Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Intimate Interview

Marissa Nasution dan Cerita Bisnis Sepatu yang Sampai ke Luar Negeri

wolipop
Senin, 26 Jan 2015 16:00 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Jacky Suharto/Wolipop
Jakarta -

Mendirikan label Dollhouse demi memuaskan keinginan untuk memiliki sepatu yang berbeda dari yang ada di pasaran, siapa sangka kalau usaha yang berawal dari 'obsesi pribadi' Marissa Nasution berbuah menjadi bisnis menjanjikan. Ya, selain aktif sebagai presenter maupun MC, wanita berusia 28 tahun ini juga disibukkan dengan brand sepatu yang dirintisnya sejak 2011 itu.

Sejak satu bulan lalu, koleksi yang awalnya hanya dipasarkan lewat Instagram itu kini telah memiliki butik sendiri di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Pangsa pasar Dollhouse pun semakin meluas, tidak hanya kalangan selebriti atau sosialita saja tapi remaja hingga wanita dewasa. Bahkan, produknya sudah sampai ke Tanah Sumbawa hingga luar negeri.

"Awalnya aku ciptakan Dollhouse karena ingin buat sepatu yang sesuai keinginan aku, buat aku sendiri. Tapi itu akhirnya jadi konsep brand aku bahwa customer tidak hanya bisa beli barang ready stock tapi juga kita kasih kesempatan untuk customization. Karena ada beberapa customer yang mau sepatu model ini, tapi warnanya beda atau detailnya dimodifikasi," urai Marissa saat berbincang dengan Wolipop di The Hermitage Hotel, Jakarta Pusat, belum lama ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain pendiri, wanita yang baru saja menikah pada Agustus 2014 ini juga bertindak sebagai desainer untuk koleksi ready stock. Saat merancang sepatu, Marissa tidak selalu mengikuti tren dan inspirasinya bisa datang kapan dan dari mana saja, sesuai mood-nya saat itu.

Marissa mengaku hanya mendesain apa yang ia suka, bukan sekadar ikut tren, mengambil inspirasi dari desainer atau mengikuti permintaan pasar. Itulah yang membuat setiap pasang sepatunya terlihat unik.

"Aku lebih seperti, 'ini bahannya bagus, let's do something for this'. Mungkin lebih sepatu yang warna-warni. Aku sebenarnya orangnya simpel tapi sangat suka sepatu," ujarnya.

Koleksi sepatu rancangan Marissa dijual secara terbatas yang tergantung dari ketersediaan bahan. Ketika bahan habis maka sepatu dengan model dan motif yang sama tidak akan diproduksi lagi meskipun permintaan pasar masih ada.

Berburu material untuk dijadikan sepatu pun dilakukan secara spontan. Misalnya saat penyuka olahraga Zumba ini berjalan-jalan ke luar negeri dan melihat bahan yang ia rasa cocok untuk koleksinya, maka dia akan membelinya di waktu itu juga.

Meskipun diproduksi secara terbatas, peminat sepatu Dollhouse tidak ada batasan bahkan hingga ke pelosok negeri. Dengan antusias Marissa bercerita bahwa pembeli koleksi sepatunya ada yang berasal dari Jakarta hingga Sumba. Produknya pernah dikirim ke Pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur, Papua, Malaysia hingga kawasan Eropa.

"Kita juga shipping ke worldwide seperti Malaysia, Singapura. Lucunya ada juga beberapa orang Indonesia yang tinggal di luar negeri seperti Australia dan Paris, jadi kita kirim ke sana," tutur Marissa.

Desain Dollhouse yang selalu fancy dan berwarna-warni, dinilai Marissa menjadi kekuatan produknya yang diminati konsumen. Ia juga mengombinasikan beberapa material tradisional sehingga koleksinya terlihat unik. Misalnya sepatu flat model ballerina berbahan songket atau batik, dengan harapan wanita bisa tampil modern namun tetap membawa unsur budayanya sendiri.

"Aku pernah dapat bahan songket, dan dibuat jadi sesuatu yang indah. Batik juga," pungkasnya.

Untuk target pasar, Marissa mengaku tidak membidik kalangan high-end maupun high-fashion. Ia justru ingin menciptakan produk yang mudah dijangkau kalangan atas maupun menengah. Wanita yang menikah di Bali ini punya ambisi untuk menciptakan sepatu yang berkualitas namun dengan harga yang masih 'wajar'.

Penggemar sepatu rancangannya bisa mendapatkan produk mulai dari harga Rp 600 ribu hingga Rp 1 jutaan. Mulai dari flat untuk remaja hingga high heels untuk wanita dewasa dan ibu-ibu. Nantinya, Marissa berniat melakukan ekspansi bisnis dengan menciptakan lini tas.

"Aku mau realistis, nggak mau bikin sesuatu yang high-end fashion banget tapi you cannot wear it. Pokoknya good quality, affordable dan bisa dipakai," tutupnya.

(hst/fer)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads