Mazuki, Label Lokal dengan Koleksi Minimalis Hitam dan Putih
Akhir-akhir ini dunia mode tak lagi banyak memakai warna, melainkan didominasi oleh palet monokrom, hitam dan putih. Warna minimalis yang memberi kesan modern namun membuat statement yang mampu menarik atensi.
Sudah banyak pula desainer muda lokal yang mengangkat warna monokrom sekarang ini. Yang masing-masing memiliki ciri dan karakter berbeda. Salah satu label yang baru rilis adalah Mazuki, label ready to wear dengan gaya minimalis, namun memberi detail konstruktif pada koleksi kapsul pertamanya yang diluncurkan di Casa Domaine Marketing Gallery, kemarin malam.
"Ide utamanya fokus pada konstruksi dan materialnya. Terinspirasi dari konstruksi yang konvensional. Dari bangunan-bangunan yang kosong, aku melihat keindahan. Ketika aku ada di New York aku tak memiliki teman saat aku pindah dari zona nyamanku di Los Angeles. Aku pindah ke sana karena aku ingin berkarier. Saat itu aku berpikir sangat nyaman dalam kesendirian di tengah keramaian, itulah yang menjadi inspirasi dari koleksi pertamaku, Comfortable Solitude," ungkap Miranda Mazuki, desainer di balik label Mazuki saat peluncuran koleksi pertamanya, Comfortable Solitude di Casa Domaine Marketing Gallery, Jakarta Pusat, Kamis (19/3/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Potongan busana berstruktur dengan siluet geometris ia aplikasikan untuk menciptakan rancangan yang dapat dipakai pria dan wanita aktif, namun tetap ingin terlihat stylish dari pagi sampai malam. Koleksi tampil edgy dengan detail unfinished cutting, cutout ataupun konstruksi bahan dan lipatan yang membuat busana tampil menonjol. Pemilihan warna didominasi oleh monokrom. Pilihan yang tepat bagi Miranda demi menampilkan detail potongan dan konstruksi material pada busana, yang akan tertutup jika diaplikasikan dalam penuh warna atau motif.
Potongan busana yang terstruktur tak lepas dari pemilihan bahan yang juga memiliki konstruksi tegas, seperti egyptian cotton, silk dan campuran wool untuk memberi kenyamanan saat dipakai. Pemilihan bahan berkualitas menjadi fokus Mazuki, yang diakuinya didapatkan secara impor. Tak heran jika harga yang ia tawarkan di koleksi perdana itu berkisar antara Rp 1,5 juta sampai Rp 5 jutaan untuk satu helainya.
Bicara tentang koleksi minimalis dalam warna monokrom, tentu tak hanya Miranda yang melakukan hal itu di Indonesia. Banyak pula desainer lokal yang mengusung tema serupa, misalnya Nikicio ataupun Vinora yang lebih dulu terjun ke industri fashion lokal. Sulit memang untuk membuat satu gebrakan yang membuat karyanya tampil beda dari desainer lain. Namun melihat dari koleksi pertamanya dan segala teknik konstruktif serta kualitas bahan yang dibicarakan Miranda, jelas jika desainer muda satu ini memiliki awalan yang baik untuk menambah warna di industri mode Indonesia.
"Para desainer lokal melakukan pekerjaan dengan sangat baik di sini. Untukku, aku hanya berusaha untuk jujur dengan estetika desainku sendiri," tambahnya.
Untuk saat ini, Miranda menjual koleksi pertamanya secara online. Meski begitu, wanita yang pernah magang di berbagai tempat desainer kenamaan dunia, seperti Yves Saint Laurent, Opening Ceremony dan juga Altuzarra itu tak menutup kemungkinan untuk segera membuka toko retail atau tergabung dalam sebuah departement store.
"Aku memilih online karena bisnis ini sangat bagus di sini (Indonesia). Orang-orang tak perlu lagi pergi ke mal atau ke manapun. Kau bisa memesannya dan menyesuaikannya dengan ukuranmu," ujar wanita lulusan sekolah mode Fashion Institute of Design & Merchandising, di Los Angeles itu.
(asf/asf)










































