H&M Bantah Tuduhan Eksploitasi Buruh di Kamboja
Eny Kartikawati - wolipop
Minggu, 28 Okt 2012 10:21 WIB
Jakarta
-
Dalam pernyataannya pihak H&M membantah tudingan tersebut. Menurut mereka, gaji yang dibayarkan sudah sesuai dengan standar upah minimum di Kamboja. Brand yang baru saja membuka toko di Malaysia itu pun mengaku mendorong pemerintah Kamboja untuk menaikkan standar upah minumum.
"Kami ingin semua pekerja dibayar lebih. Oleh karena itu kami mendorong para politikus untuk menaikkan upah minimum," ujar CEO H&M Karl-Johan Persson.
H&M merupakan brand yang cukup digemari belakangan ini berkat kolaborasinya dengan sejumlah desainer terkenal. Desainer yang pernah merilis busana bersama H&M di antaranya Versace, Anna Della Russo, Marni dan paling baru dengan Maison Martin Margiela.
(eny/eny)
Brand H&M mendapat tuduhan serius. Merek asal Swedia itu dituding mengeksploitasi buruh dengan memberikan gaji di bawah rata-rata.
Tuduhan pada H&M itu datang setelah sebuah film dokumenter tayang di salah satu stasiun televisi Swedia, TV4, Rabu (24/10/2012) lalu. Dalam film tersebut terungkap para pekerja pabrik di Kamboja yang memproduksi pakaian untuk brand itu dibayar sangat kecil. Begitu kecilnya hingga para buruh harus meminjam uang untuk membeli makanan.
Seperti dikutip WWD, film itu juga menyebutkan para buruh dibayar 500 kronor atau US$ 75 setiap bulannya. Para buruh harus bekerja selama 70 jam dalam seminggu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami ingin semua pekerja dibayar lebih. Oleh karena itu kami mendorong para politikus untuk menaikkan upah minimum," ujar CEO H&M Karl-Johan Persson.
H&M merupakan brand yang cukup digemari belakangan ini berkat kolaborasinya dengan sejumlah desainer terkenal. Desainer yang pernah merilis busana bersama H&M di antaranya Versace, Anna Della Russo, Marni dan paling baru dengan Maison Martin Margiela.
(eny/eny)











































