Curhat Sedih Dokter Bedah Plastik, Berakhir di RS karena Bekerja 180 Jam

Anggi Mayasari - wolipop Rabu, 13 Feb 2019 14:10 WIB
Foto: Instagram @mindbodymiko Foto: Instagram @mindbodymiko

Sydney - Di tengah jadwal kerja yang sibuk, setiap orang tentunya membutuhkan istirahat. Tapi, tidak bagi dokter bedah plastik ini yang kesulitan beristirahat dan mendapatkan jam tidur karena kesibukannya bekerja. Ia pun berbagi curahan hatinya itu yang bekerja selama 180 jam selama seminggu dan berakhir di rumah sakit.

Dr Yumiko Kadota adalah seorang ahli bedah plastik di Sydney, Australia. Ia mulai bekerja di Rumah Sakit Bankston-Lidcombe pada Februari 2018. Yumiko pun kemudian menggambarkan pekerjaannya sebagai hari kerja terburuk dalam hidupnya.

Dalam postingan blognya baru-baru ini, Yumiko berbagi tentang jam-jam mengerikan yang harus dia habiskan di rumah sakit. Selama tiga bulan dia bekerja di sana, ia hampir tidak punya waktu untuk tidur, makan atau bahkan bersosialisasi dengan teman-teman.

"Siklus dua minggu saya terlihat seperti ini: Ada panggilan dari Senin pagi jam 7.30 sampai Senin depannya jam 4 sore, sekitar 180 jam terus menerus. Ini berarti bahwa setiap saat selama 180 jam itu, saya dapat panggilan oleh rumah sakit," ungkapnya.

Curhat Sedih Dokter Bedah Plastik, Berakhir di RS karena Bekerja 180 JamFoto: Instagram @mindbodymiko


Yumiko pun mengakui selalu diikuti oleh pekerjaan dengan panggilan telepon saat dirinya pulang, mencoba memarkir mobil di garasi, mandi, memasak makan malam, hingga tidur. Setiap dua minggu, ia juga hanya mendapatkan tidur tanpa gangguan selama empat malam.

"10 malam lainnya tidak dapat diprediksi. Mungkin aku akan bangun, mungkin aku tidak akan bangun. Keresahan mental ini selama 10 hari dalam dua minggu telah membebani saya. Saya tidak bisa pergi dan berolahraga, saya tidak bisa merencanakan apa pun untuk kehidupan sosial, dansaya harus siaga," ujarnya.

"Bukan hanya pasien. Seorang dokter gawat darurat menelepon saya pada jam 3 pagi tentang janji temu. Saya menyatakan bahwa tidak tepat untuk membangunkan saya pada jam 3 pagi tentang hal-hal yang tidak mendesak. Ini bukan darurat. Tapi aku malah diminya berhenti menjadi perempuan yang emosional," imbuh Yumiko.

Dengan jadwalnya yang sibuk, Yumiko terpaksa harus makan di rumah sakit. Biasanya ia makan makanan tidak sehat seperti keripik dan roti pisang. Setelah dua bulan, mantan pelari maraton ini tidak bisa berkata-kata ketika dia didiagnosis mengalami kelebihan berat badan.

"Pada bulan April saya mulai merasa tidak sehat secara fisik. Kombinasi stres, dehidrasi, gizi buruk, dan kurang tidur memengaruhi kesehatan usus saya," ceritanya.

Curhat Sedih Dokter Bedah Plastik, Berakhir di RS karena Bekerja 180 JamFoto: Instagram @mindbodymiko


Setelah melewati semua cobaan dan kesengsaraan, wanita berusia 31 tahun ini tidak punya pilihan selain akhirnya mengundurkan diri dari pekerjaannya. Yumiko pun mengakui meskipun secara fisik dirinya masih hidup, tapi secara rohani ia hancur.

"Saya tahu apa artinya mengundurkan diri saya akan masuk daftar hitam dan saya tidak akan pernah mendapatkan pekerjaan di Bedah Plastik lagi di Sydney. Tapi saya tidak bisa melanjutkan," terang Yumiko.

Sayangnya, perjuangan Yumiko tidak berakhir di situ. Ia juga menulis postingan lain tentang bagaimana dia menderita insomnia parah karena trauma yang dia hadapi. "Apa yang masih mempengaruhi saya setiap malam adalah saya bangun setiap 2 jam karena otak saya masih berpikir akan ada panggilan. Saya harus berpikir 'Tidak, Miko, Anda tidak sedang menelepon, tidak ada keadaan darurat untuk siaga. Kembalilah tidur '. Tapi saya tidak bisa," tulisnya.

Yumiko kemudian dirawat di rumah sakit untuk perawatan perawatan insomnia dan gejala pasca-trauma. Ia pun diberi tahu bahwa dirinya mungkin berada di rumah sakit selama tiga minggu, namun dirinya berakhir di rumah sakit selama enam.



Curhat Sedih Dokter Bedah Plastik, Berakhir di RS karena Bekerja 180 JamFoto: Instagram @mindbodymiko


Yumiko mengakhiri jabatannya dengan menyatakan harapan untuk kembali ke praktiknya begitu dia merasa lebih baik. Terlepas dari semua yang dia hadapi, ia masih memiliki tekad melakukan operasi plastik. Kini, ia telah menghabiskan waktunya dengan membaca buku, berlatih yoga, dan makan makanan seimbang untuk menyembuhkan dirinya sendiri dari trauma. (agm/eny)