Viral Sindiran Dosen ke Mahasiswa yang Lulus 3,5 Tahun Tanpa Pengalaman Kerja

Rahmi Anjani - wolipop Jumat, 23 Agu 2019 15:32 WIB
Foto: iStock Foto: iStock

Jakarta - Cepat lulus jadi tujuan banyak mahasiswa. Ingin segera lepas dari tanggung jawab akademis pun membuat para pelajar ingin segera menuntaskan skripsi untuk dapat gelar S1. Namun lulus kuliah kurang dari empat tahun tak selamanya baik. Dalam sebuah thread di Twitter yang viral, seorang dosen pun mengingatkan jika banyak pengalaman lebih penting dari pada lulus tiga setengah tahun.

Ersa Tri Wahyuni adalah seorang dosen wali yang beberapa waktu mengungkap keresahannya mengenai para mahasiswa. Ersa mengaku bertemu dengan mahasiswa semester tujuh yang tengah mengerjakan skripsi. Ia pun menemukan jika kebanyakan dari mereka miliki IPK bagus tapi sayangnya belum punya banyak pengalaman yang justru lebih berharga untuk masa depan.


"Dek, udah magang di mana? Belum. Dek international exposure-nya apa? Ikut double degree? Exchange? Summer program? Conference di LN (luar negeri)? Udah tes TOEFL? Dijawab geleng semua. Saya gemas," tulisnya dalam rangkaian tweet yang telah dibagikan ratusan kali dan disukai ribuan kali.

Ia pun lanjut menulis bahwa percuma jika lulus tiga setengah tahun tapi CV-nya kosong alias tidak ada pengalaman kerja. Sedangkan menurut Ersa semua orang bisa punya IPK bagus. "Pas ngelamar kerja nih yeee... kagak ada yang peduli kamu lulus 4 tahun atau 3.5 tahun. Kagak ngaruh. Kamu gak bakalan dipandang hebat hanya karena lulus 3.5 tahun. Buat apaan lulus cepet tapi miskin pengalaman, miskin international exposure? Persaingan makin ketat cuuuyyy," ungkapnya dengan bahasa yang santai.

Menurutnya, mahasiswa perlu paling tidak magang sebagai pengalaman kerja hingga memiliki 'international exposure'. Dikatakan jika banyak universitas punya MoU untuk pertukaran mahasiswa di luar negeri untuk satu semenster yang gratis.

"Mahal bu kuliah di LN,". Iihh sotoy!! Exchange mah biasanya gratis. Kamu makan nge-kost deket kampus gak jauh beda sama biaya makan dan ngekost di Malaysia, Turki, Perancis, dll. Dasarnya aja kamu mah males cari info. Pengen lulus cepet mau ngapain sih? Mau nikah ya?,"

Ersa pun mengibaratkan mahasiswa yang cepat lulus dengan buah mangga belum matang. "Kamu tahu buah mangga? Kalau mau manis ranum wangi harus sabar, gak bisa dipetik sebelum waktunya. Kalau dipetik mentah cuma bisa jadi mangga rujak, sekilo 10 ribu. Mangga mateng pohon sekilo 30 ribu. Kamu mau jadi mangga mateng apa mangga mentah?," lanjutnya.

Lulus cepat tentu dipersilahkan namun menurut Ersa sebaiknya diiringi dengan ikut magang, pertukaran mahasiswa, konferensi, seminar, membuat tulisan yang dimuat, dan punya nilai TOEFL tinggi. Ia pun menganjurkan agar para pelajar universitas memanfaatkan status mereka untuk menimba pengalaman.

"Kalian itu gak paham ya. Selama kalian berstatus "mahasiswa", banyak fasilitas yg bisa kalian maksimalkan. Kalau nanti udah lulus, pengen nyicipin kuliah 6 bulan di LN gratis gak bayar tuition fee, emangnya biiissaaaa?,"

"Kalau kalian udah lulus, pengen ikut kompetisi ini itu ke LN, conference di LN sama dosbing, emangnya bisa? Pengen ikutan exhibition sen ke LN bareng UKM Angklung, paduan suara, seni tari, dsb, emang bisa? Udah gak bisa lagi kan? Makanya maksimalkan selama bisa," tulis dosen akuntan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjajaran.

Terakhir, Ersa menegaskan bahwa ia tidak mendeskreditkan orang yang lulus kuliah cepat namun hanya berpesan mulai menyusun masa depan dengan memanfaatkan masa kuliah. Kecuali ada desakan untuk segera mencari pekerjaan, lebih baik kuliah pas waktu sambil mengisi CV dengan pengalan-pengalaman berharga.


Simak Video "Benda Harian Disulap Jadi Gaun Ciamik, Seperti Apa Sih?"
[Gambas:Video 20detik]
(ami/ami)