ada kerabat yang meninggal. Pasalnya, suara yang dihasilkan dari alat tenun diyakini dapat membangkitkan arwah dari liang kubur.

(dtg/dtg)