Liputan Khusus Pejuang SBMPTN

Pantang Menyerah, Kisah Mahasiswi yang 9 Kali Gagal Lolos Masuk PTN

Gresnia Arela Febriani - wolipop Senin, 21 Jun 2021 10:30 WIB
Foto Nisa Laili Nursyabaana. Foto: Dok. pribadi Nisa.
Kediri -

Bagi kamu yang kecewa dan sedih ketika tak diterima jalur Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), angan berkecil hati dan langsung menyerah begitu saja. Seperti wanita ini yang sembilan kali gagal lolos SBMPTN.

Ialah Nisa Laili Nursya'baana atau biasa dipanggil Nisa yang mengalami gagal ujian masuk PTN favorit pertamanya. Ia menceritakan kilas balik kegagalannya yang berbuah manis dua tahun lalu.

Wanita yang tinggal di Kediri, Jawa Timur itu lulus SMA pada 13 Mei 2019. Pada kelas 10-12 ia sudah mengetahui universitas dan jurusan apa yang akan ditujunya kelak.

Nisa ingin kuliah di jurusan psikologi di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur. Sebab ia ingin menjadi motivator handal. Ia pun mengikuti jalur SNMPTN dan mendapatkan golden ticket.

"Aku awalnya lolos seleksi tahap SNMPTN di sekolah. Aku seneng banget di situ karena udah dapat golden ticket buat masuk di Universitas Brawijaya. Dan ternyata saat di seleksi tahap universitas aku gagal. Aku sedih banget dan kecewa tentunya, ngerasa gagal aja sama usahaku selama ini di SMA," ucap Nisa.

Gagal Masuk Universitas Brawijaya

Gagal masuk Universitas Brawijaya melalui jalur SNMPTN sempat membuat Nisa patah semangat dan kecewa. Namun perasaan kecewa itu tak dibiarkannya berlarut-larut

"Tapi aku tetep berjuang, waktu itu ada jalur SNMPTN tapi di Universitas Islam Negeri Malang. Aku juga coba daftar di situ karena aku berpikir nilaiku selama di SMA nggak boleh sia-sia. Aku pilih jurusan Sastra Inggris dan Manajemen. Kedua jurusan itu sebelumnya nggak terpikir sama sekali di benakku," ucapnya.

Dan beberapa bulan kemudian pengumuman kelulusan datang. Lagi Nisa gagal masuk universitas negeri. Akan tetapi untuk kali ini ia tidak merasa terlalu kecewa. Wanita 20 tahun itu tetap berjuang demi mengejar cita-cita kuliah di PTN. Dia lalu mendapatkan informasi jika Politeknik Negeri juga membuka jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK).

"Jarak pendaftarannya tuh berdekatan gitu jadi nggak ada waktu buat rehat, tanpa pikir panjang aku daftar juga di situ dengan jurusan administrasi bisnis dan bahasa Inggris. Dan beberapa bulan kemudian pengumumannya tiba dan seperti sebelumnya aku gagal," ucap Nisa yang saat SMA mengambil jurusan IPS.

Dan yang lebih membuat ia merasa down saat itu, teman sebangku dan sahabat-sahabatnya diterima masuk kampus negeri. Tak mau bersedih, Nisa langsung mencoba lagi ujian SBMPTN.

"Karena aku belajar dari kesalahan saat SNMPTN, akhirnya aku ganti universitas dan jurusannya. Waktu SBMPTN pertama aku ambil Universitas Brawijaya jurusan psikologi dan Universitas Negeri Malang (UM) jurusan manajemen," kenangnya.

Nisa sengaja mengambil kuliah di Malang, karena sudah sejak kecil ia bercita-cita ingin tumbuh dan berkembang di kota tersebut. Maka dari itu ia berusaha untuk bisa kuliah di Malang.

"Waktu itu tepat 27 April aku melakukan tes pertamaku di universitas impianku dengan rasa deg-degan. Waktu itu bertemu banyak orang dari berbagai wilayah tapi aku terus percaya diri karena selama menjelang tes ini aku udah menyiapkan semua, aku sempet ikut try out, try out online," lanjutnya.

Nisa juga mengikuti Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) selama menuju SBMPTN. Dia juga belajar lewat YouTube. Selain itu ia juga membeli beberapa buku untuk penunjang.

"Setelah aku tes hasilnya nggak langsung keluar. Aku harus nunggu dulu kira-kira kurang lebih sebulanan gitu. Saat pengumuman dan bisa ditebak seperti ceritaku di awal aku gagal lagi, lagi dan lagi," tutur Nisa.

Pada saat itu Nisa merasa letih berjuang. Apalagi melihat beberapa temannya lolos di universitas yang sudah dipilih. Namun semangatnya belum padam, karena pada tahun 2020 SBMPTN dibagi jadi dua sesi, dia merasa masih punya kesempatan.

Selama menunggu tes SBMPTN yang kedua ini, ayah dan ibunya tetap memberikan dukungan. Mereka juga membantunya mencari universitas negeri yang sedang membuka tes.

"Waktu itu aku sempet juga ikut tes tulis di Politeknik Negeri Malang dengan ambil jurusan yang sama kayak PMDK dan seperti biasa aku gagal lagi di ujian itu," kenang Nisa yang sudah berkali-kali gagal.

"Di situ aku sudah merasa kayak bener-bener biasa aja kayak sudah berdamai dengan keadaan. Dan tetap terus berjuang karena aku pengen banget masuk PTN di luar kota aku (Kediri)," tambahnya

Nisa juga ikut tes tulis di Universitas Islam Negeri Malang dengan jurusan yang sama dan lagi-lagi gagal. Selanjutnya Nisa juga ikut lagi SBMPTN kedua dan untuk kali ini, dia pindah arah dan tujuan.

"SBMPTN yang kedua ini aku milih psikologi di Universitas Negeri Malang, sama aku pilih manajemen di Universitas Islam Negeri Malang dan aku pun gagal lagi. Ayah ibuku terus dukung aku terus support dan terus kasih masukan masukan gitu yang bikin aku jadi tenang," ucapnya penuh haru.

Setelah beberapa kali gagal dari tes itu ia langsung intropeksi diri, dari kesalahannya dan juga meminta saran dari teman-temannya yang sudah lolos.

"Di situ aku belum sadar dan belum menemukan apa yang jadi permasalahan aku, yang bisa aku lakuin cuman terus belajar, belajar dan belajar. Setelah semua tes ini kan universitas buka lagi tuh lewat tes jalur mandiri namanya," jelasnya penuh semangat.

Nisa langsung mendaftarkan diri karena banyak yang memberikan dukungan untuknya. Nisa ingat akan impiannya tersebut.

"Aku sempet daftar tes mandiri di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dengan jurusan pilihan ayahku yaitu seni kriya. Nah di sini ini pikiranku mulai dibuka sama ayahku," tambahnya.

Waktu itu ayahnya mengatakan sempat memberikan masukan jika passionnya adalah di bidang seni. Akan tetapi ia tak lolos di UNY. Namun karena waktu itu semua universitas negeri membuka jalur mandiri, Nisa masih ingin mencoba.

"Aku tetap daftar Universitas Islam Negeri Malang dengan jurusan yang sama juga dan alhasil tetap aku ditolak lagi dan waktu itu aku inget PTN di Malang yang masih buka jalur mandiri tinggal politeknik. Aku masih terus berjuang," tuturnya gigih.

Daftar di Universitas Negeri Surabaya (UNESA)

Nisa mengaku setelah mengalami kegagalan berkali-kali, dia sudah merasa capek dan muak dengan soal-soal ujian. Apalagi dia sudah beberapa kali tak lolos. Ia pun pasrah dan mencoba ikhlas. Dia juga sudah mendaftar di kampus swasta.

Namun saat harus mengikuti seleksi masuk universitas swasta, dia tak melanjutkannya. Karena jadwal seleksi bentrok dengan jadwal tes jalur mandiri di Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Ya, Nisa saat itu kembali mencoba peruntungannya di kampus negeri.

"Aku dengan pede menolak universitas swasta itu dan berjuang di UNESA. Padahal aku nggak tahu di situ aku bakalan beruntung atau nggak, aku siap menerima segala risikonya," tegasnya yang merasa sudah yakin.

Untuk pertama kalinya, Nisa mencoba PTN di Surabaya, setelah tujuannya dari awal ingin kuliah di Malang. Dia mencoba tes masuk UNESA untuk memenuhi permintaan sang ibu.

"Di lubuk hatiku yang paling dalam juga masih pengen masuk negeri akhirnya aku daftar, karena sudah beberapa kali tes dan sistem soalnya mirip-mirip aku memutuskan buat baca-baca materi aja. Soalnya aku juga udah capek juga gitu harus tes terus dengan soal yang gitu-gitu dan hasil yang tetep," imbuhnya.

Nisa mendaftar jurusan desain grafis UNESA sesuai masukkan dari ayahnya. Karena pada waktu SMA ia sempat mempelajari software desain dan membuat desain.

"Dan tepat tanggal 9 Agustus 2019, aku inget banget soalnya hari sejarah banget , waktu itu aku lagi ada acara dan tiba-tiba ibuku dapet kabar dari temennya kalau hari itu pengumuman UNESA jalur mandiri," tuturnya.

Ketika melihat pengumuman Nisa awalnya tidak tertarik karena akan gagal lagi. Ternyata perjuangannya membuahkan hasil.

"Waktu itu aku inget banget ngomong gini 'Sudah lah bu paling juga ga lolos lagi' dan ternyata waktu aku buka ada tombol warna hijau dan tulisannya aku lolos, di situ aku bener-bener seneng banget hasil perjuanganku selama ini. Doa-doaku selama ini terjawab dan terbayarkan dan di situ akhirnya aku sadar selama ini aku nggak ngenalin diri aku sendiri," pungkasnya.

Nisa pun bersyukur diterima di jurusan desain Universitas Negeri Surabaya. Ia kini sudah menjadi mahasiswi semester 5 dan menikmati masa-masa perkuliahannya.

(gaf/eny)