Pria Crosshijaber Punya Masalah Psikologis, Apakah Bisa Kembali Normal?

Gresnia Arela Febriani - wolipop Selasa, 15 Okt 2019 06:45 WIB
Ilustrasi Foto: iStock
Jakarta - Fenomena crosshijaber menggemparkan jagad media sosial. Crosshijaber diambil dari istilah crossdressing, di mana pria mengenakan baju wanita dan tampil dengan makeup. Sementara crosshijaber adalah pria yang berpakaian seperti wanita muslimah, bahkan menggunakan gamis dan hijab syar'i.

Menurut psikolog Angesty Putri, ada beragam motif penyebab pria menjadi crosshijaber. Mulai dari gangguan seksual, sebuah bentuk ekspresi, penyamaran atau hanya ingin terkenal di media sosial. Apapun alasannya, Angesty mengungkapkan bahwa perilaku crosshijaber memiliki masalah piskologis.


"Orang yang sampai melakukan hal ini, dia punya keberanian melanggar norma umum di masyarakat, artinya dia punya kondisi psikologis tertentu," ungkap Angesty Putri, M. Psi, Psikolog, CPC, saat dihubungi Wolipop, Senin (14/10/2019).

Pria Crosshijaber Punya Masalah Psikologis, Apakah Bisa Kembali Normal? Foto: dok. Twitter


Ketika sudah memiliki masalah psikologis sampai berani tampil seperti wanita, bisakah pria-pria yang terjerumus dengan bergaya seperti crosshijaber ini bisa normal kembali? Menurut Angesty tergantung kondisi dan penerimaan orang tersebut.

"Tergantung motifnya, pulih atau tidaknya tergantung insight-nya (pemahaman). Dia menyadari perilakunya tidak sesuai dengan norma yang berlaku, kalau sudah sadar, tapi kadang tidak bisa melawannya. Kondisi ini mereka sudah ada di tahap kontemplasi, nah bisa lebih mudah dimodifikasi perilakunya. Tapi kalau orang merasa benar, nggak ada salah, mereka belum dapat insight, yang seperti ini lebih challenging," urai Angesty.

Masyarakat pun bisa membantu menyadarkan kehadiran crosshijaber ini dengan menyuarakan bahwa tindakan mereka telah melanggar aturan (misalnya masuk masjid dan berpura-pura menjadi wanita atau berada di toilet wanita).

"Berani menyuarakan. Kalau ketemu dan tahu dia laki-laki, tegur tapi menegurnya dengan cara yang elegan, tidak agresif. Kita tunjukkin bahwa kita berani, tapi jangan juga terlalu kasar," saran Angesty. (kik/kik)