Berani atau Nekat? Pria Ini Pertahankan Tas Louis Vuitton dari Perampok

Hestianingsih - wolipop Selasa, 22 Mei 2018 11:51 WIB
Ilustrasi tas Louis Vuitton. Foto: Dcard Ilustrasi tas Louis Vuitton. Foto: Dcard

Michigan - Apa yang akan kamu lakukan kalau ada perampok mencoba merampas tas Louis Vuitton milikmu seharga Rp 24 juta? Kebanyakan orang mungkin akan menyerahkannya --dengan rasa terpaksa dan hati miris tentunya-- demi keselamatan jiwa mereka.

Tapi tidak begitu dengan Jerad Kluting. Alih-alih menyerahkan begitu saja tas berharga puluhan juta rupiah, ia memilih nekat melawan hingga mempertaruhkan nyawanya.

Pria asal Holland, Michigan, ini mengalami kejadian paling mengerikan dalam hidupnya, Senin (14/5/2018) lalu. Saat jalan pulang ke rumah, Jerad melihat seorang pria mendekatinya dengan gelagat mencurigakan. Insting pria 31 tahun ini pun langsung berkata kalau pria tersebut berniat jahat.

"Seperti sebuah firasat ketika kamu merasakan ancaman," kata Jerad, seperti dikutip dari Buzzfeed.

Sayangnya, firasat Jerad benar adanya. Pria tersebut menutupi mulutnya dengan bandana, mengeluarkan senjata dan menodongkan pistol padanya. Sang perampok kemudian menyuruh Jerad menyerahkan tas Louis Vuitton yang dibawanya saat itu.
Jerad Kluting, pria yang tas Louis Vuitton miliknya hampir dirampok. Foto: Dok. WoodTV

Tak disangka, Jerad menolak memberikannya dan justru berargumen dengan perampok tersebut.

"'Kamu nggak akan dapat tas Louis Vuitton saya'. Saya bekerja sangat keras untuk beli ini dan tas ini kesayangan saya dan sangat berarti bagi saya," kata Jerad.

Dia melanjutkan, "Saya belum siap menyerahkannya ke seorang preman yang menginginkannya dari saya... Saya bayar Rp 24 juta untuk tas ini. Saya cinta Louis Vuitton. Saya sudah lama mengidamkan tas ini dan saya menabung untuk membelinya."

Jerad juga menceritakan bagaimana perjuangannya mempertahankan tas kesayangannya itu. Setelah ancamannya tidak mempan terhadap Jerad, perampok tersebut melepaskan dua tembakan ke arahnya dan memaksanya lagi untuk menyerahkan tas tersebut.

Jerad pun lari, dengan sang perampok mengejar di belakangnya. Dor! Dor! Dua tembakan pun kembali ditembakkannya. Untungnya tembakan itu meleset.

"Di tembakan keempat pelurunya habis sehingga dia harus mengisinya ulang," cerita Jerad.
Tas Louis Vuitton yang akan dirampok. Foto: Dok. WoodTV

Beraksi nekat, Jerad bukannya tidak takut dan sok jagoan. Tindakannya itu pun refleks sebagai usaha untuk menyelamatkan jiwanya, dan juga tas Louis Vuitton. Ia bahkan mengaku sudah 'siap' kalau-kalau pelurunya sampai mengenainya.

"Saya tidak punya waktu untuk berpikir - saya hanya bereaksi," kata Jerad.

Beruntung, Jerad berhasil melarikan diri tanpa terlukas sedikitpun. Tak lama setelah kejadian menegangkan itu, polisi mencari perampok tersebut dan menahannya. Polisi juga menemukan pistol curian di tangan perampok berusia 21 tahun itu.

Jerad tidak semata-mata hanya ingin mempertahankan tas seharga puluhan juta rupiahnya itu. Tapi ia menegaskan tak akan terintimidasi oleh orang-orang yang suka mem-bully, termasuk si perampok.

"Tas ini jadi lebih berarti bagi saya, tapi kejadian ini bukan sekadar tidak menyerah. Melainkan perbedaan antara yang benar dan salah. Saat kejadian itu, saya membuat keputusan kedua secepat mungkin," kata Jerad lagi.

Atas aksi berani --dan nekat-- nya itu, Jerad mendapat banyak pujian dari orang-orang di sekitar lingkungannya. Mereka menyebutnya sebagai pahlawan. Namun ia tidak pernah menganggap dirinya demikian. Dia pun mengaku kalau peristiwa serupa terjadi lagi, tas Louis Vuitton itu akan diserahkannya.

"Kekerasan dengan senjata adalah masalah nasional. Yang jadi pahlawan adalah anak-anak dan orangtua di Santa Fe dan Parkland (merujuk pada peristiwa penembakan massal di daerah tersebut -red)," pungkasnya.
(hst/hst)