Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Tren Gen Z Cari Pacar dengan Vibe Sama Persis, Pakar Ungkap Risikonya

Kiki Oktaviani - wolipop
Kamis, 04 Jun 2026 11:01 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Iu dan Byeon Woo Seok di Drama Korea Perfect Crown
Ilustrasi (Iu dan Byeon Woo Seok di Drama Korea Perfect Crown) Foto: Dok. MBC Drama Instagram
Jakarta -

Di tengah dunia kencan yang makin dipenuhi istilah viral, muncul satu tren baru di kalangan Gen Z yakni mencari pasangan dengan vibe yang sama persis. Tren ini dikenal lewat istilah 'match my freak', yang populer setelah lagu Nasty milik Tinashe viral pada 2024.

Lirik "is somebody gonna match my freak" kemudian berkembang menjadi semacam standar baru dalam hubungan asmara anak muda. Banyak Gen Z kini merasa tertarik mencari pasangan yang bukan hanya cocok secara umum, tetapi juga punya energi, kebiasaan unik, hingga selera humor yang benar-benar mirip dengan mereka. Mulai dari sama-sama obsesif dengan drama remaja era 2000-an hingga kebiasaan saling kirim Instagram Reels sepanjang hari, semua dianggap bagian dari kecocokan "vibe".

Di era kencan modern yang sering terasa monoton dan penuh percakapan template, tren ini dianggap lebih menyenangkan dan terasa autentik. Banyak orang merasa lebih nyaman saat bisa menunjukkan sisi paling unik mereka sejak awal pendekatan. Namun menurut pakar hubungan, terlalu fokus mencari pasangan dengan vibe identik justru bisa menjadi jebakan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pakar hubungan dari eharmony, Susie Kim, mengatakan bahwa kesamaan energi atau kebiasaan unik memang bisa membantu membangun chemistry di awal hubungan. Tetapi, hal itu bukan faktor utama yang menentukan apakah hubungan bisa bertahan lama atau tidak.
Menurutnya, hubungan yang sehat biasanya dibangun dari kualitas yang lebih mendalam.

"Kedewasaan emosional, kemampuan berkomunikasi, dan bagaimana dua orang menghadapi konflik bersama, terutama kemampuan memperbaiki hubungan setelah bertengkar," kata Kim saat menjelaskan faktor yang paling sering ditemukan dalam hubungan sukses.

ADVERTISEMENT

Ia menambahkan bahwa pasangan yang langgeng biasanya sama-sama punya komitmen untuk terus berusaha mempertahankan hubungan. Kim juga mengingatkan agar Gen Z tidak terlalu cepat menilai seseorang hanya karena tidak langsung terasa "nyambung."

"Banyak orang menjalani hubungan bahagia jangka panjang dengan pasangan yang sebenarnya tidak punya hobi atau vibe yang sama di atas kertas," ujarnya.

Pendapat ini juga diperkuat oleh studi Northwestern University tahun 2017 yang menganalisis lebih dari 400 penelitian tentang kecocokan romantis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesamaan minat atau kepribadian unik tidak otomatis membuat hubungan lebih awet. Faktor seperti pola komunikasi, kemampuan menyelesaikan konflik, rasa aman secara emosional, dan tujuan hidup jangka panjang justru dianggap jauh lebih penting.

Selain soal kecocokan vibe, Kim juga menyoroti kebiasaan sebagian Gen Z yang terlalu cepat membuka sisi paling personal saat baru mengenal seseorang. Menurutnya, menjadi autentik memang penting, tetapi tetap perlu ada proses membangun rasa percaya. Ia menyebut kebiasaan terlalu cepat vulnerable bisa menciptakan kedekatan palsu. Hubungan terasa sangat dekat di awal, padahal sebenarnya fondasinya belum kuat.

"Ada perbedaan antara membagikan diri secara autentik dengan membongkar semuanya terlalu cepat sebelum benar-benar mengenal orang tersebut," jelasnya.

Kim menyarankan agar anak muda lebih peka membaca dinamika hubungan, bukan sekadar terburu-buru menunjukkan seluruh sisi diri demi terlihat cocok. Menurutnya, keintiman yang sehat berkembang secara bertahap dan dibangun bersama, bukan dipaksakan sejak awal.

(kik/kik)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads