Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Intimate Interview

Moza Pramita & Budaya Indonesia yang Ditelantarkan

Ferdy Thaeras - wolipop
Selasa, 03 Jul 2012 07:50 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

dok. Moza Pramita
Jakarta -

Tidak dipungkiri, minimnya apresiasi masyarakat Indonesia terhadap kekayaan budayanya sendiri terlalu jelas dilihat mata. Hal ini begitu dirasakan oleh sosok publisis Dari pagelaran Matah Ati, Moza Pramita. Dalam sebuah bincang intim di kediamannya bilangan Kuningan, Rabu (06/27/2012) ia menyayangkan orangtua zaman sekarang yang sudah jarang meneruskan cerita budaya kepada anak-anaknya sehingga budaya tak lagi dirasa penting oleh generasi berikutnya.

Bekerja untuk Matah Ati, ia mengetahui dari Atilah Soeryadjaya dan Jay Subyakto yang menghadiri Federation of Asian Culture Promotion bahwa selama 27 tahun terakhir, Indonesia vakum dalam asosiasi tersebut. Namun ketika sebuah tarian diambil oleh negeri seberang, barulah masyarakat seperti kebakaran jenggot dan siap berperang.

"Habit di Indonesia, enggak ada yang mau fight soal ini. Bagaimana bisa appreciate the big things Jika hal-hal kecil didiamkan saja?" ungkapnya. Iapun menambahkan, bahwa begitu banyak orang barat yang terkesima dengan pagelaran ini meskipun tidak mengerti bahasa Jawa, namun orang Indonesia kebanyakan selalu menunggu undangan gratisan. "Untuk konser Lady Gaga di Singapura, tidak perlu pikir panjang untuk beli tiket pesawat dan harga yang kursi mahal," ratapnya. Sebuah paradigma yang cukup dilematis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengungkap salah satu strategi paling jitu dari Matah Ati, yakni memulai debutnya di luar Indonesia, dalam hal ini Singapura. "Bayangin kalau kita pertama bikin di Indonesia, mana ada yang mau nonton coba? Karena show pertamanya sukses di luar negeri, otomatis jadi sesuatu dan orang banyak yang jadi penasaran," ujarnya.

Dalam hal penggarapan acara, ia juga menceritakan bahwa Matah Ati yang kaya akan unsur tradisional juga harus mengalami proses kekinian agar tidak membuat audiens bosan. Lain halnya dengan modern, kekinian memiliki makna yang lebih tepat untuk penyampaian akar tradisi. Ia juga menjaga benar untuk tidak menyombongkan perhelatan sendiri dan mengklaim sesuatu yang bagus. "Jangan kita sendiri yang bilang acara kita bagus. Kita harus dengar orang lain. Yang penting adalah we done our best two make a great show," tambahnya.

(fer/kik)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads