Kisah Haru Suami yang Masih Cari Istri 10 Tahun Setelah Tsunami

Rahmi Anjani - wolipop Jumat, 12 Mar 2021 13:00 WIB
Yasuo Takamatsu Ilustrasi. Foto: AP/Eugene Hoshiko
Jakarta -

Bulan ini tepat sepuluh tahun terjadinya gempa bumi dan tsunami di Fukushima, Jepang. Memakan banyak korban, sayangnya tidak semuanya bisa ditemukan. Satu dekade berlalu, seorang suami bernama Yasuo Takamatsu pun masih berusaha untuk menemukan istrinya Yuko yang menghilang setelah bencana dahsyat tersebut. Hingga kini, ia pun tetap mencari jasad istrinya hingga ke dasar laut.

Yuko hilang setelah gempa bumi dan tsunami yang menghantam Fukushima. Sehari setelahnya, Yasuo menerima pesan dari sang istri yang berbunyi, 'Apa kamu baik-baik saja? Aku ingin pulang.' Terdorong dengan pesan tersebut, Yasuo pun berusaha keras untuk mencari istri yang seolah meminta jasadnya dijemput untuk pulang bersamanya.

Yasuo Takamatsu, 57 dives looking for his wife - one of 2,636 people who are still missing after the disaster. Ông...

Dikirim oleh Nam Nguyen pada Selasa, 11 Maret 2014

Selama 10 tahun terakhir, Yasuo sudah mencari Yuko ke mana-mana. Awalnya pria 64 tahun tersebut berusaha menemukan sang istri di daratan, dimulai dari bank di mana Yuko terlihat terlahir kali. Kemudian Yasuo mulai beralih ke tempat-tempat yang mungkin membuatnya sulit dicari, mulai dari pantai-pantai di Onagawa, hutan, hingga pegunungan tapi tidak juga ditemukan.

Dua tahun kemudian, Yasuo mengontak toko peralatan selam untuk minta diajarkan menyelam untuk bisa menemukan jasad istrinya di laut. Semenjak saat itu, Yasuo menyelam setiap minggunya. Terhitung masih baru, saat pencarian pria itu biasanya ditemani oleh instruktur selam yang mengajarkannya sejak awal.

[Gambas:Youtube]



Meski belum mendapatkan hasil, ia mengaku akan tetap melakukan pencarian selama tubuhnya masih bisa. Kini setiap minggu, ia mempertaruhkan nyawanya sendiri dan bergabung dengan komunitas lokal untuk mencari 2.500 orang lain yang jasadnya belum ditemukan.

"Aku selalu berpikir bahwa dia mungkin ada di suatu tempat yang dekat," kata Yasuo yang belum menyerah.

(ami/ami)