Menjadi seorang kreator konten (content creator) saat ini bukan lagi sekadar hobi mengisi waktu luang. Kreator konten bisa jadi profesi menjanjikan namun membutuhkan strategi, mentalitas pembelajaran,dan konsistensi tinggi.
Dalam industri yang terus berkembang pesat, para konten kreator pemula kerap menghadapi berbagai tantangan, mulai dari rasa kurang percaya diri hingga kebingungan dalam menentukan arah konten.
HOB Ecosystem Innovation, Antonius Dimas Prasetyo Utomo, mengungkapkan bahwa kunci utama bagi seorang kreator konten pemula adalah memiliki mindset belajar dan kemampuan adaptasi terhadap tren yang ada.
"Sebagai content creator, kita juga perlu untuk paham sama trennya, perlu mengikuti perkembangan trennya, berkreativitas, dan terus berinovasi. Tapi yang paling penting, kita tuh mau belajar. Itu yang perlu Teman-teman sebagai content creator punya mindset-nya," ujar Antonius, saat grand opening UMG Creator Festival 2026 di Margocity, Depok, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026).
Antonius menekankan bahwa fokus seorang kreator tidak boleh hanya tertuju pada angka kepopuleran semata. Mengarahkan pola pikir saat berkomunikasi dengan audiens menjadi hal yang sangat krusial.
"Ketika kita berkomunikasi dengan audiens, kita perlu tidak hanya mengejar views atau performance, tapi kita juga sedang membangun komunitas. Komunitas ini penting karena akan menjadi fondasi jangka panjang untuk kita ke depannya, untuk content creator kita ke depannya," jelas Antonius.
Ia juga menyoroti pentingnya ruang kolaborasi seperti ekosistem kreator yang memungkinkan sesama pembuat konten untuk berkumpul dan saling menimba ilmu. Salah satunya dengan mengikuti program dari OMG Beauty, yang resmi menggelar OMG Creator Festival 2026, sebuah ekosistem pemberdayaan kreator terbesar yang dirancang untuk mendorong para pembuat konten (content creator) mentransformasi usaha harian menjadi kesuksesan finansial jangka panjang.
Pentingnya Konsistensi dan Mengenali Minat Diri
Di samping pemahaman tren dan audiens, konsistensi menjadi masalah klasik yang sering membuat kreator pemula gugur di tengah jalan. Antonius mengingatkan agar para pemula tidak mudah menyerah hanya karena performa awal konten belum maksimal.
"Itu dirawat dulu kalau kita mau jadi content creator. Jadi mulai lah dengan konsisten terlebih dahulu. Itu kuncinya. Kadang kita tuh suka, 'Aduh, udah upload kok kontennya kurang naik? Ah, udah enggak mau,' akhirnya berhenti lagi. Padahal sebenarnya konsisten aja dulu, coba terus," tegasnya.
Untuk mendukung konsistensi tersebut, langkah awal yang ideal adalah mempertanyakan minat dan tujuan diri sendiri terlebih dahulu sebelum mulai memproduksi konten.
"Mempertanyakan diri sendiri terlebih dahulu, maunya apa, arah content creation-nya mau ke mana. Nah, mulai dari sana, Teman-teman tuh akhirnya paham dan bisa memilih produk-produk mana yang cocok sama Teman-teman. Berangkat dari kesukaan kita terhadap sesuatu, Teman-teman menjadi lebih mudah untuk memilih produk yang akan dikontenkan. Makanya, ujung-ujungnya konten yang dibuat itu akan orisinal dan melekat sama diri kita sendiri," tambahnya.
Dua Keterampilan Utama untuk Pemula: Percaya Diri dan Membaca Pasar
Ketika ditanya mengenai keterampilan pokok yang wajib diasah oleh kreator pemula, Antonius menggarisbawahi dua hal mendasar, rasa percaya diri dan kemampuan membaca peluang pasar. Menurutnya, rasa ragu dan takut dihakimi merupakan kendala paling umum di tahap awal.
"Sebenarnya saat ini yang paling penting untuk kita punya sebagai content creator adalah tentang percaya diri. Itu adalah masalah yang paling umum yang dirasakan sama content creator pemula. Yang kedua, kita harus bisa membaca pasar. Kebetulan background saya juga di dunia affiliate, pemilihan produk dan pemilihan persona itu jadi penting," paparnya.
Ia menambahkan, kesalahan dalam memilih produk yang dipromosikan atau diulas dapat berdampak langsung pada performa serta lalu lintas (traffic) konten dalam jangka panjang.
"Ketika kita memilih produk yang salah untuk kita affiliate-kan, itu pastinya akan mempengaruhi performa atau traffic-nya Teman-teman ke depannya. Makanya untuk pemula, pastikan bahwa pertama percaya diri, dan kedua, pemilihan produk yang Teman-teman pilih untuk di-affiliate-kan atau dipromosikan itu sesuai dengan pasar yang dibutuhkan saat ini," tutup Antonius.
(gaf/eny)