×
Ad

Fenomena 'Office Ageing': Pegawai Kantor Pakai Masker Hingga Buka Payung

Rahmi Anjani - wolipop
Kamis, 03 Sep 2026 08:00 WIB
Foto: Dok. Xiaohongshu
Jakarta -

Meski di dalam ruangan, bekerja di dalam kantor berkontribusi dalam terbentuknya kerutan, garis halus, dan flek di wajah. Selain pengaruh stres karena beban pekerjaan, dinginnya AC dan pencahayaan dapat mempercepat tanda-tanda penuaan. Begitu juga dengan paparan sinar UV untuk mereka yang duduk dekat jendela.

'Office ageing' atau penuaan yang disebabkan karena lingkungan kantor ramai diperbincangkan di media sosial di China. Hal itu berawal saat seorang pengguna RedNote @lelehangmu dari Provinsi Jiangsu menceritakan bahwa hanya dalam waktu satu bulan bekerja, warna kulitnya tampak jauh lebih gelap dan matanya terlihat lelah.

Unggahan tersebut jadi viral dan mengundang diskusi tentang dampak kantor terhadap kulit. Netizen lain melaporkan bahwa kulitnya tampak jauh lebih cerah setelah mengambil cuti. Adapun pegawai yang mengeluhkan paparan asap rokok orang di ruang kantor bersama.

Fenomena Office Ageing Foto: Dok. Xiaohongshu

Untuk mengatasinya, sejumlah pekerja mulai mengenakan topi pelindung matahari atau penutup wajah, mengoleskan tabir surya dalam jumlah banyak pada wajah dan lengan mereka bahkan memasang payung di meja kerja mereka.


Dilansir SCMP, sejumlah pekerja terpaksa menciptakan cara mereka sendiri untuk merawat diri di tempat kerja, seperti mengubah gelas bekas teh susu menjadi pelembap udara (humidifier) darurat atau menaruh benda-benda tak lazim di meja, seperti batu dan biji mangga yang mereka elus atau tepuk-tepuk untuk meredakan kecemasan dan diharap dapat menunda penuaan.

Dampak Kerja di Kantor

Udara kering, sistem ventilasi yang penuh debu, dan kadar karbon dapat dioksida yang tinggi memang dapat memperparah ketidaknyamanan fisik serta kelelahan mental akibat menghabiskan waktu lama di tempat kerja.

Bukan fenomena baru, pada tahun 1980-an, WHO memperkenalkan istilah 'sick building syndrome' untuk menggambarkan yang timbul setelah menghabiskan waktu di dalam gedung, seperti sakit kepala, hidung tersumbat, kulit kering, iritasi tenggorokan, kelelahan, dan sulit berkonsentrasi. Kondisi tersebut sering kali memburuk akibat paparan yang berkepanjangan dan mereda begitu seseorang meninggalkan lokasi tersebut.

Fenomena Office Ageing Foto: Dok. Xiaohongshu


Sindrom ini muncul seiring dengan perubahan dalam arsitektur modern dan inisiatif penghematan energi. Demi menekan biaya pemanasan dan pendinginan ruangan, banyak gedung dibuat semakin kedap udara, yang secara tidak sengaja membatasi aliran udara segar ke dalam ruangan.

Dalam sebuah studi pada 2008, pakar kedokteran sosial asal India, Sumedha Joshi, mengaitkan 'sick building syndrome' dengan penurunan produktivitas dan tingkat ketidakhadiran yang lebih tinggi. Ia pun merekomendasikan perbaikan ventilasi, jeda istirahat rutin, serta strategi untuk mengurangi stres di tempat kerja.

Di media sosial, kekhawatiran mengenai lingkungan kantor berkembang dari aspek kesehatan hingga urusan penampilan. Sebuah tren di TikTok menyoroti kontras antara foto yang diambil saat awal hari kerja dan foto yang diambil beberapa jam kemudian yakni riasan rapi dan mata yang berbinar di pagi hari berganti menjadi rambut berminyak, kulit kusam, dan wajah yang tampak bengkak jelang sore.

Netizen juga mengaitkan kebiasaan duduk terlalu lama dengan postur leher yang condong ke depan dan bahu yang membungkuk, sementara yang lain berkomentar secara jenaka bahwa kebiasaan mengerutkan dahi saat bekerja telah meninggalkan 'garis-garis tanda berpikir' pada wajah mereka.

Fenomena Office Ageing Foto: Dok. Xiaohongshu




(ami/ami)
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork