Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Refleksi Budaya Jawa Berbalut Busana Modern Karya Didi Budiardjo

Eya Ekasari - wolipop
Kamis, 31 Mei 2012 11:07 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

dok. wolipop
Jakarta -

Lama tak terdengar kabarnya, desainer kenamaan Indonesia Didi Budiardjo menggelar peragaan adibusana terbarunya. Mulai dari konsep acara hingga koleksi mengundang decak kagum para pemerhati dan penikmat mode tanah air.

Bertempat di Ballroom Hotel Mulia, Jakarta, desainer kelahiran 22 November 1969 itu mengusung tema 'Claire de Lune' yang berarti 'T'rang Boelan' untuk peragaan busana couture 2012-2013. Seperti tidak ingin setengah-setengah, Didi pun menampilkan konsep peragaan busana yang berbeda dari biasanya.

Bekerjasama dengan Wolipop, Didi yang dibantu dengan event organizer Studio One mengemas fashion show dalam bentuk live streaming yang bisa diakses dari situs wolipop, detik TV dan My Trans. Menurut Didi, hal itu dilakukannya agar pagelaran busananya bisa dinikmati oleh berbagai kalangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berkat konsepnya itu, Didi serta Wolipop berhasil mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai penyelenggara perancang busana Indonesia pertama yang menggelar peragaan busana dengan fasilitas live streaming.

Tak hanya dari segi konsep serta kemasan show saja yang menarik. Pria yang merupakan lulusan Atelier Fleuri Delaporte Paris itu juga mengajak kolaborasi beberapa seniman daerah. Salah satunya adalah Sagiyo, seniman wayang asal Yogjakarta.

Dalam koleksi busananya kali ini, Didi sengaja mengedepankan nuansa Jawa yang begitu kental. Jadi tak heran jika koleksi pria yang gemar mengenakan kacamata denga frame hitam itu terilhami dari cara memakai kain dodot, beskap, stagen dan aplikasi teknik tatahan wayang.

"Saya ingin mengangkat tradisi Jawa menjadi suatu yang modern. Hal ini karena saya dibesarkan dari keluarga Jawa. Fashion show ini tidak menampilkan busana adat. Saya ingin tampilan yang up to date, ringan dan bisa diintepretasikan lebih luas lagi," ujar Didi Budiardjo saat acara konferensi pers di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (30/5/2012).

Peragaan busana Didi Budiardjo diawali dengan terusan pas badan dengan detail wrapping pada bagian dada. Rangkaian gaun berpotongan di lutut itu didominasi oleh warna putih dan laser-cut pada bagian dada. Untuk melengkapi penampilan busana, Didi juga menawarkan berbagai potongan coat. Satu yang menarik adalah coat berwarna abu-abu yang terbuat dari bulu unggas dan ditata menyerupai dedaunan.

Ada juga bebera gaun bersiluet jam pasir yang dihiasi oleh permainan kristal di sana-sini sehingga menyatakan tampilan glamour. Didi pun memaksimalkan karyanya dengan aksesori kepala berupa pasta gelas yang dibuat oleh seniman gelas asal Surabaya. Aksesori tersebut dibuat seolah-olah berbentuk seperti cipratan air dan ukiran es batu.

"Saya tidak menggunakan bahan tradisonal, seperti batik. Tetapi saya terinspirasi. Ada satu yang menginspirasi saya, yaitu batik Tirta Teja yang berati cahaya di atas air. Lalu saya gunakan motif batik Tirta Teja, jadilah satu baju yang terdiri dari kristal tear drop," jelas desaner yang lahir di kota Malang itu.

Didi dikenal sebagai perancang busana yang gemar menggunakan teknik menggulung serta menggelombangkan kain dalam satu buah gaun. Jadi jelas tak mungkin jika rangkaian busana Didi tidak tampil dengan aksen mewah seperti draperi, frill, tumpuk serta lipit.

Desainer yang suka memamerkan karyanya di beberapa kota besar mancanegara seperti Jepang, Belanda dan Rusia itu menghadirkan detail sturktur yang tak biasa. Didi memakai zipper atau resleting busana yang diwarnai emas serta perak sebagai motif dalam beberapa gaunnya.

Sebelum penutup pagelaran busana, Didi menghadirkan beberapa koleksi gaun pengantin yang diperagakan oleh artis serta model ternama Indonesia. Beberapa diantaranya adalah, Nadine Chandrawinata, Luna Maya, Laura Basuki dan Fahrani. Setelah itu, fashion show pun ditutup dengan gaun pengantin putih yang dilengkapi coat berbahan kulit sapi dengan detail tatahan wayang bergambar sayap.

"Karya pak Sagiyo bisa dilihat, salah satunya pada baju terakhir saya. Saya membuat sayap seperti dalam cerita wayang yang ditatahkan di bagian dada untuk menunjukkan inilah jiwa saya, jiwa Jawa," jelas Didi.

(eya/eya)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads