ADVERTISEMENT

Meghan Markle Tak Tahan Kehidupan Istana, Sarah Ferguson: Bukan Negeri Dongeng

Hestianingsih - wolipop Selasa, 09 Mar 2021 19:30 WIB
ODIHAM, ENGLAND - MARCH 24:  The Duchess Of York speaks to her Ex-Husband Prince Andrew as they arrive at All Saints Church, Odiham, Hampshire, England for a Thanksgiving Service for Major Ronald Ferguson March 24, 2003. The Major, who died last week, was the ex-Father in Law of H.R.H. Prince Andrew and had been polo manager to H.R.H. Prince Charles.  (Photo by Julian Herbert/Getty Images) Sarah Ferguson. Foto: Getty Images
Jakarta -

Meghan Markle mengakui mengalami masa sulit saat tinggal di lingkup Kerajaan Inggris. Dia bahkan mengungkap sempat tertekan hingga ingin bunuh diri.

Nyatanya, bukan hanya Meghan Markle yang tidak kuat terhadap tekanan hidup di istana. Sarah Ferguson, mantan istri Pangeran Andrew, juga merasakan hal yang sama.

Di tengah hebohnya hasil wawancara Meghan Markle dan Pangeran Harry bersama Oprah Winfrey, rekaman sang presenter dengan Sarah Ferguson pada 1996 silam kembali naik ke permukaan.

Dalam acara The Oprah Winfrey Show tersebut, ibunda Putri Eugenie dan Putri Beatrice ini, juga bercerita bagaimana kehidupan 'orang luar' alias menantu di lingkungan kerajaan. Kala itu, Sarah yang baru bercerai dari Pangeran Andrew mengungkapkan bahwa kehidupan sebagai anggota kerajaan tidaklah seindah seperti cerita dalam dongeng.

This image provided by Harpo Productions shows Prince Harry, left, and Meghan, Duchess of Sussex, speaking about expecting their second child during an interview with Oprah Winfrey. Wawancara Oprah Winfrey dengan Pangeran Harry dan Meghan Markle. Foto: Joe Pugliese/Harpo Productions via AP

"Kamu tidak menikah dengan dongeng, tapi menikahi seorang pria. Kamu jatuh cinta dan menikahi pria, lalu dihubung-hubungkan dengan kisah negeri dongeng. Sekarang ini bukanlah cerita dongeng, tapi kehidupan nyata," tutur Sarah Ferguson, seperti dikutip dari People.

Salah satu aspek yang sulit membuatnya terbiasa saat menjadi anggota Kerajaan Inggris adalah peraturan Istana Buckingham. Misalnya saja cara membuka jendela yang harus sesuai protokol.

"Istana saat dilihat dari luar, jendela-jendelanya hanya boleh beberapa yang dibuka agar tampak teratur, dan saya masuk ke situ dan membuka semua jendela. Tidak bukan begitu, itu salah," ungkapnya.

ODIHAM, ENGLAND - MARCH 24:  The Duchess Of York speaks to her Ex-Husband Prince Andrew as they arrive at All Saints Church, Odiham, Hampshire, England for a Thanksgiving Service for Major Ronald Ferguson March 24, 2003. The Major, who died last week, was the ex-Father in Law of H.R.H. Prince Andrew and had been polo manager to H.R.H. Prince Charles.  (Photo by Julian Herbert/Getty Images)Sarah Ferguson diapit Putri Beatrice dan Putri Eugenie. Foto: Julian Herbert/Getty Images

Setali tiga uang dengan Meghan Markle, wanita yang akrab disapa Fergie ini juga jadi sasaran 'kekejaman' tabloid Inggris. Dia menuturkan bahwa pers Inggris pada saat itu sangat kejam, kasar dan agresif.

"Sangat kejam dan menyakitkan ketika saya berusaha mencoba menemukan kecocokan ketika berada di panggung publik seperti itu," ucapnya.

Fergie bisa saja tetap bertahan sebagai anggota kerajaan dan menerima tekanan demi tekanan di bawah sorotan publik. Namun menurutnya, itu bukanlah dirinya. Dia merasa tidak cocok dengan kehidupan istana.

"Ya bisa saja, dan jika kehidupan itu cocok buatmu, jalanilah. Tapi Diana dan saya seperti sungai, kami ingin belajar lebih banyak, kami ingin pergi ke sudut-sudut, kami haus (pengetahuan)," kata Sarah Ferguson, merujuk pada Putri Diana, yang saat itu juga bercerai dari Pangeran Charles.

(hst/hst)