Viral Curhat Perjuangan Dokter Rawat Pasien Corona di Wisma Atlet

Anggi Mayasari - wolipop Rabu, 01 Apr 2020 15:02 WIB
Petugas kesehatan memeriksa alat kesehatan di ruang IGD Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3/2020). Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran itu siap digunakan untuk menangani 3.000 pasien. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/Pool/aww. Rumah sakit darurat Wisma Atlet.Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Jakarta -

Pandemi corona telah menyebar di Indonesia. Per hari Selasa (31/3/2020) tercatat ada 1.528 kasus positif dan 136 meninggal karena Covid-19. Penyebaran virus corona ini membuat pemerintah melakukan beberapa kebijakan. Salah satunya menjadikan Wisma Atlet sebagai rumah sakit darurat untuk penanganan Covid-19.

Salah satu dokter yang bertugas di Wisma Atlet dalam penangan pasien virus corona, dr. Debryna Dewi Lumanauw jadi viral setelah menceritakan bagaimana pengalamannya di sana. Wolipop sudah mengonfirmasi pada dr. Debryna mengenai ceritanya ini pada Rabu (1/4/2020). Melalui Instastory yang dibagikannya, Debryna menuliskan bahwa rumah sakit darurat Wisma Atlet terbagi menjadi tiga area yakni zona merah, kuning, dan hijau.

"Begitu masuk zona merah ini, kami sudah menganggap diri kami ODP. Sehingga komitmennya adalah, kami tidak akan secara bebas keluar dari sini sebelum dikarantina 14 hari," tulisnya.

Sejak hari pertama bertugas di Wisma Atlet, Debryna mengungkapkan bahwa pengamanan di rumah sakit darurat ini sangat ketat. Mulai dari pengecekan suhu badan hingga bilik disinfektan yang dijaga oleh petugas militer. Semua pekerja di rumah sakit darurat Covid-19 ini pun diperiksa dan mendapatkan asuransi kesehatan.

"Saya bekerja di IGD sepanjang hari. Kami mulai bekerja pada pukul 05:00 pagi dan selesai sekitar pukul 15:00 WIB," ceritanya.

Staf kesehatan juga disediakan peralatan pelindung diri (APD) yang meliputi masker bedah, sarung tangan, hazmat dan diapers. Debryna pun menjelaskan bahwa ia dan tim medis hanya mengenakan satu set APD untuk setiap shift.

"Kami tidak ingin menyia-nyiakan peralatan. Kami sepakat untuk membatasinya, hanya pakai satu set APD setiap shift sehingga menahan untuk tak makan, minum atau pergi ke toilet selama 9 jam,"ujar Debryna.

Pada postingannya itu, Debryna juga menceritakan bahwa kebutuhan logistik seperti makanan untuk petugas medis tercukupi, karena banyak warga yang menyumbangkannya. Tak hanya itu, ia juga menceritakan bagaimana keadaan dan suasana di IGD dan terkadang membuat dirinya kewalahan.

"Pagi ini kita di IGD kewalahan banget. Bukan hanya karena pasien, tapi karena tidak ada bantuan housekeeping, porter untuk titipan barang pasien dan security triage. Suasana ketika masuk ke dalam rumah sakit sudah membuatku lelah. Banyak pasien juga merasakan kecemasan," terang Debryna.






Simak Video "Rugi Miliaran Gegara Corona, EO Putar Otak Bikin Pertemuan Virtual"
[Gambas:Video 20detik]
(agm/eny)